Minggu, 11 Oktober 2015

151. THE GOLDEN RULES

151.  THE GOLDEN RULES

_____________________________________________________


Istilah ini sangat populer di kalangan orang Kristen maupun yang non-Kristen, dan separo dari isi the golden rules ini menjadi dasar banyak ajaran budi pekerti/moral secara universal, boleh dikatakan hampir semua kepercayaan dan tradisi yang ada di dunia ini mengakui separo dari isi the golden rules tersebut.

Mengapa aku bilang “separo”? Karena the golden rules ini sebenarnya terdiri atas dua bagian, tapi seringkali manusia hanya ingat bagiannya yang kedua.

 

Siapa yang menciptakan isi the golden rules ini? Tuhan!

Siapa yang memperkenalkan isi the golden rules ini kepada manusia? Yesus Kristus.

Tentu saja Yesus tidak menyebutnya “the golden rules”. Sebutan itu baru muncul di abad ke-17 untuk mengidentifikasi kedua peraturan inti ajaran Yesus Kristus ini.

 

Coba kita lihat apa yang diajarkan Yesus Kristus tentang kedua prinsip utama kekristenan. Ini bisa kita jumpai di kitab Matius, Markus dan Lukas. Kita tahu bahwa kitab-kitab Matius-Markus-Lukas disebut injil sinoptik, artinya mereka harus dipelajari bersama-sama karena banyak tulisan di dalamnya yang mengenai topik yang sama, itu saling menunjang dengan keterangan-keterangan yang sedikit berbeda, yang memperkaya satu sama lain.

 

 

Kita lihat apa yang tertulis di kitab Matius:

22:36       ‘Guru, Perintah manakah yang utama dalam Hukum?’

22:37       Yesus berkata kepadanya, ‘Engkau harus mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.

22:38       Itulah Perintah yang utama dan yang pertama.

22:39       Dan yang kedua, sama seperti itu: Engkau harus mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’ 

22:40       Pada kedua Perintah inilah tergantung seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi.

 

Sekarang kita lihat apa yang tertulis di kitab Markus:

12:28       Lalu seorang dari  para ahli Taurat datang, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan setelah melihat bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, bertanyalah kepadaNya: Hukum manakah yang paling utama?

12:29       Jawab Yesus, ‘Hukum yang terutama ialah, ‘Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa

12:30       ‘Engkau harus mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Inilah Perintah yang pertama…’  

12:31       Dan yang kedua ialah: Engkau harus mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada Perintah lain yang lebih utama daripada keduanya ini.’

 

Kita lihat apa yang ditulis di kitab Lukas:

10:26       Kata Yesus kepadanya, ‘Apa yang tertulis di Hukum Taurat? Apa yang kaubaca?’

10:27       Dan orang itu menjawab, berkata,Engaku harus mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’

10:28       Dan Yesus berkata kepadanya, ‘Jawabmu itu benar; lakukan itu, dan engkau akan hidup.’

 

 

Jadi dari tiga tulisan ini kita mendapatkan rangkuman sbb.:

 

 

FAKTA PERTAMA: HUKUM MANA YANG DIBICARAKAN?

Dari kitab Matius jelas yang dipertanyakan adalah Hukum Taurat. Berarti apakah Yesus menghapuskan Hukum Taurat? Sama sekali tidak. Karena kita lihat di kitab Lukas 10:28, Yesus berkata, lakukan itu, dan engkau akan hidup.”

Kalau disuruh “lakukan itu” oleh Yesus sendiri, jelas berarti Hukum Taurat itu masih berlaku, bukan?

 

Kita lihat sejenak ke Matius 5:17-18 di mana Yesus berkata,

17 Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan kitab Hukum atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: ‘Sampai lenyap langit dan bumi satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari Taurat, sampai semuanya digenapi.

 

Jadi, orang-orang Kristen yang menyangka bahwa seluruh Hukum Taurat sudah dihapus oleh Yesus, itu salah memahami isi Alkitab. Yesus sendiri menegaskan Dia tidak datang untuk meniadakan Hukum Taurat, tapi untuk menggenapinya.

Apa yang digenapi oleh Yesus? Upacara-upacara kurban, dan perayaan-perayaan Bait Suci yang semuanya itu adalah simbol/lambang atau bayangan dari pekerjaan penebusan Kristus.

