Jumat, 10 April 2026

243. Belajar dari Terah

 243. BELAJAR DARI TERAH

_______________________________

 

 

Mungkin tidak banyak dari kita kenal nama “Terah”. Siapakah dia? Dia adalah ayah Abraham.

Kita baca keterangan tentang Terah di Yosua 24:2 (KJV)

Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu, “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel, ‘Nenek moyangmu diam di seberang sungai Efrat di zaman dahulu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka menyembah allah-allah lain.’...”

 

Jadi, Terah dan keluarganya semua menyembah allah-allah lain, atau menyembah berhala, menurut ayat di atas ini.

Bahkan menurut cerita tradisi (Midrash) Terah adalah pembuat dan penjual patung-patung berhala. Tetapi di Alkitab tidak ada keterangan itu, hanya bahwa Terah dan keluarganya (kata “mereka”) itu menyembah berhala.

 

Tetapi Alkitab juga berkata bahwa Terah adalah orang yang pertama meninggalkan kediamannya di Babilon untuk pergi menuju Kana’an.

Jadi sebelum Abraham menuruti panggilan Tuhan untuk meninggalkan Babilon, Terah ayahnya sudah lebih dulu mengemasi harta bendanya dan keluarganya dan membawa mereka untuk pergi menuju Kana’an.

 

Kita baca kisahnya di Kejadian 11:31 (KJV)

Lalu Terah membawa Abram, anaknya; dan Lot, cucunya, anak Haran; dan Sarai, menantunya, isteri Abram; dan mereka berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan. Dan mereka tiba di Haran, dan menetap di sana.

 

Alkitab tidak berkata mengapa Terah meninggalkan Babilon. Terah yang cukup kaya, yang asli orang Ur Kasdim di Babilon, Terah yang sudah berusia lanjut, sudah punya anak-cucu, Terah yang waktunya duduk-duduk menikmati usia lanjutnya, tiba-tiba mengajak keluarga besarnya meninggalkan tempat tinggal mereka, menempuh perjalanan jauh yang melelahkan, dan pergi ke tanah Kana’an tempat yang asing bagi mereka. Alkitab tidak menjelaskan apa sebelumnya Terah pernah ke Kana’an, apakah Terah sudah kenal daerah itu, apa dia punya teman atau keluarga di sana, apa dia punya info bahwa tempat itu lebih bagus daripada kampung halamannya di Ur Kasdim. Tidak ada keterangan. Hanya tiba-tiba Terah mengajak keluarga besarnya untuk pergi ke Kana’an.

Mengapa?

Apakah Tuhan menerbitkan keinginan di hati Terah untuk pergi ke Kana’an? Sangat boleh jadi. Karena tanpa alasan yang kuat, orang tidak akan tiba-tiba merelokasi dari tempat tinggalnya yang nyaman dan familier, untuk pergi jauh ke tempat yang sama sekali asing baginya, yang di sana tidak ada sanak-keluarganya, tidak ada siapa-siapa yang dikenalnya, meninggalkan zona amannya. Bahkan anaknya Nahor tidak mau ikut pindah bersamanya, hanya anaknya Abraham, menantunya Sarai, dan cucunya Lot yang mengikutinya.  

Jadi, mengapa Terah memutuskan untuk meninggalkan rumahnya, tempat tinggalnya, zona amannya, anaknya Nahor sekeluarga?

Dan yang luar biasa, tujuannya adalah Kana’an, tujuan yang sama yang kelak Tuhan menyuruh Abraham ke sana.

 

Kebetulan?

Tidak ada kata “kebetulan” dengan Tuhan.

 

Tapi yang menyedihkan, Alkitab mengatakan Terah tidak pernah sampai ke Kana’an. Dia berangkat dengan tujuan Kana’an, tapi akhirnya dia tidak tiba di tempat tujuannya.

 

Kembali Alkitab tidak mengatakan mengapa. Hanya bahwa  “mereka tiba di Haran, dan menetap di sana”.

Zaman dahulu tidak ada transportasi kendaraan. Orang ke mana-mana naik keledai, naik unta, atau berjalan kaki. Jadi sudah biasa orang yang tujuannya pergi jauh, harus berhenti-berhenti di banyak tempat, untuk beristirahat memulihkan tenaganya sendiri dan tenaga hewan-hewannya. Tapi tempat-tempat persinggahan itu tidak pernah untuk didiami jangka panjang. Beberapa hari kemudian orang itu akan melanjutkan perjalanannya lagi sampai ke tempat tujuan.

