Selasa, 07 Mei 2013

PEMAHAMAN WAHYU PASAL 6




KITAB  WAHYU
Pasal 6

Enam meterai yang pertama


Ini adalah kelanjutan dari pasal sebelumnya. Tidak ada jeda waktu. Sekarang, setelah Domba itu mengambil gulungan kitab dari tangan Allah Bapa, maka dibukaNyalah satu demi satu meterainya. Kita ingat bahwa angka 7 itu mewakili kesempurnaan, kelengkapan, keseluruhan. Berarti gulungan kitab itu berisikan rangkuman semua pengalaman umat Allah, tentunya hanya seputar peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan Kekristenan dari zaman munculnya era Kristen hingga kedatangan Kristus yang kedua.

 

Di kitab Wahyu, Tuhan memberikan tiga seri rangkuman yang meliputi kurun waktu yang sama, yaitu dari masa apostolik (masa rasul-rasul Yesus, abad pertama Masehi) hingga akhir zaman.  Jadi ketiga seri tersebut bicara tentang periode yang sama, yaitu periode Perjanjian Baru, dari zaman apostolik hingga kedatangan kedua Kristus, tetapi fokus topiknya berbeda, yaitu:

Ø  Seri Tujuh Sidang/Jemaat

Ø  Seri Tujuh Meterai

Ø  Seri Tujuh Terompet

Seri Tujuh Sidang/Jemaat sudah kita lewati saat membahas Wahyu pasal 2 dan 3.

Wahyu pasal 4 dan 5 adalah pengantar kepada Seri Tujuh Meterai, itu memberikan latar belakang adegan di Surga pada saat Ketujuh Meterai mulai dibuka satu per satu.

 

Kita harus cermat saat meneliti tulisan dalam Alkitab. Karena sumber penulisan Alkitab itu adalah satu, yaitu berasal dari Tuhan, maka semua kitab itu isinya saling melengkapi, saling menguatkan. Tidak ada yang bertentangan satu sama lain walaupun tangan yang menulisnya berasal dari orang-orang yang berbeda dan terpisah oleh jangka waktu yang lama.

Di pasal 5 kita sudah melihat Domba itu mengambil gulungan kitab dari tangan Allah Bapa, berarti di manakah posisiNya? Di hadapan Allah Bapa.

Kita ingat dari pembahasan Daniel pasal 8 dan 9, bahwa Kristus memasuki bilik yang Mahasuci dari Ka’abah yang di Surga pada tahun 1844, tepatnya 22 Oktober 1844. Tetapi di Wahyu pasal 6 ini, Dia masih ada di hadapan Allah Bapa, akan membuka meterai gulungan kitab yang ada di tanganNya. Jadi kesimpulannya, kita bisa menempatkan SEMUA PERISTIWA YANG AKAN TERJADI DENGAN DIBUKANYA KEENAM METERAI YANG PERTAMA DI SINI HARUSLAH TERJADI SEBELUM KRISTUS MASUK KE TEMPAT MAHASUCI DARI KA’ABAH DI SURGA, dengan kata lain, SEBELUM 22 Oktober 1844.

 

Jika seri Tujuh Sidang/Jemaat fokus pada perjalanan dan perubahan/perkembangan ajaran/doktrin Allah dalam gereja Allah mulai dari zaman rasul-rasul hingga kedatangan kedua Kristus, maka seri Tujuh Meterai ini fokus pada perjalanan umat Allah selama periode yang sama. Jadi kita akan melihat bagaimana umat Allah mengalami perubahan dari zaman ke zaman hingga akhirnya.

 

 

 

 

METERAI PERTAMA

 

6:1          Maka aku melihat ketika Domba itu membuka yang pertama dari ketujuh meterai itu, dan aku mendengar satu dari keempat makhluk hidup itu berkata dengan suara bagaikan bunyi guruh: ‘Kemari dan lihatlah!’

6:2          Dan aku melihat, dan tampaklah seekor kuda putih. Dia yang menungganginya memegang sebuah busur; dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Dan dia keluar untuk mendapatkan kemenangan dan untuk menaklukkan.

 

v   Begitu meterai yang pertama dibuka maka salah satu dari kerub atau makhluk hidup itu menyuruh Yohanes melihat.

 

v   “Kuda putih” ~ warna putih menandakan kesucian, kemurnian, kebersihan, kebenaran.

Kuda sendiri merupakan simbol peperangan karena pada zaman dulu kuda adalah binatang yang dipakai untuk berperang. Karena di sini kudanya berwarna putih, maka semuanya masih murni, tidak terpolusi, dan peperangan yang dilakukannya adalah peperangan kebenaran, seperti yang digambarkan oleh:

Wahyu 19:11

Lalu aku melihat sorga terbuka dan lihatlah, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama ‘Yang Setia dan Yang Benar’, dan dalam kebenaran Ia menghakimi dan berperang.

 

Kita di sini hanya mengambil persamaan “kuda putih”nya saja, karena penunggang di  Wahyu 19:11 ini berbeda dengan yang di ayat Wahyu 6:2. Tetapi kudanya sama kuda putih, melambangkan peperangan kebenaran.

 

v    Dia yang menungganginya memegang sebuah busur” ~

Alkitab LAI menulis “panah”, tapi kata aslinya adalah τόξον [tox'-on] yang diterjemahkan “busur” dalam bahasa Inggrisnya, bukan “panah.”

Mengapa hanya ada busur tidak disebutkan panahnya? Mungkinkah karena panahnya sudah habis dipakai semua sehingga tidak ada yang tersisa? Karena dikatakan berikutnya bahwa dia sudah mendapat mahkota, berarti penunggang kuda putih itu sudah menyelesaikan tugasnya. Panahnya sudah dipakai semua.