Di dalam kitab Taurat ada banyak Hukum mengenai upacara kurban yang semuanya melambangkan pengorbanan Yesus di atas salib. Di zaman sebelum kedatangan Yesus, hewan-hewan kurban dipersembahkan sebagai lambang kematian Yesus kelak yang menggantikan manusia membayar hukuman dosa mereka. Yesus datang untuk menggenapi misi tersebut, Dia datang untuk dipersembahkan sebagai Domba Allah untuk membayar hukuman dosa manusia. Jadi setelah kematian Yesus di salib sebagai Domba Allah kurban yang sejati, bagian Hukum Taurat yang mengatur semua upacara kurban itu sudah digenapi, berarti sudah selesai kegunaanya. Bukan dihapus, tapi sudah digenapi, sudah berakhir. TAPI BAGIAN HUKUM TAURAT YANG TIDAK BERKAITAN DENGAN UPACARA KURBAN, YANG BELUM DIGENAPI, ITU TETAP BERLAKU, SAMPAI LENYAP LANGIT DAN BUMI INI kata Yesus sendiri.

 

 

FAKTA KEDUA: TUHAN ALLAH YANG DISEMBAH ITU ESA.

Jelas sekali Tuhan Allah menurut ajaran Kristen itu esa, satu, bukan tiga seperti yang sering disalahmengerti oleh banyak orang non-Kristen yang mengatakan Tuhan orang Kristen itu 3, Tuhannya bisa beranak lagi. Tidak. Itu suatu salah paham. Jelas di kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, baik Musa, Yesus, rasul Paulus, semua mengatakan Tuhan itu esa, satu.

 

Tetapi Alkitab memakai bentuk plural/jamak bila berbicara tentang Tuhan. Kita lihat di:

Kejadian 1:26.

Lalu Allah berfirman, ‘Baiklah Kita menjadikan manusia dalam gambar Kita, menurut rupa Kita’…

kata-kata Tuhan sendiri ketika akan menciptakan manusia.

 

Kejadian 3:22.

Lalu berfirmanlah TUHAN Allah: ‘Lihat, manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat;

kata-kata Tuhan sendiri setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa.

 

Kejadian 11:7

Mari, sebaiknya Kita turun dan mengacaukan  bahasa mereka di sana, sehingga mereka tidak mengerti lagi perkataan satu sama lain.

Kata-kata Tuhan sendiri ketika manusia setelah air bah, membangun menara Babel.

 

Jadi bagaimana? Tuhan itu esa, satu, tetapi di dalam kesatuan itu ada kepluralan, ada kejamakan, berarti keesaan Tuhan ini unik, lain daripada yang lain, KEESAAN TUHAN ITU KEESAAN YANG PLURAL ATAU KEESAAN YANG JAMAK.

Ada banyak ayat di Alkitab yang menjelaskan keesaan Tuhan yang jamak ini, yang kemudian orang Kristen menyebutnya SATU TUHAN TIGA PRIBADI, atau Tuhan Triuni, atau Trinitas. Istilah-istilah ini tidak ada di dalam Alkitab, tetapi konsep bahwa keesaan Tuhan itu mencakup tiga Pribadi, itu sangat jelas.

 

KEESAAN TUHAN ITU BUKAN DALAM JUMLAH,

MELAINKAN KEESAAN YANG SOLID

DALAM VISI, DALAM TUJUAN, DALAM KEHENDAK.

 

Salah satu contoh di mana ketiga Pribadi tersebut sama-sama menyatakan diri kepada manusia adalah pada saat pembaptisan Yesus. Kita lihat ayatnya:

Matius 3:16-17

Dan Yesus saat Dia sudah dibaptis, segera keluar dari air dan lihatlah, langit terbuka padaNya, dan Ia melihat Roh Allah turun seperti burung merpati dan hinggap pada-Nya, Dan dengar, suatu Suara dari sorga berkata: ‘Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku sangat berkenan.’

 

Jadi, pada saat itu lengkap ketiga Pribadi menyatakan Diri:

1.     Roh Allah (Roh Kudus) dalam bentuk burung merpati,

2.     Suara (Allah Bapa) dari Surga,

3.     Yesus (Allah Anak yang pada waktu itu sedang menjadi Manusia) yang disebut “Anak yang dikasihi” oleh suara dari Surga.

 

Roh Allah itu kadang disebut juga “Roh Kudus”, “Roh Suci”.