Tapi Terah tidak. Saat tiba di Haran, rombongannya berhenti, dan Terah tidak pernah melanjutkan perjalanannya lagi.

Mengapa?

 

Alkitab juga tidak menulis alasannya mengapa.

Haran masih termasuk daerah Babilon, jadi rombongan Terah ini belum keluar dari negeri Babilon. Menurut Google, Haran itu sekitar 950-1000 km dari Ur Kasdim. Jadi cukup jauh, kira-kira kurang sedikit seperti jarak dari Anyer (Serang) ke Panarukan (Situbondo).    

Dan dari Kana’an, Haran itu masih sekitar 650-800 km.

Berarti rombongan Terah sudah menempuh lebih dari separo jaraknya ke Kana’an. Sisa kurang dari separo. Lha kok berhenti menetap di Haran?

 

Terah sudah meninggalkan kehidupannya yang lama, rumahnya, satu anaknya bersama keluarganya, teman-temannya di Ur Kasdim, kenyamanan hidupnya, bahkan mungkin berhalanya, untuk menuruti panggilan pergi ke Kana’an. Tapi yang sangat disayangkan, Terah tidak sampai di Kana’an, tidak sampai melihat Kana’an, tidak masuk ke Kana’an, dan tidak pernah tinggal di sana. Daripada berhenti di tengah jalan, mending tidak usah berangkat saja. Tidak ada bedanya tetap tinggal di Ur Kasdim, tempat Babilon dengan sekarang menetap di Haran yang juga masih tempat Babilon.

 

 

Apa aplikasinya ini bagi kita?

Kana’an adalah Negeri Perjanjian, tempat yang dijanjikan Tuhan bagi umatNya. Nama Kana’an tetap melambangkan Negeri Perjanjian, walaupun sekarang bagi kita yang dimaksud adalah Kana’an Surgawi.

Babilon adalah negeri duniawi. Jika kita membaca kitab Wahyu, maka Babilon adalah lambang segala yang duniawi, segala yang meninggikan manusia, segala yang bertentangan dengan Tuhan.

Terah sudah keluar dari Ur Kasdim, dengan tujuan ke Kana’an. Dia sudah mengikuti jalan yang benar. Dia menuju ke Negeri Perjanjian. Semangatnya yang awal sudah benar. Walaupun dia tidak kenal Kana’an, tapi dia meninggalkan kehidupannya di Ur Kasdim untuk pergi ke Kana’an dengan membawa keluarganya yang mau mengikutinya. Sayangnya dia hanya meninggalkan Ur Kasdim, dia belum betul-betul keluar dari Babilon, dia baru ada di Haran, masih wilayah Babilon. Dia masih harus menempuh 650-800 km lagi untuk tiba di Kana’an. Seharusnya dia bisa menempuh sisa perjalanan yang 650-800 km itu, tapi dia berpikir, tidak usahlah, sampai di Haran sini sudah cukup baik, tidak usah lanjut sampai Kana’an. Maka sampai matinya Terah tidak keluar dari Haran. Dia gagal tiba di Kana’an. Dia gagal menjalani suatu kehidupan yang baru yang terbebas dari Babilon, terbebas dari berhalanya. Sesuatu yang tidak benar-benar kita lepaskan masih punya kekuatan untuk menarik kita kembali kepadanya. Dan Terah adalah salah satu dari mereka yang tidak 100% melepaskan kehidupannya yang lama, sehingga akhirnya dia terjerat lagi kepada Babilon dan berhalanya yang tidak 100% ditinggalkannya.

 

Anaknya Abraham yang kemudian menyelesaikan perjalanan itu. Alkitab mencatat Allah memanggil Abraham untuk keluar dari Haran, dari kediaman Terah ayahnya, untuk pergi ke suatu tempat yang akan ditunjukkan Allah nanti. Kali ini Abraham tidak tahu bahwa Allah akan menuntunnya ke Kana’an, ke tempat yang sama yang menjadi tujuan Terah ketika mereka pertama meninggalkan Ur Kasdim.

Kejadian 12:1

Nah, TUHAN berfirman kepada Abram, ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu, dan dari rumah bapakmu, ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.’

 

Banyak dari kita seperti Terah. Ketika kita diyakinkan Roh Kudus untuk mengikuti Tuhan, dengan semangat kita meninggalkan kehidupan kita yang lama untuk mengikuti Tuhan. Tetapi ketika perjalanan mungkin menjadi lebih sulit, tantangan datang lebih banyak, masalah yang tidak kita duga sebelumnya bermunculan, atau ada hal lain yang lebih menarik hati kita daripada mengikuti Tuhan, semangat kita untuk melangkah maju menuju Kana’an memudar. Kita berhenti untuk beristirahat di Haran, tapi celakanya seperti Terah, kita tidak pernah mengangkat kaki kita meninggalkan Haran untuk mencapai Kana’an.

 

Terah gagal membawa dirinya dan keluarganya ke Kana’an. Bagaimana dengan kita? Jangan sampai kita seperti Terah, selain gagal membawa dirinya ke Kana’an, juga gagal membawa anak-cucunya ke negeri Perjanjian. Perhatian Terah teralih dari Kana’an. Berhenti di Haran saja. Cukup sampai di sini. Andaikan Terah bangkit meninggalkan Haran, pasti seluruh rombongannya, anak-cucu, hamba-hambanya semua akan mengikuti dia melanjutkan perjalanan ke Kana’an. Tapi karena Terah mengeram di Haran, seluruh rombongan ikut mengeram bersamanya. Kegagalan Terah menjadi kegagalan seluruh rombongan, paling tidak untuk masa itu. Kegagalan orangtua untuk tetap berjalan menuju Kana’an, bisa menjadi kegagalan anak-cucunya juga untuk mencapai Kana’an.

 

Mengikut Tuhan harus all out. Jangan berhenti di tengah. Sia-sia, tidak sampai Kana’an. Suatu awal yang baik, jika tidak diteruskan dengan ketetapan hati, tidak akan mencapai akhir yang baik.

 

Paulus berkata,

2 Timotius 4:7-8

7Aku telah mengakhiri pertarungan yang baik, aku telah menyelesaikan pertandingannya dan aku telah memelihara iman. 8 Akhirnya telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari itu; dan bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”.

 

 

 

10 04 26

Minggu, 07 Desember 2025

 

242. BAPA LEBIH BESAR?

_______________________________

 

 

Ada beberapa ayat yang karena kurang dipahami, bisa menimbulkan kesan konsep bahwa Kristus, atau Allah Anak itu tidak setara dengan Allah Bapa, dalam arti Kristus itu dari DiriNya Sendiri bukan Allah, melainkan makhluk ciptaan Allah Bapa, sama dengan kita. Tapi ini adalah kesan yang salah, yang muncul dari mencampuradukkan dua unsur yang berbeda. Sebetulnya saya sudah pernah membahas Yohanes 14:28 di pembahasan # 79, tetapi marilah kita ulangi.

 

Yohanes 14:28

Kamu telah mendengar Aku berkata kepadamu, ‘Aku akan pergi, dan akan datang kembali kepadamu.’ Jika  kamu mengasihi Aku, kamu akan bersukacita karena Aku katakan, ‘Aku akan pergi kepada Bapa-Ku’, sebab BapaKu lebih besar daripada Aku.

 

Ini bukan bicara ukuran ya. Ini bicara autoritas. Kristus mengatakan autoritas BapaNya lebih besar dari Dia. Kalau begitu memangnya autoritas Mereka beda? Bapa lebih besar, berarti Kristus lebih kecil autoritasnya dibanding Bapa? Betul! Karena Kristus telah meletakkan DiriNya secara sukarela di bawah autoritas BapaNya.

Sejak kapan Bapa lebih besar dari Kristus? Sejak kekekalan lampau. Kita jangan mengatakan “sejak awal mula” karena Allah tidak punya “awal mula”. Ini konsep yang sukar dimengerti banyak orang. Kita bisa mengerti “tidak punya akhir” (berarti selama-lamanya) tapi kita sulit mengerti konsep “tidak punya awal”. Sebisa-bisanya yang sanggup kita pahami ialah tidak ada masa di mana tidak ada Allah. Allah selalu ada. Sebelum ada apa pun, Allah sudah ada. Jadi, sebelum ada apa pun, Kristus telah meletakkan DiriNya di bawah autoritas Bapa.

Apakah itu membuat Kristus bukan 100% Ilahi? Kristus tetap 100% Ilahi. Nanti kita akan melihat ayat yang mengatakan substansi Kristus itu sama dengan substansi BapaNya.

 

 

Yesaya 42:1

Lihat, Hamba-Ku, yang Aku dukung, Pilihan-Ku, kepadaNya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku padaNya, Ia akan mengenalkan penghakiman kepada bangsa-bangsa.

 

Kisah 3:26

Pertama-tama bagi kamu, Allah telah membangkitkan Hamba-Nya, Yesus,  mengutus-Nya untuk memberkati kamu, dengan membalikkan setiap kamu dari segala kejahatanmu.

 

Di dua ayat ini baik Perjanjian Lama (melalui nabi Yesaya) maupun Perjanjian Baru (melalui rasul Petrus), Bapa malah menyebut Yesus itu “Hamba”. Mana ada “hamba” yang sederajat dengan majikannya? Berarti, tidak salah Bapa memang lebih besar daripada Yesus.

Nah, selain disebut “Hamba”, Allah Anak juga disebut “Malaikat Allah” yang berbicara kepada Hagar (Kejadian 16:7), kepada Yakub (Kejadian 31:11-13), kepada Musa (Keluaran 3:2), kepada Gideon (Hakim-hakim 6:21-24). “Malaikat” berarti “utusan”, jadi kalau Allah Anak itu utusan, berarti ada Yang lebih besar yang mengutusNya, bukan?

Allah Anak juga disebut “Panglima balatentara Tuhan” (Yosua 5:13-15)

Dia juga disebut “Penghulu malaikat” (1 Tesalonika 4:16).

Semua jabatan itu menunjukkan bahwa ada Sosok yang lebih tinggi di atasNya.

Apalagi sebutan sebagai “Anak”, sudah pasti “Anak” itu lebih kecil daripada BapaNya.

 

 

Yohanes 5:30

Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari DiriKu sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakimanKu adil sebab Aku tidak menurut kehendakKu sendiri, melainkan kehendak Bapa yang mengutus Aku.

 

Di sini Yesus berkata segala yang diperbuatNya itu Dia melakukan kehendak BapaNya. Jadi kalau begitu Yesus cuma robot  hanya melakukan kehendak BapaNya? Tidak! Karena Bapa dan Anak ternyata punya kehendak yang sama, punya visi yang sama dan punya misi yang sama. Sedemikian dekatnya hubungan Mereka, walaupun Bapa dan Anak itu dua Pribadi yang terpisah, namun Mereka adalah Satu (Yohanes 30:10). “Satu” bukan bicara jumlah, tetapi bicara pandangan, kehendak, tujuan. Dua Pribadi, tapi sehati sepikir.

 

 

1 Korintus 11:3

Tetapi aku mau kamu tahu bahwa  Kepala dari setiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki, dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

 

Nah, di sini tidak bisa disalahpahami lagi. Jelas disebutkan Paulus bahwa “Kepala Kristus itu BapaNya”, jadi Paulus paham bahwa Kristus itu punya Atasan, punya Kepala. Kalau Paulus bisa paham, maka kita pun seharusnya bisa paham.

 

 

Matius 28:18

Dan Yesus datang  dan bicara kepada mereka, mengatakan, ‘Segala kuasa telah diberikan kepada-Ku di surga dan di bumi.’

 

Ayat ini mengatakan bahwa kekuasaan Kristus di surga dan di bumi, itu telah diberikan kepadaNya. Berarti ada Sosok lain yang lebih tinggi autoritasnya yang memberiNya kekuasaan itu. Tidak mungkin yang autoritasnya lebih rendah bisa memberi kekuasaan kepada yang autoritasnya lebih tinggi, bukan?

Pertanyaan: Jika segala kuasa di surga dan di bumi sudah diberikan kepada Kristus, berarti siapa yang sekarang memegang kekuasaan? Jelas Kristus! Lalu bagaimana dengan Bapa? Bapa sudah memberikan “segala kuasa” kepada Kristus, berarti segala kuasa sudah di tangan Kristus, Bapa tidak punya kuasa lagi?  Kalau begini, siapa yang sekarang lebih besar? Bapa atau Anak? Jawabannya ada di ayat berikutnya.

 

 

1 Korintus 15:28

28 Nah, ketika segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Dia, maka Anak itu sendiri juga akan takluk kepada Dia yang telah meletakkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi segalanya di dalam semua.”

 

Nah, jadi pertama Bapa yang meletakkan segala sesuatu di bawah Anak. Ini sama dengan Bapa memberi Anak segala kuasa di surga dan di bumi. Tapi setelah Anak menerima segala kuasa itu, Dia tidak bertindak sesuka hatiNya, Dia tidak menjadi semena-mena. Apa yang dilakukanNya? Dia justru menaklukkan DiriNya kepada Bapa. Dia tidak akan berbuat yang bertentangan dengan kehendak Bapa, walaupun Dia punya kuasa untuk berbuat apa saja.

 

Bisa ditangkap ya? Inilah sebuah hubungan kasih dalam arti yang sesungguhnya. Rumusnya ialah:

Dia yang mengasihi,

dengan senang hati pasti akan

meletakkan dirinya di bawah dia yang dikasihi.

 

Karena Anak mengasihi Bapa, Dia meletakkan DiriNya di bawah Bapa, melakukan segala kehendak Bapa. Anak yakin bahwa kehendak Bapa selalu yang terbaik.

Sebaliknya karena Bapa mengasihi Anak, Dia memberikan segala kuasa kepada Anak, tidak menahan apa pun bagi DiriNya Sendiri. Bapa yakin Anak akan selalu melakukan yang terbaik.

 

 

Semua ayat ini bicara tentang autoritas, tentang fungsi, tentang peran. BUKAN TENTANG KODRAT. Sekarang kita bicara tentang kodrat.

 

Kodrat itu apa? Dalam bahasa Inggrisnya “Nature”, esensi, hakikat.

Kalau kita kodrat kemanusiaan.

Kalau Tuhan itu kodrat Ilahi.

 

Nah, dalam hal kodrat,

Keilahian Yesus itu sama dengan Keilahian Allah Bapa.

 

Sama-sama 100% Allah. Tidak ada yang lebih kecil atau lebih besar Keilahiannya. Keilahian Mereka sama, tidak ada yang kurang, tidak ada yang lebih.

Mari kita lihat beberapa ayat tentang ini.

 

Yohanes 1:1-3

1 Pada mulanya adalah Firman; dan Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. 3 Segala sesuatu dijadikan melalui Dia, dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi, dijadikan.

 

“Firman” itu nama lain Allah Anak. Di sini dikatakn “pada mulanya”, tetapi sebenarnya Allah itu tidak punya permulaan karena sebelum ada permulaan sudah ada Allah. Hanya saja sangat sulit mencari kata yang tepat yang menggambarkan masa kekekalan lampau. Asal kita pahami saja bahwa Allah itu selalu ada, sebelum ada permulaan, sebelum ada waktu, sebelum ada apa-apa. Nah, di masa “sebelum ada apa-apa” itulah Firman atau Allah Anak, sudah ada. Dan Dia tidak ada sendirian. Allah Bapa juga sudah ada. Dan Roh Kudus juga sudah ada.

Ayat 3 memberikan keterangan bahwa Firman itu Allah, karena apa? Karena segala sesuatu dijadikan melalui Dia. Artinya Dia yang mengeksekusi atau mengerjakan Penciptaan. Dia mencipta dari kenihilan. Itu yang membuktikan Dia Allah. Hanya Allah yang bisa mencipta dari kenihilan. Allah tidak butuh bahan. Allah bersabda, maka yang diciptakan jadi.

Jadi siapa yang mencipta dengan sabdaNya, dengan tanganNya? Firman, atau Allah Anak. Berarti Dia 100% Allah, kodrat IlahiNya tidak lebih inferior dari Allah Bapa.

 

 

Yohanes 10:30

30 ‘Aku dan Bapa-Ku adalah satu.

 

Nah, jelas Allah Anak dan Allah Bapa itu dua Pribadi yang terpisah, tapi Yesus mengatakan bahwa Dia dan BapaNya itu satu. Berarti “satu” di sini tidak bicara tentang jumah. Bicara tentang apa? Bicara tentang hati, tentang pikiran, tentang misi-visi, tentang tujuan, tentang pandangan. Seperti suami dan istri.