 

v   “kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota” ~

“mahkota” di sini bahasa aslinya adalah “stephanos” yang artinya “garland” yang biasanya dipakaikan kepada seorang yang telah memenangkan suatu pertandingan.  Bukan mahkota yang dipakai seorang raja yang bahasa aslinya disebut “diadeem”. Dengan demikian jelaslah bahwa yang menunggang di atas kuda putih ini adalah gereja Tuhan yang mula-mula, orang-orang Kristen awal, yang telah memenangkan pertandingannya, seperti kata Paulus di:

     2 Timotius 4:7-8

7 Aku telah mengakhiri pertarungan yang baik, aku telah menyelesaikan pertandingannya dan aku telah memelihara iman. 8 Akhirnya telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari itu; dan bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

 

v   “keluar untuk mendapatkan kemenangan dan untuk menaklukkan” ~  

Penunggang kuda putih ini yang melambangkan gereja apostolik, gereja Kristen yang mula-mula itu sangat berhasil dalam penginjilan. Kita tahu betapa cepatnya injil di abad-abad pertama menyebar ke seluruh dunia berkat kerja keras mereka. Kata Paulus di Kolose 1:23:

Jika kamu benar-benar bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak goyah, dan kamu tidak  bergeser dari pengharapan injil yang telah kamu dengar, yang telah dikabarkan kepada setiap makhluk di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

 

v   Periode yang dilambangkan oleh kuda putih ini adalah periode penginjilan para Rasul, dari tahun 31 – 100 AD,

Inilah periode yang sama yang diuraikan dalam Wahyu 2:1 dalam surat kepada jemaat Efesus. Periode ketika injil yang diberitakan masih dalam bentuknya yang murni, belum terpolusi. Namun karena lawan yang mereka hadapi bukanlah manusia biasa, seperti kata Paulus di Efesus 6:12,

Karena kita tidak bergumul melawan darah dan daging, tetapi melawan   pemimpin-pemimpin, melawan penguasa-penguasa, melawan pemerintah -pemerintah kegelapan masa kini, melawan balatentara roh-roh jahat di langit.

maka  Tuhan sudah memberikan gambaran, bahwa seluruh sejarah penginjilan ini merupakan peperangan melawan Setan dan pengikut-pengikutnya. Dan tak pelak lagi, di kemudian hari, gereja Tuhan yang murni ini akan terperosok ke dalam jebakan Setan.

 

 

 

 

METERAI KEDUA

 

6:3          Dan ketika Domba itu membuka Meterai Kedua, aku mendengar makhluk hidup yang kedua berkata: ‘Mari dan lihatlah!’

6:4          Seekor kuda lain, yang merah, keluar,  dan orang yang menungganginya dikaruniai kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga manusia akan saling membunuh.  Dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar.

 

v   Ketika meterai yang kedua dibuka oleh Yesus, maka kerub yang kedua pun mengajak Yohanes untuk melihat.

 

v   Kuda yang kedua berwarna merah”.

Merah adalah warna darah, lambang persekusi. Maka Tuhan mengamarkan bahwa pada periode berikutnya setelah kuda putih itu, gereja Tuhan akan menghadapi persekusi. Kuda yang tadinya putih bersih menaklukkan dan mendapatkan kemenangan, sekarang berwarna merah, berdarah-darah. Mengapa ada persekusi? Karena Setan tidak tinggal diam. Melihat kemajuan penyebaran agama Kristen di masa apostolik, maka Setan membangkitkan persekusi.

 

v   Dan ada “sebilah pedang yang besar” yang dibawa oleh penunggangnya. 

Dan si penunggang kuda itu “dikaruniai kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi”. Maka gereja Tuhan mengalami persekusi, penganiayaan, dan korban berjatuhan. Yang tadinya penuh sukacita mengikuti Kristus, sekarang menghadapi penuh masalah.

 

v   Jika kita ingat surat Kristus kepada jemaat Smirna (Wahyu 2:8), kita menjumpai kondisi yang sama.

Jemaat Smirna adalah jemaat (gereja) yang pertama harus berurusan dengan Iblis yang membuat hidup mereka penuh pederitaan. Iblis menggunakan tangan raja-raja Roma untuk melancarkan penganiayaan. Yang paling parah adalah dari tahun 303-313 AD pada masa pemerintahan Diocletian.

Sejarah mencatat bahwa Constantine bersama ayahnya tadinya mengabdi kepada Diocletian. Dia menyaksikan penganiayaan dan penyiksaan yang luar biasa dilancarkan kepada orang-orang Kristen pada tahun 303 AD. Pada 1 Mei 305 AD, Diocletian lengser, dan digantikan oleh Galerius.  Menyadari bahwa nyawanya terancam, tak lama setelah itu Constantine melarikan dirinya bergabung dengan ayahnya. Setelah ayahnya meninggal, Constantine  mengangkat dirinya sebagai raja, dan diterima oleh Galerius. Secara sah Constantine mendapat titel Augustus pada tahun 306 AD dan berkuasa hanya atas ¼ daerah kerajaan Roma pada waktu itu. Pada tahun 313 AD Constantine mengeluarkan suatu Perjanjian di Milan yang memberikan toleransi kepada orang-orang Kristen dan mengizinkan mereka yang mau, boleh pindah secara resmi menjadi pemeluk agama Kristen tanpa dipersekusi lagi. Untuk sementara, penganiayaan dan pengejaran terhadap gereja Tuhan pun berhenti.

 

v   Periode yang disimbolkan oleh kuda merah ini adalah dari 100-313 AD, sama seperti periode jemaat Smirna.

 

v   Maka melihat dua meterai yang pertama itu membagi periode gereja Tuhan sama dengan yang tertulis dalam ketujuh surat kepada ketujuh jemaat di Wahyu pasal 2 dan 3, kita sudah bisa menyimpulkan, yang berikutnya akan mengikuti pola yang sama.

 

 

 

 

METERAI  KETIGA

 

6:5          Dan ketika Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk hidup yang ketiga berkata: ‘Datang dan lihatlah!’ Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya.

6:6          Dan aku mendengar suara di tengah-tengah keempat makhluk hidup itu berkata: ‘Secupak gandum untuk sedinar, dan tiga cupak jelai untuk sedinar. Dan janganlah rusakkan minyak dan anggur itu.’

 

v   seekor kuda hitam” ~

Warna hitam adalah kebalikan/lawan dari warna putih. Kalau warna putih melambangkan kesucian, kebenaran, kemurnian, maka warna hitam melambangkan yang sebaliknya. Segala yang najis, segala yang sesat/palsu, segala yang kotor. Maka di sini jelas bahwa gereja Tuhan sudah menunggang [duduk di atas] ajaran [kuda] yang sesat/salah/tidak benar. Inilah saatnya gereja mulai berkompromi dengan ajaran-ajaran sesat paganisme. Dari mana datangnya ajaran-ajaran paganisme bisa masuk ke dalam gereja? Maka kita harus melihat kembali ke pembahasan Sidang yang ketiga, yaitu Sidang Pergamus, dan kita bisa melihat bagaimana paganisme menginfiltrasi gereja Tuhan.

 

v   “memegang sebuah timbangan di tangannya” ~

Timbangan di dalam Alkitab dipakai untuk menggambarkan:

1.     Perdagangan/jual-beli

Yeremia 32:9

Dan aku membeli ladang Hanameel, anak pamanku yang di Anatot, dan menimbang uang baginya, yaitu tujuh belas syikal perak.

 

2.     Korupsi

Hosea 12:7

Dia seorang pedagang, timbangan  palsu ada di tangannya, dia suka menindas.

 

Amos 8:5   

Yang mengatakan, ‘Kapan bulan baru ini berlalu, supaya kami boleh menjual jagung? Dan hari Sabatnya, supaya kami boleh menawarkan gandum, membuat efanya kecil, dan syikalnya besar, dan memalsukan timbangan dengan penipuan?

 

3.   Penghakiman

Daniel 5:27

Tekel: engkau ditimbang di neraca, dan didapati kurang.

 

Menurut  sejarah, pada masa ini agama dikomersialkan karena gereja yang sesat sudah menjadi serakah. Gereja membuatnya sedemikian rupa sehingga orang-orang harus membayar/mengeluarkan uang untuk membeli keselamatan. Semua pelayanan di gereja harus dibayar, misalnya untuk dibaptiskan, untuk diteguhkan [confirmation], untuk dinikahkan, untuk dikuburkan, untuk didoakan [dalam misa],  bahkan untuk mendapatkan pengampunan dosa pun orang harus membayar! Dan itu menjadi sumber pemasukan yang besar bagi pengurus-pengurus gereja.

 

Selain itu, gereja juga menjual barang-barang “keramat”, tulang-belulang orang-orang yang dianggap suci. Banyak katederal yang mengaku memiliki barang-barang peninggalan ini, seperti jari-jari tangan yang katanya berasal dari tangan para Rasul, potongan dari kayusalib Kristus, rambut Bunda Maria, hingga bagian dari kepala Yohanes Pembaptis. Di buku A Laymen’s History of the Church of England” hal. 47-49 dikatakan bahwa gereja Canterburry mengungguli dalam hal kepemilikan barang-barang peninggalan ini. Sekitar tempat pemujaan St. Thomas dikatakan ada 12 kerangka komplet orang-orang yang disucikan, 3 tengkorak, 4 tulang lengan dan 300 tulang paha, tulang jempol, gigi, dan tulang rahang. Juga kata mereka, secuil dari palungan Betlehem dan tempat tidur sang Perawan, dan bagian dari meja perjamuan akhir. Juga ada tongkat Harun yang bertunas dan yang lebih mengagumkan lagi ialah tanah liat yang katanya dipakai Tuhan untuk membentuk Adam!

Pada waktu itu gereja juga memberikan janji-janji palsu kepada mereka yang menghormati barang-barang “keramat” itu. Salah satunya adalah remisi dari api pencucian untuk jangka waktu yang lama.

 

Timbangan juga melambangkan penghakiman. Tuhan sedang menimbang mereka dan jika didapati mereka kurang beratnya akhirnya Tuhan pun akan menolak mereka.

Hosea 4:6

Umat-Ku binasa karena kurangnya pengetahuan (tentang Allah); karena engkau telah menolak pengetahuan, Aku juga akan menolak engkau, bahwa engkau tidak menjadi imam-Ku; karena engkau telah melupakan Hukum Allahmu, Aku juga akan melupakan anak-anakmu.

 

v   “suara di tengah-tengah keempat makhluk hidup” ~

Ingat, keempat makhluk hidup adalah kerub-kerub, malaikat tinggi Allah? Berarti itu perintah dari Surga, bukan si penunggang kuda [=gereja] yang bicara. Apa perintah dari Surga ini? “Secupak gandum untuk sedinar, dan tiga cupak jelai untuk sedinar.”

Di sini dipakai takaran yang dikenal pada zaman itu. Satu dinar adalah upah satu hari bagi seorang pekerja. Ini menggambarkan kondisi di mana makanan pada waktu itu sangat mahal, dan dengan sendirinya terjadi kekurangan/ kelangkaan makanan dan kondisi kelaparan. Karena di sini Tuhan berbicara tentang kondisi spiritual, maka tentu saja kelangkaan makanan yang dinubuatkan bukanlah kelangkaan makanan secara harafiah, melainkan secara rohani. Pada zaman itu terjadi kelangkaan/kelaparan makanan rohani.  Kebenaran Tuhan tidak lagi diajarkan dan diganti dengan segala macam ajaran yang salah.