Yesus yang disebut “Anak” oleh Suara dari Surga itu, Dialah yang disebut “Anak Allah” atau “Allah Anak”.

Dan Yang menyebut Yesus AnakNya yang dikasihi, itu disebut “Allah Bapa”.

 

Apakah Allah Bapak bisa beranak? Tidak. Itu cuma istilah untuk menunjukkan keakrabannya. Konsep kasih sayang yang bisa dimengerti oleh manusia adalah konsep kasih sayang antara orangtua-anak, dan konsep kasih sayang antara suami-istri. Bagi manusia itu adalah hubungan yang paling dekat yang dikenal manusia. Karena itu Tuhan memakai konsep yang bisa dipahami manusia untuk menyatakan hubungan Mereka.

Hubungan antara Suara dari Surga dan Yesus yang di sungai Yordan itu BAGAIKAN hubungan bapak dengan anak.

Hubungan antara Yesus dengan jemaat/gerejaNya digambarkan BAGAIKAN hubungan seorang suami dengan istrinya (Efesus 5:25).

Apakah Yesus sungguh menikahi jemaatNya? Tidak. Itu hanya suatu konsep keakraban.

Begitu juga Suara dari Surga (yang disebut Allah Bapa) tidak memperanakkan Allah Anak, tetapi Tuhan menjelaskan konsep kedekatanNya seperti hubungan bapak kandung dengan anak kandungnya, yang bisa dimengerti manusia.

 

 

Apakah Yesus itu Allah atau manusia? Ini yang sering diperdebatkan. Apa kata Alkitab?

 

1 Timotius 2:5

Karena Allah itu satu, dan Pengantara itu satu antara Allah dan manusia, yaitu Manusia Kristus Yesus,

 

Yesus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Jelas Alkitab berkata begitu. Dia lahir sebagai manusia, hidup sebagai manusia selama 33 tahun lebih, dan mati sebagai manusia pada akhir misiNya. 100% manusia. Bukan 50% manusia dan 50% Allah, tapi 100% manusia.

Tetapi sebelum Dia lahir sebagai manusia, Dia sudah eksis bersama-sama dengan Allah Bapa dan Roh Allah (Roh Kudus).  Dia eksis dari kekekalan hingga kekekalan, Dia 100% Allah, dan salah satu namaNya adalah Firman. Kita lihat apa kata Alkitab.

 

Yohanes 1:1-3

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan FIRMAN itu adalah ALLAH. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi, dijadikan.

 

Jadi, Firman itu Allah, dan buktinya Dia Allah adalah Dia yang menciptakan segala sesuatu. Hanya Allah yang bisa menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, bukan? Selain Allah tidak ada yang bisa menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada.

Dari mana kita tahu Firman itu yang kemudian datang ke dunia sebagai manusia Yesus?

 

Yohanes 1:14

Firman itu telah menjadi daging (= manusia) dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan sebagai satu-satunya yang berasal dari  Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

 

Jadi, jelas Firman yang adalah Allah itu, yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah (Allah Bapa), pada suatu saat [kira-kira tahun 4 sM] Dia berinkarnasi menjadi manusia. Dan Dia dikenal sebagai Anak Allah Bapa. Ketika Dia hidup di dunia, Dia dikenal dengan nama Yesus.

Yesus itu 100% Allah yang menjadi 100% manusia.

Kalau menurut matematika, 100 + 100 = 200. Tapi Ini bicara kerohanian, 100% + 100% = 100%, ini yang namanya  KeallahanNya terbungkus dalam kemanusiaanNya. Katakanlah, untuk menjalankan misi penebusan, keallahanNya harus dinon-aktifkan sementara. Dia harus hidup 100% sebagai manusia biasa, sama seperti kita.

Lho, mana bisa 100% Allah dan 100% manusia?

Bisa, karena Dia Allah, ini kemahabisaan Allah yang tidak bisa dimengerti manusia, yang harus diterima dengan iman.

Allah itu Mahabisa. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Konsep keesaan Allah yang plural/jamak ini adalah suatu misteri dan tentunya tidak bisa dipahami secara penuh oleh otak manusia yang terbatas. Tetapi karena itu yang ada di Alkitab, maka orang Kristen yang meyakini Alkitab itu Firman Tuhan, menerima dengan iman apa yang belum bisa mereka pahami seperti yang tertulis di:

Ibrani 11:1

Nah, iman adalah substansi (wujud) dari hal-hal yang diharapkan, alasan untuk mempercayai hal-hal yang tidak dilihat.

Artinya melalui iman, hal-hal yang diharapkan menjadi punya wujud, dan melalui iman kita punya alasan untuk mempercayai hal-hal yang tidak atau belum pernah kita lihat.

 

 

FAKTA KETIGA: MENGASIHI TUHAN ALLAH

Dengan apa kita harus mengasihi Tuhan Allah? 

·       Dengan segenap hati,

·       segenap jiwa,

·       segenap kekuatan,

·       segenap akal budi.

 

Wow! Berarti ini adalah dengan seluruh esensi kemanusiaan kita! Tidak ada yang tersisa. Tidak ada celah sedikit pun yang bisa ditempati oleh yang lain. Perkataan “segenap” di situ sudah jelas  berarti  keseluruhan.

Segenap hati artinya seluruh aspek spiritual, hati nurani kita.

Segenap jiwa artinya seluruh naluri kita.

Segenap kekuatan artinya seluruh aspek jasmani kita

Segenap akal budi artinya seluruh aspek mental kita.

 

Yesus pernah menjelaskannya di Matius 10:37

Dia yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan dia yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku

 

Jadi Tuhan harus menjadi yang paling utama dan paling pertama dalam hidup kita. Orangtua, anak-anak kita walaupun itu adalah harta kita yang paling berharga, orang-orang yang paling kita kasihi, tetapi Tuhan berkata, Tuhan harus dikasihi melebihi kasih kita kepada orangtua atau anak-anak kita. Tuhan harus menjadi nomor satu. Kasih kita kepada Tuhan tidak boleh dikalahkan oleh kasih kita kepada semua yang lain. Mengapa?

Karena Tuhan itu 100% setia, 100% bisa diandalkan, 100% tidak pernah berubah, 100% adil, 100% benar. Manusia ~ walaupun itu orangtua atau pasangan atau anak-anak kita ~ tidak selalu 100% bisa kita andalkan. Jika kita mau selamat, yang pertama dan terutama ialah kita harus mengasihi Allah.

Tidak berarti kita boleh tidak mengasihi orangtua atau pasangan atau anak-anak kita. Tetapi bilamana kita tiba pada suatu persimpangan, harus memilih antara Tuhan dengan keluarga terdekat kita, maka jika kita tidak memilih Tuhan, menurut Tuhan, kita tidak layak menjadi pengikutNya.

Pahamilah, Tuhan selalu benar, Tuhan tidak mungkin salah. Manusia tidak selamanya benar. Karena itu jika kita mau benar, kalau kita mau selamat, kita harus memilih ikut Tuhan di atas manusia.

Karena itulah Yesus berkata bahwa INI ADALAH HUKUM YANG TERUTAMA DAN PERTAMA. Kalau sudah yang terutama dan pertama, apa masih ada yang lain yang mengunggulinya? Tidak ada lagi. Sudah yang paling top dari yang top.

 

Sekarang kita tiba pada definisi, apa buktinya kita mengasihi Tuhan? Dengan menyebut “Tuhan, Tuhan” setiap saat? Tidak. Ini kata Yesus, definisi orang yang mengasihi Tuhan:

Yohanes 14:15

Jikalau kamu mengasihi Aku, turuti Perintah-perintah-Ku.

 

Singkat, jelas.

Yesus berkata “menuruti Perintah-perintah-Ku”, artinya tidak pilih-pilih, yang ini cocok buat aku, aku turut; yang itu tidak cocok dengan perasaanku, ya tidak aku turuti. Tidak, Yesus berkata PERINTAH-perintahKU. Satu paket, semuanya yang diperintahkan Tuhan.

Perintah Tuhan yang mana?

Tentu saja yang paling fundamental ialah ke-10 Perintah Allah  (10 Commandments) lengkap dan asli sepuluh-sepuluhnya tanpa direvisi;  juga peraturan-peraturan Tuhan yang lain, misalnya tentang makanan yang baik dimakan, dan tidak menajiskan diri dengan makan hewan yang digolongkan najis dimakan oleh Tuhan; pokoknya semua perintah dan ketentuan yang telah diberikan Tuhan kepada kita yang ada di dalam Alkitab.

 

Jika kita tidak menuruti semua Perintah Tuhan, maka itu membuktikan kita tidak mengasihi Tuhan, apalagi mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal budi kita.

Dan jika kita tidak mengasihi Tuhan, maka kita telah melanggar Hukum yang pertama dan terutama dari the golden rules.

 

 

FAKTA KEEMPAT: MENGASIHI SESAMA MANUSIA

Kita harus mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Ini Hukum yang kedua.

 

Mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri sudah sangat jelas artinya. Dan itu sudah dijabarkan Tuhan dalam 10 PerintahNya, mulai Hukum ke-5 sampai ke-10.

v   Hormatilah orangtua,

jangan ditelantarkan, jangan dikurangajari, tuntun mereka dengan sabar, jangan sakiti hati mereka, obati penyakit mereka, penuhi kebutuhan batin mereka, sayangi mereka, peliharalah dengan baik hingga hari tua mereka, hingga mereka menutup mata dengan tenang.

 

v   Jangan membunuh,

baik itu membunuh secara fisik maupun secara mental, membenci orang, merusak reputasi orang, menghilangkan kesempatan orang untuk mencari nafkah, menyikut orang dalam pekerjaan, semua itu ada dalam klausul jangan membunuh ini. Juga termasuk bila kita memberi orang lain makanan yang merusak kesehatan. Jangan memproduksi makanan yang penuh dengan obat, para ibu harus berhati-hati menyajikan makanan bagi keluarganya karena itu sama seperti membunuh mereka dengan perlahan-lahan, jangan menjual makanan yang sebenarnya tidak layak dimakan demi laba, yang akan meracuni orang lain.

Jangan membunuh termasuk juga jangan membunuh diri sendiri dengan pola hidup dan pola makan yang tidak sehat, jangan merusak kesehatan sendiri, jangan membunuh diri perlahan-lahan.

 

v   Jangan berzinah,

ini juga luas spektrumnya. Berzinah adalah menjalin hubungan yang tidak diperbolehkan baik secara Hukum maupun secara ajaran agama. Termasuk di dalamnya hubungan incest, selingkuh, hubungan sesama jenis, hubungan gelap, hubungan dengan pasangan orang. Dan menurut Yesus, tidak perlu kita sudah melakukan hubungan fisiknya, tetapi dengan menginginkannya saja, dengan ngiler saja atau menelan air ludah saja, sudah termasuk melanggar Hukum ini.

 

v   Jangan mencuri. Apa saja.

Termasuk mencuri waktu, mencuri kesempatan, mencuri hak, mencuri harta. Apa pun yang bukan milik kita, tidak boleh kita ambil.

 

v   Jangan bersaksi dusta,

termasuk di dalamnya menggosip, menambah-nambahi cerita, berbohong, menipu.

Termasuk di dalamnya juga mengajarkan hal-hal yang salah kepada orang lain, apalagi kalau itu mengenai doktrin agama, menjadi guru palsu, segala perbuatan yang merugikan orang lain baik secara jasmani, secara finansial, secara mental, dan secara rohani.

 

v   Jangan serakah.

Syukuri apa yang kita miliki. Jangan mengingini milik orang lain. Jangan mengingini apa yang bukan hak kita. Banyak kali karena mengingini milik orang lain kita berbuat dosa-dosa yang lain.

 

Itu semua baru “jangan-jangan-jangan”, itu larangannya. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai bentuk/bukti kita mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri?

Apakah kita ingin selamat? Ingin beroleh hidup kekal? Kalau begitu, berupayalah supaya orang lain juga bisa selamat, bisa beroleh hidup kekal. Dengan apa? Dengan menyampaikan Firman Tuhan kepada mereka, dengan menunjukkan bagaimana caranya mereka bisa selamat. Itulah pemberian terbesar yang bisa kita berikan kepada seseorang, yaitu bila kita bisa memperkenalkan mereka kepada Jalan Keselamatan. Memang setiap orang harus membuat keputusannya sendiri, tetapi bila kita mengasihi mereka, kita akan berupaya supaya mereka tahu mana pilihan yang terbaik. Maka mereka bukan hanya mendapatkan manfaatnya selama kehidupan mereka yang singkat di dunia ini, tetapi mereka akan bisa menikmati manfaatnya untuk selama-lamanya di dunia baru yang kekal kelak.

 

Apakah kita suka hidup tenang dan damai, penuh sejahtera? Kalau begitu berupayalah supaya kita juga bisa memberikan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan kepada orang lain, dengan membantu mereka baik secara moral maupun materi. Ada banyak cara sesuai situasi dan kondisi masing-masing, tapi kita bisa mengupayakannya. Ada saja yang bisa kita lakukan untuk meringankan penderitaan dan kekurangan orang lain. Perbuatan baik sekecil apa pun, bila itu bisa meringankan penderitaan orang lain, walaupun itu hanya untuk sehari, bukan untuk permanen, itu sudah memberi sedikit harapan untuk berjuang lagi besoknya. Dan hendaklah kita ingat, apa yang kita lakukan, itu kita lakukan untuk Kristus. Ini kata Kristus sendiri:

 

Matius 25:40 berkata:

Dan Raja itu akan menjawab mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seberapa banyak  yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.’

 

 

FAKTA KELIMA: THE GOLDEN RULES MERUPAKAN DASAR

Semua Hukum Taurat dan kitab para nabi (= Kitab Perjanjian Lama), berdasarkan kedua Hukum tersebut.

Jadi inti dari seluruh Alkitab adalah KASIH.

Tuhan mau mengajarkan bahwa hanya kasihlah yang menunjang kelestarian hidup. Tuhan sudah menunjukkan kasihNya kepada kita manusia. Kita pun perlu belajar untuk mengasihi Tuhan di atas segala-galanya, dan juga mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri.

 

 

FAKTA KEENAM: KASIH KEPADA TUHAN DI ATAS KASIH KEPADA MANUSIA

Sudah disebutkan bahwa kasih kepada Tuhan adalah golden rule yang terutama dan pertama. Baru kasih kepada sesama manusia seperti kepada diri sendiri di urutan kedua. Berarti kasih kepada manusia, termasuk kepada diri sendiri, tidak boleh melebihi kasih kepada Tuhan. Bagaimana pun juga kasih kepada Tuhan haruslah yang terutama dan pertama.

 

Jika kita mengasihi Tuhan, karena kita mengasihi Tuhan, kita bisa belajar mengasihi sesama manusia, mengingat bahwa semua manusia itu ciptaan Tuhan, dan Tuhan juga mati untuk menebus mereka, Tuhan mengasihi mereka juga. 

Kasih kita kepada Tuhan akan melembutkan hati kita untuk sanggup mengasihi manusia lain yang mungkin tidak mudah dikasihi. Manusia banyak yang menjengkelkan. Bahkan kita sendiri harus menyadari bahwa kita ini juga sering menjengkelkan orang lain. Tapi kalau kita yang menjengkelkan ini dikasihi oleh Tuhan, maka kita juga harus belajar mengasihi orang lain yang dikasihi oleh Tuhan.

1 Yohanes 4:21

Dan perintah ini kita terima dari Dia, yakni dia yang mengasihi Allah, mengasihi saudaranya juga.

 

Tuhan tidak memarahi kita kalau kita berbuat kesalahan. Tuhan tidak mengolok-olok kita. Tuhan tidak merugikan kita. Tuhan tidak mempermalukan kita. Maka kalau ada yang menyalahi kita, kita juga harus berbuat sebagaimana kita ingin Tuhan memperlakukan kita saat kita yang bikin kesalahan, yaitu memberinya maaf. Itu namanya mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Berbuat kepada orang lain seperti kita ingin orang lain berbuat kepada kita.

 

Ada pendapat manusia yang mengatakan, jika kita mengasihi manusia itu buktinya kita mengasihi Tuhan. Kedengarannya bagus sekali pendapat itu, tapi sayangnya ini tidak alkitabiah.  Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada manusia itu dua hal yang berbeda, seperti yang dikatakan Yesus. Kasih kepada Tuhan harus total, dengan segenapnya segenap esensi kita. Dan itu hanya dibuktikan dengan “TURUTI PERINTAH-PERINTAH-KU.” [Yohanes 14:15] bukan dibuktikan dengan mengasihi sesama manusia.

Banyak filantropis dermawan di dunia ini yang sama sekali tidak menyembah Tuhan, mereka sangat mengasihi sesama manusia, melakukan banyak hal yang mengagumkan bagi sesama manusia, tapi mereka tidak mengasihi Tuhan karena mereka tidak melakukan semua perintah Tuhan. Jadi mengasihi sesama manusia tidak bisa menjadi ukuran bahwa itu mengasihi Tuhan.

Jika kita mengasihi Tuhan, maka demi kasih kita kepada Tuhan, kita akan mengasihi sesama  manusia. Jika kita mengasihi sesama manusia, kita belum tentu mengakui Tuhan apalagi mengasihiNya.

Jadi, jika kita mau aman, lebih baik pakai definisi Alkitab, karena pasti benernya. Kalau kita pakai pendapat manusia, bisa tidak sesuai dengan Alkitab, dan apa yang tidak sesuai dengan Alkitab, bisa-bisa salah di mata Tuhan.

 

Tetapi harus kita ingat, jika kita tidak mengasihi sesama manusia, maka itu buktinya sesungguhnya kita tidak mengasihi Tuhan.

1 Yohanes 4:20

Jikalau seorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah,’ dan membenci saudaranya,  ia seorang pendusta, karena dia yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, mana bisa dia mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya?

 

 

FAKTA KETUJUH: THE GOLDEN RULES HARUS DIHIDUPKAN BUKAN HANYA UNTUK DIKETAHUI

Kedua Hukum itu bukan hanya untuk diketahui atau dihafalkan, tapi dihidupkan. Jika kita perbuat atau kita lakukan, maka kita akan hidup. Hidup mana yang dimaksud Yesus? Apakah orang [ahli taurat] yang berbicara dengan Yesus itu tidak sedang hidup? Ya, dia kan sudah hidup. Lalu hidup mana lagi yang dimaksud Yesus?

Yang dimaksud Yesus bukanlah hidup kodrati orang tersebut, karena Yesus berkata,  lakukan itu, dan engkau akan hidup” (Lukas 10:28) Kata “akan” menandakan Yesus berbicara tentang sesuatu yang belum terjadi. Maka sangat jelas yang dimaksud Yesus di sini adalah HIDUP KEKAL yang dijanjikanNya kepada orang-orang yang selamat kelak pada saat kebangkitan mereka.

Berarti,  dengan melakukan the golden rules ini kita membuktikan bahwa kita sungguh sudah selamat dan akan mendapat karunia hidup kekal, kita akan sampai ke Surga, kita akan mewarisi bumi setelah bumi ini diperbarui.

 

 

FAKTA KEDELAPAN: THE GOLDEN RULES HANYA BUAT MEREKA YANG SUDAH SELAMAT

KITA TIDAK SELAMAT KARENA MELAKUKAN THE GOLDEN RULES.

Bukankah Efesus 2:8-9 mengatakan,

8 Karena oleh kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman, dan itu bukan karena usaha kamu, itu adalah pemberian Allah, 9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan sampai ada orang yang memegahkan dirinya

 

Betul, kita diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan, yang kita terima melalui iman dalam Yesus Kristus, dan itu bukan karena hasil pekerjaan kita. Ini berbicara tentang pertama kalinya kita menerima keselamatan. Pada waktu kita masih penuh dosa, tidak tahu kebenaran, kita diberi keselamatan oleh Tuhan, gratis, asal kita beriman kepada Kristus, asal kita percaya Tuhan Yesus Kristus telah menebus dan menyelamatkan kita, kita memperolehnya.

 

Tetapi, the golden rules ini bicara tentang SETELAH KITA SELAMAT.

 

Lihat, di Alkitab, yang bertanya kepada Yesus bukan orang kafir yang belum selamat yang tidak tahu tentang Tuhan. Yang bertanya itu seorang ahli Taurat, orang yang kenal Tuhan, tahu Hukum-hukum Tuhan, tahu kebenaran, dan seharusnya sudah diselamatkan. Tetapi kepada orang tersebut, Yesus berkata, lakukan itu, dan engkau akan hidup.” Berarti apa? Orang yang sudah diselamatkan itu, ahli Taurat yang sudah kenal Tuhan dan sudah tahu kebenaran itu, HARUS TERUS MELAKUKAN THE GOLDEN RULES, supaya dia kelak boleh mendapatkan hidup kekal.

Jika dia tidak melakukan the golden rules bagaimana? Ya kelak tidak mendapatkan hidup kekal walaupun dia sudah beriman kepada Yesus.

 

Karena itu, beriman saja kepada Yesus itu cukup sebagai langkah pertama untuk menyelamatkan kita. Tetapi selanjutnya, setelah kita selamat, setelah dosa-dosa kita yang lalu diampuni, setelah kita tahu kebenaran, maka kita harus membuktikan bahwa kita benar-benar sudah selamat, dan kita membuktikannya dengan melakukan the golden rules. Ini bukan kataku, tapi ini kata Yesus sendiri.