Di Matius 19:6 Yesus berkata,

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Manusianya tetap dua, satu laki-laki, satu perempuan, tetapi Yesus berkata mereka bukan lagi dua, tapi satu daging. Artinya mereka harus sehati sepikir, punya tujuan yang sama, punya misi yang sama, punya visi yang sama, punya harapan yang sama. Jika suami-istri sehati sepikir, perkawinannya langgeng. Tapi jika masing-masing mengikuti keinginannya sendiri, ya perkawinannya seperti neraka.

 

 

Yohanes 14:9

9 …‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami?’

 

Apakah Yesus di sini bicara tentang penampilan? Dia mirip rupa BapaNya? Tidak! Yesus datang ke dunia dilahirkan dalam rupa seorang manusia Israel, berwajah Israel, berwarna kulit Israel, berambut Israel. Sedangkan Allah Bapa itu Allah, bukan manusia, tidak punya atribut manusia, pasti tidak punya penampilan manusia dari tanah Israel. Lalu mengapa Yesus berkata “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”? Yesus bicara tentang apa di sini? Apanya yang sama dengan BapaNya? KarakterNya, cara berpikirNya, kasihNya, kelemahlembutanNya, belas kasihanNya, dan tujuan untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Semua ini adalah bagian dari kodrat IlahiNya.

 

 

Filipi 2:5-8,

5 Hendaklah pikiran ini ada di dalam dirimu, yang terdapat juga di dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggapnya perlu merebut kesetaraanNya dengan Allah, 7 melainkan telah menjadikan Diri-Nya Sendiri bukan apa-apa, mengambil bentuk seorang hamba, dan datang dalam keserupaan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan Diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan kematian di kayu salib. 

 

“…dalam rupa Allah…” kata “rupa” dalam bahasa Greeka itu μορφή [morphē]  berarti substansi Allah, bahan dari apa Allah terbentuk. Yesus terbentuk juga dari itu. Di sini Paulus bicara tentang kodrat Allah Anak, sebelum Dia datang ke dunia. Jadi Allah Anak punya substansi yang sama dengan Allah Bapa, 100% samanya.

Lalu ditambahkan bahwa walaupun Allah Anak ini kodratNya sama dengan Allah Bapa, tetapi Dia tidak menganggapnya perlu merebut kesetaraanNya dengan Allah” artinya apa? Dia menempatkan DiriNya di bawah Allah Bapa. Atas kemauanNya sendiri, karena Dia tidak menganggapnya perlu merebut kesetaraanNya dengan Allah”. Bukan hanya itu, apa lagi yang dilakukan Allah Anak? Dia “mengambil bentuk seorang hamba” ~~ kapan? Setelah Dia menjadi manusia? Tidak! Sebelum Dia datang ke dunia menjadi manusia. Lihat urutannya, Dia “mengambil bentuk seorang hamba…” dulu, “…dan…” baru “…datang dalam keserupaan manusia”.

Jadi, ayat ini memberikan keterangan yang sangat jelas:

·       Allah Anak punya kodrat keilahian yang sama dengan Allah Bapa, substansinya sama dengan Allah Bapa, 100% Allah,

·       tapi Dia tidak merasa perlu mempertahankan kesetaraannya dengan Bapa,

·       Dia merendahkan DiriNya dan menghambakan DiriNya kepada BapaNya, artinya Dia takluk kepada autoritas BapaNya,

·       lalu datang ke dunia dalam keserupaan daging manusia untuk menyelamatkan manusia

·       untuk itu Dia harus taat sampai mati disalibkan.

 

 

Jadi Alkitab telah menjelaskan bahwa Allah Anak itu sama Allahnya dengan Allah Bapa. Dia bukan ciptaan seperti kita. Justru tangan Dialah yang telah menciptakan kita. Dalam kodrat Allah Anak dan Allah Bapa tidak ada bedanya. Tapi dalam peran, dalam fungsi, dalam autoritas, Allah Anak meletakkan DiriNya di bawah Allah Bapa karena Dia mengasihi BapaNya. Dan Bapa menyerahkan segala kuasa di surga dan di bumi kepada AnakNya, karena BapaNya mengasihi AnakNya. Bukankah ini konsep kasih yang paling indah?

 

 

 

07 12 25