243. BELAJAR DARI TERAH
_______________________________
Mungkin tidak banyak dari kita kenal
nama “Terah”. Siapakah dia? Dia adalah ayah Abraham.
Kita baca keterangan tentang Terah di Yosua 24:2 (KJV)
Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu,
“Beginilah firman TUHAN, Allah Israel, ‘Nenek moyangmu diam di seberang sungai
Efrat di zaman dahulu, yakni Terah, ayah
Abraham dan ayah Nahor, dan mereka menyembah
allah-allah lain.’...”
Jadi, Terah dan keluarganya semua
menyembah allah-allah lain, atau menyembah berhala, menurut ayat di atas ini.
Bahkan menurut cerita tradisi (Midrash)
Terah adalah pembuat dan penjual patung-patung berhala. Tetapi di Alkitab tidak
ada keterangan itu, hanya bahwa Terah dan keluarganya (kata “mereka”)
itu menyembah berhala.
Tetapi Alkitab juga berkata bahwa Terah adalah orang yang pertama meninggalkan kediamannya
di Babilon untuk pergi menuju Kana’an.
Jadi sebelum Abraham menuruti panggilan
Tuhan untuk meninggalkan Babilon, Terah ayahnya sudah lebih dulu mengemasi
harta bendanya dan keluarganya dan membawa mereka untuk pergi menuju Kana’an.
Kita baca kisahnya di Kejadian 11:31 (KJV)
Lalu
Terah membawa Abram, anaknya; dan Lot, cucunya, anak Haran; dan Sarai,
menantunya, isteri Abram; dan mereka
berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah
Kanaan. Dan mereka tiba di Haran, dan menetap di sana.
Alkitab tidak
berkata mengapa Terah meninggalkan Babilon. Terah yang cukup kaya, yang asli
orang Ur Kasdim di Babilon, Terah yang sudah berusia lanjut, sudah punya
anak-cucu, Terah yang waktunya duduk-duduk menikmati usia lanjutnya, tiba-tiba
mengajak keluarga besarnya meninggalkan tempat tinggal mereka, menempuh
perjalanan jauh yang melelahkan, dan pergi ke tanah Kana’an tempat yang asing
bagi mereka. Alkitab tidak menjelaskan apa sebelumnya Terah pernah ke Kana’an,
apakah Terah sudah kenal daerah itu, apa dia punya teman atau keluarga di sana,
apa dia punya info bahwa tempat itu lebih bagus daripada kampung halamannya di
Ur Kasdim. Tidak ada keterangan. Hanya tiba-tiba Terah mengajak keluarga
besarnya untuk pergi ke Kana’an.
Mengapa?
Apakah Tuhan
menerbitkan keinginan di hati Terah untuk pergi ke Kana’an? Sangat boleh jadi.
Karena tanpa alasan yang kuat, orang tidak akan tiba-tiba merelokasi dari
tempat tinggalnya yang nyaman dan familier, untuk pergi jauh ke tempat yang
sama sekali asing baginya, yang di sana tidak ada sanak-keluarganya, tidak ada
siapa-siapa yang dikenalnya, meninggalkan zona amannya. Bahkan anaknya Nahor
tidak mau ikut pindah bersamanya, hanya anaknya Abraham, menantunya Sarai, dan
cucunya Lot yang mengikutinya.
Jadi, mengapa Terah
memutuskan untuk meninggalkan rumahnya, tempat tinggalnya, zona amannya, anaknya
Nahor sekeluarga?
Dan yang luar
biasa, tujuannya
adalah Kana’an, tujuan yang sama yang kelak Tuhan menyuruh Abraham ke sana.
Kebetulan?
Tidak ada kata
“kebetulan” dengan Tuhan.
Tapi yang
menyedihkan, Alkitab mengatakan Terah tidak pernah sampai ke Kana’an.
Dia berangkat dengan tujuan Kana’an, tapi akhirnya dia tidak tiba di tempat
tujuannya.
Kembali Alkitab
tidak mengatakan mengapa. Hanya bahwa “mereka tiba
di Haran, dan menetap di sana”.
Zaman dahulu tidak
ada transportasi kendaraan. Orang ke mana-mana naik keledai, naik unta, atau
berjalan kaki. Jadi sudah biasa orang yang tujuannya pergi jauh, harus
berhenti-berhenti di banyak tempat, untuk beristirahat memulihkan tenaganya
sendiri dan tenaga hewan-hewannya. Tapi tempat-tempat persinggahan itu tidak
pernah untuk didiami jangka panjang. Beberapa hari kemudian orang itu akan
melanjutkan perjalanannya lagi sampai ke tempat tujuan.
Tapi Terah tidak.
Saat tiba di
Haran, rombongannya berhenti, dan Terah tidak pernah melanjutkan perjalanannya
lagi.
Mengapa?
Alkitab juga tidak
menulis alasannya mengapa.
Haran masih
termasuk daerah Babilon, jadi rombongan Terah ini belum keluar dari negeri
Babilon. Menurut Google, Haran itu sekitar 950-1000 km dari Ur Kasdim. Jadi
cukup jauh, kira-kira kurang sedikit seperti jarak dari Anyer (Serang) ke
Panarukan (Situbondo).
Dan dari Kana’an,
Haran itu masih sekitar 650-800 km.
Berarti rombongan
Terah sudah menempuh lebih dari separo jaraknya ke Kana’an. Sisa kurang dari
separo. Lha kok berhenti menetap di Haran?
Terah sudah
meninggalkan kehidupannya yang lama, rumahnya, satu anaknya bersama
keluarganya, teman-temannya di Ur Kasdim, kenyamanan hidupnya, bahkan mungkin
berhalanya, untuk menuruti panggilan pergi ke Kana’an. Tapi yang sangat
disayangkan, Terah tidak sampai di Kana’an, tidak sampai melihat Kana’an, tidak
masuk ke Kana’an, dan tidak pernah tinggal di sana. Daripada berhenti di
tengah jalan, mending tidak usah berangkat saja.
Tidak ada bedanya tetap tinggal di Ur Kasdim, tempat Babilon dengan sekarang menetap
di Haran yang juga masih tempat Babilon.
Apa aplikasinya ini
bagi kita?
Kana’an adalah
Negeri Perjanjian, tempat yang dijanjikan Tuhan bagi umatNya. Nama Kana’an
tetap melambangkan Negeri Perjanjian, walaupun sekarang bagi kita yang dimaksud
adalah Kana’an Surgawi.
Babilon adalah
negeri duniawi. Jika kita membaca kitab Wahyu, maka Babilon adalah lambang
segala yang duniawi, segala yang meninggikan manusia, segala yang bertentangan
dengan Tuhan.
Terah sudah keluar dari Ur Kasdim, dengan
tujuan ke Kana’an. Dia sudah mengikuti jalan yang benar. Dia menuju
ke Negeri Perjanjian. Semangatnya yang awal sudah benar. Walaupun dia tidak
kenal Kana’an, tapi dia meninggalkan kehidupannya di Ur Kasdim untuk pergi ke
Kana’an dengan membawa keluarganya yang mau mengikutinya. Sayangnya
dia hanya meninggalkan Ur Kasdim, dia belum betul-betul keluar dari Babilon,
dia baru ada di Haran, masih wilayah Babilon. Dia masih harus menempuh 650-800
km lagi untuk tiba di Kana’an. Seharusnya dia bisa menempuh sisa perjalanan
yang 650-800 km itu, tapi dia berpikir, tidak usahlah, sampai di Haran sini
sudah cukup baik, tidak usah lanjut sampai Kana’an. Maka sampai matinya Terah
tidak keluar dari Haran. Dia gagal tiba di Kana’an. Dia gagal menjalani suatu
kehidupan yang baru yang terbebas dari Babilon, terbebas dari berhalanya.
Sesuatu yang tidak benar-benar kita lepaskan masih punya kekuatan untuk menarik
kita kembali kepadanya. Dan Terah adalah salah satu dari mereka yang tidak 100%
melepaskan kehidupannya yang lama, sehingga akhirnya dia terjerat lagi kepada
Babilon dan berhalanya yang tidak 100% ditinggalkannya.
Anaknya Abraham
yang kemudian menyelesaikan perjalanan itu. Alkitab mencatat Allah memanggil
Abraham untuk keluar dari Haran, dari kediaman Terah ayahnya, untuk pergi ke
suatu tempat yang akan ditunjukkan Allah nanti. Kali ini Abraham tidak tahu
bahwa Allah akan menuntunnya ke Kana’an, ke tempat yang sama yang menjadi
tujuan Terah ketika mereka pertama meninggalkan Ur Kasdim.
Kejadian 12:1
Nah,
TUHAN berfirman kepada Abram, ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu,
dan dari rumah bapakmu, ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.’
Banyak dari kita
seperti Terah. Ketika kita diyakinkan Roh Kudus untuk mengikuti Tuhan, dengan
semangat kita meninggalkan kehidupan kita yang lama untuk mengikuti Tuhan.
Tetapi ketika perjalanan mungkin menjadi lebih sulit, tantangan datang lebih
banyak, masalah yang tidak kita duga sebelumnya bermunculan, atau ada hal lain
yang lebih menarik hati kita daripada mengikuti Tuhan, semangat kita untuk
melangkah maju menuju Kana’an memudar. Kita berhenti untuk beristirahat di
Haran, tapi celakanya seperti Terah, kita tidak pernah mengangkat kaki kita
meninggalkan Haran untuk mencapai Kana’an.
Terah gagal membawa
dirinya dan keluarganya ke Kana’an. Bagaimana dengan kita? Jangan sampai kita
seperti Terah, selain gagal membawa dirinya ke Kana’an, juga gagal membawa
anak-cucunya ke negeri Perjanjian. Perhatian Terah teralih dari Kana’an. Berhenti
di Haran saja. Cukup sampai di sini. Andaikan Terah bangkit meninggalkan Haran,
pasti seluruh rombongannya, anak-cucu, hamba-hambanya semua akan mengikuti dia
melanjutkan perjalanan ke Kana’an. Tapi karena Terah mengeram di Haran, seluruh
rombongan ikut mengeram bersamanya. Kegagalan Terah menjadi kegagalan seluruh
rombongan, paling tidak untuk masa itu. Kegagalan orangtua
untuk tetap berjalan menuju Kana’an, bisa menjadi kegagalan anak-cucunya juga
untuk mencapai Kana’an.
Mengikut Tuhan
harus all out. Jangan berhenti di tengah. Sia-sia, tidak sampai Kana’an.
Suatu awal yang baik, jika tidak diteruskan dengan ketetapan hati, tidak akan
mencapai akhir yang baik.
Paulus berkata,
2 Timotius 4:7-8
7Aku telah mengakhiri pertarungan yang baik, aku telah menyelesaikan pertandingannya dan aku telah
memelihara iman. 8 Akhirnya telah
tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan,
Hakim yang adil, pada hari itu; dan bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada
semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”.
10 04 26
Tidak ada komentar:
Posting Komentar