 

 

Pertanyaannya: bisakah kita melakukan the golden rules?

Rasul Paulus mengatakan bahwa kita semua cenderung berbuat yang tidak baik.

Roma 7:18-19

Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam kedaginganku, tidak ada apa pun yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bagaimana melakukan apa yang baik itu tidak kutemukan. Sebab yang baik, yang ingin aku perbuat, tidak kulakukan; melainkan yang jahat yang tidak aku inginkan, itu  yang aku perbuat.

Jadi, jika mengandalkan kemampuan kita sendiri, pasti kita tidak bisa melakukan perbuatan yang baik. Tetapi dengan mengizinkan Roh Kudus bekerja di dalam hidup kita, kita bisa.  Lihat apa kata rasul Paulus.

 

2 Korintus 3:5

Bukanlah kami sanggup dari diri kami sendiri untuk menganggap apa pun berasal dari diri kami sendiri, melainkan kesanggupan kami berasal dari Allah.

 

Rom 8:26.

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri memohon untuk kita kepada Allah dengan rintihan yang tidak terucapkan.

 

Bagaimana dengan Yesus sendiri, lihat apa kataNya ketika Dia hidup di dunia sebagai manusia 100%:

Yohanes 5:30

Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari Diri-ku sendiri… Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Bapa yang mengutus Aku.”

 

Dari sejak zaman dahulu tidak ada manusia yang sanggup melakukan kebaikan sendiri, semuanya itu hanya bisa jadi bila Roh Tuhan yang membimbingnya. Lihat apa kata Tuhan kepada Zerubabel,

Zakharia 4:6

Lalu ia menjawab dan berkata kepadaku, katanya: ‘Inilah Firman TUHAN kepada Zerubabel, mengatakan, ‘Bukan dengan keperkasaan maupun dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku,’ firman TUHAN semesta alam.

 

Karena itu Paulus menulis di:

Galatia 5:25

Jikalau kita hidup dalam Roh, hendaklah kita juga hidup menurut Roh.

 

2 Tesalonika 2:13

Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah bagi kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan melalui pengudusan oleh Roh dan iman dalam kebenaran.

 

Jadi bagaimana kita ini diselamatkan menurut ayat di atas?

Kita diselamatkan melalui:

1.   pengudusan oleh Roh dan

2.   iman dalam kebenaran.

 

Semua orang Kristen sudah tahu bahwa kita menerima keselamatan melalui iman kita (Efesus 2:8). Tetapi banyak yang tidak tahu bahwa masih ada lagi syarat yang lain, yaitu kita harus tetap selamat sampai akhir melalui pengudusan oleh Roh. Artinya Roh Tuhan atau Roh Kudus yang bekerja di dalam kita supaya kita menjadi kudus. Karena kalau kita tidak kudus, kita tidak akan melihat Tuhan, artinya kita tidak selamat sampai akhir walaupun kita sudah mengimani bahwa Yesus itu Juruselamat dan Tuhan kita. Karena itu rasul Paulus menasihati kita demikian:

Ibrani 12:14

Kejarlah kedamaian dengan semua orang dan kekudusan tanpa mana tidak seorang pun akan melihat Tuhan

 

Kudus artinya tidak berbuat dosa.

Dosa adalah melanggar Hukum Tuhan (1 Yohanes 3:4)

Maka kudus berarti tidak melanggar Hukum Tuhan. Semuanya.  

Dengan kata lain, kudus  ialah melakukan segala perintah Tuhan. (Yohanes 14:15)

Melakukan segala perintah Tuhan artinya mengasihi Tuhan.

Maka hidup kudus berarti kita mengasihi Tuhan.

Dibolak-balik akhirnya intinya ialah kembali kepada penurutan kepada segala Hukum/perintah/peraturan Tuhan.

 

Maka biarlah kita selalu ingat kepada the golden rules yang diberikan Yesus supaya kita hidup selaras dengan perintah tersebut:

  1. Mengasihi Tuhan Allah kita dengan seluruh esensi kita, tanpa alasan, tanpa celah.
  2. Mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri sebagai bukti kita mengasihi Tuhan.

 

Mohon Roh Tuhan yang memimpin hidup kita dan membawa kita kepada pengudusan.

 

 

 

11 10 15

 

 

 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar