Jumat, 10 April 2026

243. Belajar dari Terah

 243. BELAJAR DARI TERAH

_______________________________

 

 

Mungkin tidak banyak dari kita kenal nama “Terah”. Siapakah dia? Dia adalah ayah Abraham.

Kita baca keterangan tentang Terah di Yosua 24:2 (KJV)

Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu, “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel, ‘Nenek moyangmu diam di seberang sungai Efrat di zaman dahulu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka menyembah allah-allah lain.’...”

 

Jadi, Terah dan keluarganya semua menyembah allah-allah lain, atau menyembah berhala, menurut ayat di atas ini.

Bahkan menurut cerita tradisi (Midrash) Terah adalah pembuat dan penjual patung-patung berhala. Tetapi di Alkitab tidak ada keterangan itu, hanya bahwa Terah dan keluarganya (kata “mereka”) itu menyembah berhala.

 

Tetapi Alkitab juga berkata bahwa Terah adalah orang yang pertama meninggalkan kediamannya di Babilon untuk pergi menuju Kana’an.

Jadi sebelum Abraham menuruti panggilan Tuhan untuk meninggalkan Babilon, Terah ayahnya sudah lebih dulu mengemasi harta bendanya dan keluarganya dan membawa mereka untuk pergi menuju Kana’an.

 

Kita baca kisahnya di Kejadian 11:31 (KJV)

Lalu Terah membawa Abram, anaknya; dan Lot, cucunya, anak Haran; dan Sarai, menantunya, isteri Abram; dan mereka berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan. Dan mereka tiba di Haran, dan menetap di sana.

 

Alkitab tidak berkata mengapa Terah meninggalkan Babilon. Terah yang cukup kaya, yang asli orang Ur Kasdim di Babilon, Terah yang sudah berusia lanjut, sudah punya anak-cucu, Terah yang waktunya duduk-duduk menikmati usia lanjutnya, tiba-tiba mengajak keluarga besarnya meninggalkan tempat tinggal mereka, menempuh perjalanan jauh yang melelahkan, dan pergi ke tanah Kana’an tempat yang asing bagi mereka. Alkitab tidak menjelaskan apa sebelumnya Terah pernah ke Kana’an, apakah Terah sudah kenal daerah itu, apa dia punya teman atau keluarga di sana, apa dia punya info bahwa tempat itu lebih bagus daripada kampung halamannya di Ur Kasdim. Tidak ada keterangan. Hanya tiba-tiba Terah mengajak keluarga besarnya untuk pergi ke Kana’an.

Mengapa?

Apakah Tuhan menerbitkan keinginan di hati Terah untuk pergi ke Kana’an? Sangat boleh jadi. Karena tanpa alasan yang kuat, orang tidak akan tiba-tiba merelokasi dari tempat tinggalnya yang nyaman dan familier, untuk pergi jauh ke tempat yang sama sekali asing baginya, yang di sana tidak ada sanak-keluarganya, tidak ada siapa-siapa yang dikenalnya, meninggalkan zona amannya. Bahkan anaknya Nahor tidak mau ikut pindah bersamanya, hanya anaknya Abraham, menantunya Sarai, dan cucunya Lot yang mengikutinya.  

Jadi, mengapa Terah memutuskan untuk meninggalkan rumahnya, tempat tinggalnya, zona amannya, anaknya Nahor sekeluarga?

Dan yang luar biasa, tujuannya adalah Kana’an, tujuan yang sama yang kelak Tuhan menyuruh Abraham ke sana.

 

Kebetulan?

Tidak ada kata “kebetulan” dengan Tuhan.

 

Tapi yang menyedihkan, Alkitab mengatakan Terah tidak pernah sampai ke Kana’an. Dia berangkat dengan tujuan Kana’an, tapi akhirnya dia tidak tiba di tempat tujuannya.

 

Kembali Alkitab tidak mengatakan mengapa. Hanya bahwa  “mereka tiba di Haran, dan menetap di sana”.

Zaman dahulu tidak ada transportasi kendaraan. Orang ke mana-mana naik keledai, naik unta, atau berjalan kaki. Jadi sudah biasa orang yang tujuannya pergi jauh, harus berhenti-berhenti di banyak tempat, untuk beristirahat memulihkan tenaganya sendiri dan tenaga hewan-hewannya. Tapi tempat-tempat persinggahan itu tidak pernah untuk didiami jangka panjang. Beberapa hari kemudian orang itu akan melanjutkan perjalanannya lagi sampai ke tempat tujuan.

Tapi Terah tidak. Saat tiba di Haran, rombongannya berhenti, dan Terah tidak pernah melanjutkan perjalanannya lagi.

Mengapa?

 

Alkitab juga tidak menulis alasannya mengapa.

Haran masih termasuk daerah Babilon, jadi rombongan Terah ini belum keluar dari negeri Babilon. Menurut Google, Haran itu sekitar 950-1000 km dari Ur Kasdim. Jadi cukup jauh, kira-kira kurang sedikit seperti jarak dari Anyer (Serang) ke Panarukan (Situbondo).    

Dan dari Kana’an, Haran itu masih sekitar 650-800 km.

Berarti rombongan Terah sudah menempuh lebih dari separo jaraknya ke Kana’an. Sisa kurang dari separo. Lha kok berhenti menetap di Haran?