 

v   “janganlah rusakkan minyak dan anggur” ~

Artinya si penunggang kuda hitam itu [gereja]  tidak diberi izin untuk merusak kedua item itu, yang  masih tetap dipelihara Tuhan. Apakah yang dilambangkan oleh minyak dan anggur”?

 

Minyak dipakai untuk melambangkan pencerahan/penerangan dari Roh Kudus. Kita ingat parabel 5 anak dara yang bodoh yang tidak membawa minyak tambahan dalam Matius 25:1-13. Kelima anak dara yang bodoh itu sebenarnya sama dengan kelima anak dara yang bijaksana, yaitu mereka:

Ø    sama-sama adalah anak dara [artinya mereka memeluk ajaran yang murni/bukan ajaran yang sesat],

Ø    sama-sama membawa pelita [artinya mereka kenal Firman Tuhan, pasti mereka belajar Alkitab],

Ø    sama-sama pelitanya menyala [artinya mereka juga menghidupkan Firman Tuhan, aktif melayani Tuhan],

Ø    sama-sama menunggu [artinya mereka sadar bahwa Kristus akan segera datang lagi, mereka bukan orang yang tidak perduli],

Ø    sama-sama tertidur [artinya mereka sama-sama capek menunggu sehingga tidak waspada lagi].

Bedanya hanya satu, yang bijaksana membawa minyak cadangan, sedangkan yang bodoh, tidak. Yang bodoh tidak mempunyai penerangan tambahan dari Roh Kudus, karena itu mereka belum meninggalkan semua dosa, mereka belum memiliki karakter Kristus, proses pengudusan mereka macet, mereka tidak siap untuk menjadi warga kerajaan Allah, ketika Sang Mempelai tiba, mereka tidak siap menyambutNya.

 

Sedangkan anggur dipakai untuk melambangkan ajaran/doktrin. Dalam hal ini tentunya ajaran/doktrin yang benar.

Ulangan 32:32-33

32 Karena pohon anggur mereka adalah pohon anggur dari Sodom dan dari kebun-kebun Gomora; buah anggur mereka adalah buah anggur yang beracun, gugusan-gugusannya pahit. 33 Air anggur mereka adalah racun dari naga, dan bisa jahat ular kobra.

 

Jadi walaupun masa itu adalah masa kegelapan secara spiritual [terjadi kelaparan spiritual], namun Tuhan tetap menjaga agar penerangan dari Roh Kudus dan ajaran/doktrin yang benar tidak lenyap semuanya. Dalam setiap zaman, Tuhan selalu memeliharakan sejumlah umatNya walaupun mereka diburu untuk dimusnahkan, namun selalu masih ada umat Tuhan yang tersisa untuk melanjutkan pekerjaan penyebaran injil keselamatan.

 

v   Periode yang disimbolkan oleh kuda hitam ini adalah dari 313-538 AD, sama seperti periode jemaat Pergamus dari Wahyu pasal 2.

Di era itu kondisi spiritual menjadi gelap, pemimpin-pemimpin gereja menjadi korup, ajaran/doktrin yang sesat menggantikan kebenaran Tuhan, terjadi kelaparan rohani. Banyak tradisi dan takhayul pagan mulai diperkenalkan ke dalam perbaktian gereja Kristen sehingga sedikit demi sedikit ajaran yang murni tergerus oleh yang palsu, dan gereja berubah haluan dari gereja Tuhan menyeberang ke pihak lawan.

 

 

 

 

METERAI  KEEMPAT

 

6:7          Dan ketika Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar suara makhluk hidup yang keempat berkata: ‘Mari lihatlah!’

6:8          Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda pucat dan yang menungganginya bernama Maut, dan kubur (Hades) mengikutinya.  Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dengan kelaparan dan kematian, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi.

 

v   “seekor kuda pucat” ~

Dibukanya meterai yang keempat memperkenalkan seekor kuda yang lain. Dalam terjemahan bahasa Indonesia disebutkan “kuda hijau kuning” dan mungkin ini membuat kita membayangkan warna jeruk nipis, hehehe. Tetapi bahasa aslinya memakai kata  χλωρός   [chloros] yang menggambarkan warna hijau kelabu pucat, atau rona orang yang sakit parah menjelang ajalnya.

 

v   “yang menungganginya bernama Maut” ~

Ini cocok dengan kudanya yang berwarna kulit orang yang sekarat. Jadi baik kudanya maupun penunggangnya berbau kematian. Bahkan disebutkan kubur (Hades) mengikutinya”. Jadi aroma kematian sangat mendominasi di era ini. Tentunya ini mudah dimengerti bahwa pada periode segala yang berbau kematian ini, akan terjadi banyak sekali kematian yang tidak wajar karena Maut sedang menjelajah di mana-mana, dan korbannya sebegitu banyak sampai dikatakan kubur (Hades) mengikutinya”.

 

v   “kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh” ~

Lihat, begitu luasnya daerah yang dijelajahi Maut ini, seperempat jumlah penduduk bumi yang dikenal pada saat itu, akan menjadi korbannya!

 

v   “dengan pedang, dengan kelaparan dan kematian, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi” ~ 

Lalu Tuhan dengan jelas memberi petunjuk bagaimana korban-korban itu akan mati. Keterangan ini sudah sangat jelas menunjuk ke zaman kekuasaan Kepausan ketika Kepausan dengan meminjam tangan raja-raja, membunuh semua yang berani menentangnya dengan segala cara, di antaranya yang terkenal adalah pada masa Inquisisi di mana jutaan orang dibunuh karena tidak mau tunduk kepada Kepausan. Berapa orang yang mati karena pedang, atau dijebloskan ke ruang-ruang tahanan yang pengap dan kotor dan dibiarkan mati oleh kelaparan dan penyakit menular, belum lagi mereka yang disodorkan sebagai makanan binatang-binatang buas dan lain-lain.

 

v   Maka periode yang dilambangkan oleh kuda berwarna kematian ini adalah dari 538–1517  dari saat Kepausan berkuasa tanpa ada lagi yang menentangnya hingga zaman Reformasi Luther dan kawan-kawannya.

 

 

 

 

METERAI  KELIMA

 

6:9          Dan ketika Domba itu membuka Meterai yang Kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena Firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.

6:10        Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: ‘Sampai berapa lamakah lagi, ya, Tuhan, yang kudus dan benar, hingga Engkau  menghakimi dan membalaskan darah kami kepada mereka  yang diam di bumi?’

6:11        Lalu kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka, digenapi.

 

v   Kita tahu bahwa empat meterai yang pertama, menggambarkan keadaan di atas bumi.

Maka meterai yang kelima pun tetap menggambarkan keadaan di atas bumi. Ada orang yang berpendapat bahwa adegan pada pembukaan meterai kelima ini terjadi di Surga, dan yang dilihat Yohanes itu adalah arwah-arwah orang yang sudah mati di Surga, tetapi itu tidak benar, itu tidak alkitabiah.

 

v   “jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena Firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki” ~

Ingat kitab Wahyu banyak berisikan simbol, jadi ini juga simbol. Para martir dilukiskan sebagai korban yang dipersembahkan di mezbah. Nah, di mana mereka dipersembahkan sebagai korban? Di dunia. Mezbah kurban tidak ada di Surga, mezbah kurban hanya ada di bumi. Jadi ini tidak bicara tentang arwah-arwah atau roh-roh para martir di Surga minta pembalasan. Ini menggambarkan saat kematian mereka di dunia, ketika mereka dibunuh.

Supaya tahu, di Surga tidak ada mezbah untuk mempersembahkan kurban. Di Surga hanya ada mezbah dupa, tempat Yesus mempersembahkan doa umatNya kepada Allah Bapa atas namaNya yang dicampur dengan harum dupa jasa pengorbanan Yesus.

 

v   Alasan lain mengapa ayat ini tidak menggambarkan arwah atau roh para martir ialah,

pada waktu Yohanes melihat adegan itu (itu sebelum tahun 100AD), korban-korban itu belum mati, mereka bahkan belum lahir. Mereka adalah korban-korban Kepausan dari meterai keempat, yang masih akan terjadi beberapa ratus tahun lagi dari zaman Yohanes. Jadi Yohanes bukan melihat arwah-arwah orang yang sudah mati, melainkan dia melihat ke masa depan ke tahun 538-1798, ke umat Allah yang kelak akan dibunuh di zaman kejayaan Kepausan.

 

v   “jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh” ~

Kata “jiwa” itu diterjemahkan dari bahasa Inggrisnya soul, yang bahasa Ibraninya נֶפֶשׁ [nephesh] dan bahasa Greekanya ψυχή [psuchē], terjemahan bahasa Indonesia yang paling tepat untuk itu ialah “pribadi”.

Istilah “soul” ini sering kita dapatkan di dalam Alkitab dan dipakai dalam pengetian “manusia” atau “orang”, bukan arwah orang mati, misalnya di:

Bilangan  19:22

Dan apa pun yang disentuh orang yang najis itu, akan menjadi najis; dan orang (soul = נֶפֶשׁ [nephesh] yang menyentuhnya akan menjadi najis sampai matahari terbenam.

 

Kisah  2:41

Lalu orang-orang yang menerima perkataannya dengan sukacita  dibaptiskan dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (souls = ψυχή [psuchē] Artinya 3’000 orang.

 

Jadi kata “soul” yang di Wahyu 6:9 diterjemahkan “jiwa” itu bukan arwah orang mati! Itu artinya “orang”.

Ungkapan Yohanes melihat “jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh merupakan suatu metafor. Yang dimaksud adalah Yohanes melihat ke depan, ke orang-orang yang akan dibunuh berkumpul di bawah mezbah. Dan mereka berteriak minta keadilan.

 

v   “kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih” ~

Mereka adalah umat Allah yang tidak mencemarkan dirinya dengan ajaran yang salah, yang setia sampai akhir, bahkan sampai mati dibunuh karena Injil dan kesaksian mereka, maka mereka  mendapat jubah putih (Wahyu 2:17; 3:5).

ü   Jubah putih kebenaran Kristus (jubah spiritual)

itu diberikan kepada kita pada waktu kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

ü   Tetapi jubah putih yang literal (jubah terang)

hanya diberikan setelah Kristus datang ke dunia kedua kalinya untuk menjemput umatNya. Jadi pemberian jubah putih yang literal ini masih di masa depan, saat semua umat tebusan sudah dibangkitkan atau diubahkan, pada saat itu mereka mendapat tubuh baru yang tidak bisa mati, dan jubah putih yang literal.

 

v   “mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi” ~

Di mana mereka beristirahat? Di kubur bukan di Surga! Ingat kan tidak ada orang mati yang ke Surga sebelum Yesus datang untuk menjemput mereka pada kedatanganNya yang kedua. Mereka semua masih di kubur, jasadnya sudah menyatu dengan tanah.

Yohanes 14:2-3

2 Di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku sudah mengatakannya kepadamu. Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. 3 Dan apabila Aku pergi dan menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali, dan menerima kamu kepada Diriku Sendiri, supaya di mana Aku berada, kamu pun boleh berada.

 

v   Amaran apa yang kita dapat dari kalimat berikut ini?

“mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka, digenapi”

Jelas bahwa setelah pembunuhan orang-orang yang dilihat Yohanes di bawah mezbah itu (yang akan terjadi dari tahun 538-1798), masih akan terjadi  lagi penganiayaan dan pembunuhan yang berikutnya atas umat Allah. Setelah itu baru kematian para martir ini dibalaskan. Jadi teman-teman, jika kita umat Tuhan yang setia, dan jika kita berumur panjang, kita akan mengalami satu kali lagi masa penganiayaan dan persekusi yang keras atas umat Allah.

 

v   Bagi yang sudah mempelajari Nubuatan Daniel,

tentunya tahu bahwa sebelum peristiwa kebangkitan yang pertama yang bersamaan dengan kedatangan Kristus yang kedua kalinya, akan ada dua masa penganiayaan atas umat Allah terlebih dahulu (lihat Dan 12:2, 7). Maka Wahyu 6:11 ini juga menyebut tentang dua masa penganiayaan tersebut.

ü   Yang pertama terjadi saat dibukanya meterai keempat,

yang korban-korbannya tampak oleh Yohanes berkumpul di bawah mezbah. Dan ini digenapi dari tahun 538-1798, masa kejayaan Kepausan.

ü   dan setelah itu akan terjadi lagi masa penganiayaan yang kedua

sedikit waktu sebelum kedatangan kedua Kristus, oleh Binatang Wahyu 13 yang nanti akan kita pelajari.

Walaupun yang menulis nubuatan itu adalah dua orang yang berbeda [Daniel dan Yohanes] yang dipisahkan oleh rentang waktu sekitar 700 tahun, dan dari tempat yang berbeda [Daniel di Babilon/Medo-Persia dan Yohanes di P. Patmos], namun pesannya sama, yaitu: umat Allah Perjanjian Baru harus mengalami dua kali masa penganiyaan sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

 

v   Periode yang dilambangkan oleh meterai kelima ini terjadi menjelang akhir dari periode meterai yang keempat,

yaitu dimulai saat kebangkitan Reformasi Luther (sekitar 1517) hingga 1798. Selama beberapa abad, Alkitab telah menghilang dari akses orang-orang beragama. Tetapi dengan munculnya kebangkitan Reformasi Protestan, injil keselamatan yang tadinya sudah terpolusi oleh segala ajaran yang salah, mulai diperkenalkan lagi kepada masyarakat walaupun dengan harga yang mahal, yaitu pengorbanan nyawa pionir-pioner Reformasi yang mati sebagai martir.

 

 

 

 

METERAI  KEENAM

 

6:12        Maka aku melihat, ketika Domba itu membuka meterai yang keenam, dan lihatlah, terjadi gempa bumi yang dahsyat; dan matahari menjadi hitam bagaikan goni dari bulu hitam,  dan bulan menjadi bagaikan darah.

6:13        Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menjatuhkan buah-buahnya yang hijau ketika ia digoncang angin yang kencang.

 

v   Kita bandingkan ayat-ayat di atas dengan apa kata Yesus di:

Markus 13:24-25

24 Tetapi di zaman itu, sesudah masa kesukaran, matahari akan digelapkan dan bulan tidak akan bercahaya. 25 dan bintang-bintang di langit akan berjatuhan, dan kuasa-kuasa langit akan goncang.

 

Matius 24:29

Segera sesudah masa kesukaran pada waktu itu, matahari akan digelapkan dan bulan tidak akan bercahaya, dan bintang-bintang akan jatuh dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan terguncang.

 

Yesus mengatakan bahwa setelahmasa kesukaran” artinya setelah masa penganiayaan terhadap umat Allah itu, akan terjadilah tanda-tanda di langit sama seperti yang disebutkan di Wahyu 6:12-13 di atas.

Seperti yang sudah kita ketahui dari nubuatan Daniel dan Wahyu, Kepausan diberi waktu 1260 tahun untuk berjaya dan menganiaya umat Tuhan. Masa kesukaran yang pertama bagi umat Perjanjian Baru terjadi dari 538-1798 (1260 tahun).  Di sini Matius dan Markus mengatakan bahwa tanda-tanda pada matahari, bulan, bintang, dan kuasa langit itu terjadi sesudah masa kesukaran” berarti pasti setelah tahun 538, tidak mungkin sebelumnya dan masa kesukaran itu resmi berakhir di 1798 saat Paus Pius VI ditangkap Jenderal Berthier pemimpin pasukan Napoleon Bonaparte, dan ditahan sampai meninggal di pengasingan, tetapi sebelum itu kekuasaan Kepausan sudah mengalami kemunduran dan persekusi sudah sangat berkurang. Jadi tanda-tanda itu terjadi menjelang berakhirnya secara resmi masa kesukaran yang pertama.

 

v   “gempa bumi yang dahsyat” ~

Ada ribuan kali gempa bumi yang sudah terjadi di ribuan tempat di seluruh dunia. Tetapi yang dibicarakan di sini adalah gempa bumi yang terjadi pada tanggal 1 November 1755, sejarah mencatat telah terjadilah gempa bumi dahsyat, meliputi sedikitnya 10’360’000 kilometer persegi, mengguncang sebagian besar Eropa, Afrika dan Amerika. Bisa dilihat di internet tentang gempa bumi akbar ini. Lisbon (Portugal) yang tadinya berpenduduk 150.000 jiwa, kehilangan 90.000 warganya dalam hitungan menit. Kerusakan paling parah terjadi di Spanyol, Portugal dan Afrika Utara, tetapi Eropa hingga Hindia Barat pun mengalami guncangannya pada hari yang sama.

 

Menurut tulisan Robert Sears dalam Wonders of the World,  dikatakan bahwa:

“The great earthquake of 1755 extended over a tract of at least four millions of square miles. Its effects were  even extended to the waters, in many places where the shocks were not perceptible. It pervaded the greater portions of the continents of Europe, Africa, and America; but its extreme violence was exercised on the southwestern part of the former.” (hal. 50)

“In Africa, this earthquake was felt almost as severely as it had been in Europe. A great part of the city of Algiers was destroyed. Many houses were thrown down at Fez and Mequinez, and multitudes were buried beneath their ruins. Similar effects were realized in Morocco. Its effects were likewise felt at Tangier, at Tetuan, at Funchal in the Island of Madeira; ... it is probable... that all Africa was shaken by this tremendous convulsion. At the North, it extended to Norway and Sweden; Germany, Holland, France, Great Britain, and Ireland were all more or less agitated by the same great and terrible commotion of the elements.” (hal. 58).

 

A.R. Spotford dan Chales Gibbon menulis dalam The Library of Choice Literature Vol. VII hal 162-163:

“In no part of the volcanic region of Southern Europe has so tremendous an earthquake occurred in modern times as that which began on the 1st of November, 1755, at Lisbon... In the course of about six minutes, sixty thousand persons perished... The great area over which this Lisbon earthquake extended is very remarkable. The movement was most violent in Spain, Portugal, and the north of Africa; but nearly the whole of Europe, and even the East Indies, felt the shock on the same day... and at the distance of eight leagues from Morocco, a village with the inhabitants to  the number of about eight or ten thousand persons, together with all their cattle, were swallowed up. Soon after, the earth closed again over them... In Antigua and Barbadoes, as also in Norway, Sweden, Germany, Holland, Corsica, Switzerland, and Italy, tremors and slight oscillations of the ground were felt... It is said that  the movement of this earthquake was undulatory, and that it traveled at the rate of twenty miles a minute. A great wave swept over the coast of Spain, and it is said to have been sixty feet high at Cadiz. At Tangier in Africa, it rose full fifteen feet perpendicular above highwater mark, although the tide, which ebbs and flows there seven feet, was then at half ebb...”

 

v   “matahari menjadi hitam bagaikan goni dari bulu hitam” ~ tanda yang kedua setelah itu.

Yang dimaksud di sini adalah bagaikan karung yang terbuat dari bulu kambing.

(“...The sun turned black like sackcloth made of goat hair” – NIV). Peristiwa ini harus mengikuti peristiwa gempa bumi dahsyat sebelumnya.

Sejarah mencatat tanggal 19 Mei 1780 dikenal sebagai the Dark Day, yang berlangsung mulai pukul sepuluh pagi hingga tengah malam hari berikutnya dan terjadi di enam negara bagian Amerika yang dikenal sebagai New England, yaitu Connecticut, Maine, New Hampshire, Vermont, Massachusetts dan Rhode Island.

Referensi dari Webster’s Unabridged Dictionary, edisi 1884, hal 1604:

Dark Day, The. May 19, 1780; so called on account of a remarkable darkness on that day, extending over all New England. In some places persons could not see to read common print in the open air for several hours together. Birds sang their evening song, disappeared, and became silent; fowls went to roost; cattle sought the barn-yard; and candles were lighted in the houses. The obscuration began about ten o’clock in the morning, and continued till the middle of the next night, but with differences of degree and duration in different places. For several days previous, the wind had been variable, but chiefly from the southwest and the northeast. The true cause of this remarkable phenomenon is not known.”

 

v   “bulan menjadi bagaikan darah” ~ tanda yang ketiga.

Bulan biasanya berwarna kuning [dari kuning pucat hingga kuning terang], karena dia memantulkan sinar matahari. Tetapi di sini dikatakan, bulan berwarna merah darah, artinya berwarna gelap. Dan itu disebabkan karena dia tidak memantulkan sinar matahari. Mengapa? Karena pada waktu itu langit gelap gulita. Sejarah mencatat pada hari yang sama, yaitu 19 Mei 1780, saat sinar matahari lenyap, di beberapa tempat di mana bulan masih bisa terlihat, warnanya adalah merah darah di langit yang gelap gulita.

 

Tulisan Samuel Tenny di Collections of Massachusetts Historical Society for the Year 1792 Vol I,  hal. 97-98 berbunyi:

The darkness of the following evening was  probably as gross as ever has been observed since the Almighty fiat gave birth to light... A sheet of white paper held within a few inches of the eyes, was equally invisible with the blackest velvet.”

 

Tulisan Uriah Smith dalam Daniel and the Revelation hal 409 berkata:

“... Whenever on this memorable night the moon did appear, as at certain times it did, it had, according to this prophecy, the appearance of blood.”

 

v   “bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi” ~ tanda yang keempat.

Sejarah mencatat pada tanggal 13 November 1833, di seluruh Amerika utara, Kep. Hindia Barat, Meksiko terus ke arah selatan, dari pantai timur Amerika hingga ke Samudra Pasifik di sebelah barat  bintang-bintang berjatuhan ke bumi yang berlangsung selama beberapa jam terus-menerus dari segala arah, seperti yang dinubuatkan yaitu mirip buah ara yang gugur tertiup angin kencang.

New York Journal of Commerce, Nov. 14, 1833, Vol. VIII no. 534 hal. 2 mencatat:

“... The falling stars did not come, as if from several trees shaken, but from one: those which appeared in the north fell toward the north; those which appeared in the south... fell toward the south, and they fell, not as ripe fruit falls. Far from it. But they flew, they were cast, like the unripe fruit, which at first refuses to leave the branch, and when it does break its hold, flies swiftly, straight off, descending, and in the multitude falling, some cross the track of others, as they are thrown with more of less force.”

 

Elijah, H. Burritt menulis di The Geography of the Heavens hal. 163:

“The most sublime phenomenon of shooting stars of which the world has furnished any record, was witnessed throughout the United States on the morning of the 13th of November 1833... The shower pervaded nearly the whole of North America, having appeared in nearly equal splendor from the British possessions on the north, to the West India Islands and Mexico on the south and from sixty one degrees of longitude east of the American coast, quite to the Pacific Ocean on the west. Throughout this immense region, the duration was nearly the same. The meteors began to attract attention by their unusual frequency and brilliancy from 9 to 12 o’clock in the evening; were most striking in their appearance from 2 to 5, arrived at their maximum, in many places about four o’clock; and continued until rendered invisible by the light of day.”

 

 

 

Nah, SEBELUM YOHANES DIPERLIHATKAN PEMBUKAAN METERAI YANG KETUJUH, DIA DIBERI PENGLIHATAN TENTANG BEBERAPA PERISTIWA LAIN.

 

Jadi ayat 14-17 bukan kelanjutan ayat 13 secara kronologis. Jadi penglihatan ini meloncati beberapa peristiwa yang nanti akan dibahas di pasal lain.

Di 4 ayat yang terakhir ini Yohanes langsung di bawa ke KONDISI PADA WAKTU YESUS KRISTUS DATANG KEMBALI KE DUNIA UNTUK KEDUA KALINYA.

 

 

6:14     Lalu menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung, dan setiap gunung dan pulau pun pindah dari tempatnya.

 

v   “menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung”

Setelah ketiga fenomena alam yang disebutkan di ayat 12-13 di atas, maka Yohanes diberikan penglihatan lebih jauh ke depan, ke saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

Entah bagaimana bentuknya langit yang menyusut bagaikan kitab yang digulung, tapi pasti dahsyat dan mengerikan. Selama ini bila kita membuka mata kita selalu melihat langit terbentang di atas kita. Apa yang dilukiskan Yohanes bahwa langit menyusut seperti kitab yang digulung, sulit dibayangkan.

Ibrani 12:26

yang suara-Nya waktu itu menggoncangkan bumi. Tetapi sekarang Ia telah berjanji, mengatakan, Masih satu kali lagi Aku tidak akan menggoncangkan hanya bumi, melainkan langit juga.’

 

6:15        Dan raja-raja di bumi, dan pembesar-pembesar, orang-orang kaya, perwira-perwira, orang-orang perkasa, dan setiap budak serta setiap orang merdeka menyembunyikan diri di dalam gua-gua dan celah batu-batu karang di gunung-gunung.

6:16        Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu, ‘Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami dari wajah Dia, yang duduk di atas takhta dan dari murka Anak Domba itu!’

6:17        Sebab sudah tiba hari besar murkaNya, dan  siapakah yang dapat bertahan?

 

v   Banyak nabi dan rasul telah melukiskan hebatnya hari tersebut. Kita bisa membacanya di:

Wahyu 16:18,20-21

18 Dan ada suara-suara, dan guntur-guntur, dan kilat-kilat, dan ada gempa bumi yang dahsyat sehebat dan sebesar gempa bumi itu belum pernah terjadi sejak manusia ada di atas bumi. 20 Lalu semua pulau lari kabur dan gunung-gunung tidak ditemukan.21 Dan hujan batu es besar dari langit jatuh menimpa manusia, setiap batu itu seberat satu talen (itu 50 pon - sekitar 34 kg). Manusia menghujat Allah karena malapetaka hujan batu es itu, sebab malapetaka itu sangat dahsyat.

 

Yeremia 4:23-27

23 Aku melihat bumi, dan sungguh dia tidak berbentuk dan kosong, dan langitnya tidak ada terangnya. 24Aku melihat ke gunung-gunung dan sungguh mereka bergoncang dan semua bukit pun bergerak maju-mundur. 25 Aku melihat, dan sungguh tidak ada manusia dan semua burung di udara sudah hilang, 26 Aku melihat, dan sungguh tanah subur sudah menjadi padang gurun, dan segala kotanya sudah runtuh di hadapan TUHAN, oleh murka-Nya yang dahsyat! 27 Sebab beginilah firman TUHAN, ‘Seluruh negeri ini akan menjadi terlantar namun Aku tidak akan membuat suatu  akhir yang tuntas.

 

Yesaya 24:19-21

19 Bumi terpecah dengan kekerasan, bumi terbelah membuka,  bumi bergetar sangat hebat. 20 Bumi akan terhuyung-huyung seperti orang mabuk dan akan  bergoyang seperti gubuk; dosa pemberontakannya akan sangat membebaninya, ia akan jatuh dan tidak akan bangkit-bangkit lagi. 21 Maka akan terjadi pada hari itu TUHAN akan menghukum kekuatan yang di langit di atas, dan raja-raja bumi di bawah.

 

v   “siapakah yang dapat bertahan?”

Inilah pertanyaan yang akan dijawab di pasal 7.

 

 

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana mengerikannya keadaan pada waktu itu. Yang bisa kita persiapkan adalah agar diri kita tidak termasuk mereka yang akan mengalami kengerian itu. Semoga kita termasuk mereka yang aman berlindung di dalam Tuhan kita.


Mazmur  37:39

Namun keselamatan orang-orang benar ada dalam TUHAN; Dia-lah kekuatan mereka pada waktu kesesakan.

 

Mazmur  62:7 (8)

Dalam Allah-lah keselamatanku dan kemuliaanku; batu kekuatanku, dan tempat perlindunganku ada dalam Allah.

 

Mazmur  142:5 (6)

Aku berseru-seru kepada-Mu, ya TUHAN, kataku: ‘Engkaulah tempat perlindunganku, bagianku di negeri orang-orang hidup!’

 

 

Amin.

 

 

 

 

 

Aug 2012



1 komentar:

  1. Aminn..HalleluYah
    Mndapat pencerahan yg puji Tuhan sangt mmbntu pengetahuan

    BalasHapus