 

Terah sudah meninggalkan kehidupannya yang lama, rumahnya, satu anaknya bersama keluarganya, teman-temannya di Ur Kasdim, kenyamanan hidupnya, bahkan mungkin berhalanya, untuk menuruti panggilan pergi ke Kana’an. Tapi yang sangat disayangkan, Terah tidak sampai di Kana’an, tidak sampai melihat Kana’an, tidak masuk ke Kana’an, dan tidak pernah tinggal di sana. Daripada berhenti di tengah jalan, mending tidak usah berangkat saja. Tidak ada bedanya tetap tinggal di Ur Kasdim, tempat Babilon dengan sekarang menetap di Haran yang juga masih tempat Babilon.

 

 

Apa aplikasinya ini bagi kita?

Kana’an adalah Negeri Perjanjian, tempat yang dijanjikan Tuhan bagi umatNya. Nama Kana’an tetap melambangkan Negeri Perjanjian, walaupun sekarang bagi kita yang dimaksud adalah Kana’an Surgawi.

Babilon adalah negeri duniawi. Jika kita membaca kitab Wahyu, maka Babilon adalah lambang segala yang duniawi, segala yang meninggikan manusia, segala yang bertentangan dengan Tuhan.

Terah sudah keluar dari Ur Kasdim, dengan tujuan ke Kana’an. Dia sudah mengikuti jalan yang benar. Dia menuju ke Negeri Perjanjian. Semangatnya yang awal sudah benar. Walaupun dia tidak kenal Kana’an, tapi dia meninggalkan kehidupannya di Ur Kasdim untuk pergi ke Kana’an dengan membawa keluarganya yang mau mengikutinya. Sayangnya dia hanya meninggalkan Ur Kasdim, dia belum betul-betul keluar dari Babilon, dia baru ada di Haran, masih wilayah Babilon. Dia masih harus menempuh 650-800 km lagi untuk tiba di Kana’an. Seharusnya dia bisa menempuh sisa perjalanan yang 650-800 km itu, tapi dia berpikir, tidak usahlah, sampai di Haran sini sudah cukup baik, tidak usah lanjut sampai Kana’an. Maka sampai matinya Terah tidak keluar dari Haran. Dia gagal tiba di Kana’an. Dia gagal menjalani suatu kehidupan yang baru yang terbebas dari Babilon, terbebas dari berhalanya. Sesuatu yang tidak benar-benar kita lepaskan masih punya kekuatan untuk menarik kita kembali kepadanya. Dan Terah adalah salah satu dari mereka yang tidak 100% melepaskan kehidupannya yang lama, sehingga akhirnya dia terjerat lagi kepada Babilon dan berhalanya yang tidak 100% ditinggalkannya.

 

Anaknya Abraham yang kemudian menyelesaikan perjalanan itu. Alkitab mencatat Allah memanggil Abraham untuk keluar dari Haran, dari kediaman Terah ayahnya, untuk pergi ke suatu tempat yang akan ditunjukkan Allah nanti. Kali ini Abraham tidak tahu bahwa Allah akan menuntunnya ke Kana’an, ke tempat yang sama yang menjadi tujuan Terah ketika mereka pertama meninggalkan Ur Kasdim.

Kejadian 12:1

Nah, TUHAN berfirman kepada Abram, ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu, dan dari rumah bapakmu, ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.’

 

Banyak dari kita seperti Terah. Ketika kita diyakinkan Roh Kudus untuk mengikuti Tuhan, dengan semangat kita meninggalkan kehidupan kita yang lama untuk mengikuti Tuhan. Tetapi ketika perjalanan mungkin menjadi lebih sulit, tantangan datang lebih banyak, masalah yang tidak kita duga sebelumnya bermunculan, atau ada hal lain yang lebih menarik hati kita daripada mengikuti Tuhan, semangat kita untuk melangkah maju menuju Kana’an memudar. Kita berhenti untuk beristirahat di Haran, tapi celakanya seperti Terah, kita tidak pernah mengangkat kaki kita meninggalkan Haran untuk mencapai Kana’an.

 

Terah gagal membawa dirinya dan keluarganya ke Kana’an. Bagaimana dengan kita? Jangan sampai kita seperti Terah, selain gagal membawa dirinya ke Kana’an, juga gagal membawa anak-cucunya ke negeri Perjanjian. Perhatian Terah teralih dari Kana’an. Berhenti di Haran saja. Cukup sampai di sini. Andaikan Terah bangkit meninggalkan Haran, pasti seluruh rombongannya, anak-cucu, hamba-hambanya semua akan mengikuti dia melanjutkan perjalanan ke Kana’an. Tapi karena Terah mengeram di Haran, seluruh rombongan ikut mengeram bersamanya. Kegagalan Terah menjadi kegagalan seluruh rombongan, paling tidak untuk masa itu. Kegagalan orangtua untuk tetap berjalan menuju Kana’an, bisa menjadi kegagalan anak-cucunya juga untuk mencapai Kana’an.

 

Mengikut Tuhan harus all out. Jangan berhenti di tengah. Sia-sia, tidak sampai Kana’an. Suatu awal yang baik, jika tidak diteruskan dengan ketetapan hati, tidak akan mencapai akhir yang baik.

 

Paulus berkata,

2 Timotius 4:7-8

7Aku telah mengakhiri pertarungan yang baik, aku telah menyelesaikan pertandingannya dan aku telah memelihara iman. 8 Akhirnya telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari itu; dan bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”.

 

 

 

10 04 26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar