Selasa, 17 Maret 2015

144. HUKUM YANG MEMERDEKAKAN BUKAN MERDEKA DARI HUKUM

144. HUKUM YANG MEMERDEKAKAN

BUKAN MERDEKA DARI HUKUM

_____________________________________________________

Roma 8:2

karena Hukum Roh yang memberi hidup dalam Kristus Yesus, telah memerdekakan aku dari hukum dosa dan maut.

 

Karena ayat ini, banyak orang Kristen mengatakan bahwa Kristus sudah menghapus Hukum Taurat dan sudah memerdekakan kita dari tuntutan Hukum Taurat.  Ini adalah pemahaman Alkitab yang tidak tepat, dan ajaran yang menyimpang dari Alkitab. Membaca Alkitab tidak boleh hanya mengambil 1-2 ayat, tapi harus seluruh isi Alkitab itu, karena semua tulisan di Alkitab itu diilhami oleh Roh Kudus, jadi tidak ada yang bertentangan.

 

BEDA BESAR SEKALI ANTARA

“HUKUM YANG MEMERDEKAKAN”

DENGAN

“MERDEKA DARI HUKUM”

 

 

KRISTUS TIDAK MENGGANTIKAN HUKUM TAURAT, DIALAH  MANIFESTASI YANG HIDUP DARI  HUKUM TAURAT ITU.

Hukum Taurat itu siapa yang bikin? Tuhan!

Maka jika ketetapan yang dibuat oleh Tuhan dilanggar, apa namanya? Dosa.

 

1 Yohanes 3:4

Siapa yang berbuat dosa, juga melanggar Hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran Hukum Allah.

 

Jelas sekali deskripsinya.

Manusia selalu berusaha menghapus Hukum Allah, mengira dengan demikian mereka bisa menghapus dosa. Tapi, dosa justru semakin merebak di dunia.

 

Waktu Kristus hidup di dunia ini, apakah Dia pernah berbuat dosa? Tidak.

Berarti Dia tidak pernah melanggar Hukum Allah. Dialah manifestasi dari Hukum Taurat itu, karena Dia patuh kepada semua Hukum Taurat, Kristus-lah Hukum Taurat yang hidup, bernapas dan berjalan.

Dan Dia mengajarkan kepada manusia, bagaimana cara melakukan Hukum Taurat dengan baik dan benar. Bukan seperti yang diajarkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu sendiri tidak tahu bagaimana seharusnya menghidupkan Hukum Taurat itu. Karena itu yang mereka ajarkan kepada umat juga adalah Hukum Taurat versi pemahaman mereka sendiri, bukan Hukum TAURAT VERSI TUHAN.

Nah, Kristus datang untuk meluruskan apa yang bengkok ini. Kristus menunjukkan bagaimana seharusnya menghidupkan Hukum Taurat itu menurut versi Tuhan. Karena itu Kristus sendiri berkata di Matius 5:17-18:

5:17         Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan kitab Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

5:18         Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: ‘Sampai lenyap langit dan bumi  satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari Taurat, sampai semuanya digenapi.

 

Jadi, apakah Hukum Taurat itu dihapus oleh Kristus? TIDAK!

Bahkan Kristus berkata, Sampai lenyap langit dan bumi  satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari Taurat.”

Bayangkan! Sampai lenyap langit dan bumi ini, Hukum Taurat itu tetap utuh! Apalagi sekarang langit dan bumi ini belum lenyap, kenapa banyak orang justru mau melenyapkan Hukum Taurat itu?

 

Jadi apakah orang Kristen harus menghidupkan Hukum Taurat? HARUS!

1 Yohanes 2:6

Dia yang mengatakan bahwa ia tinggal di dalam Dia, ia sendiri wajib hidup sedemikian rupa, yang sama seperti Kristus telah hidup.

 

Bagaimana Kristus hidup? Patuh kepada Hukum Taurat, karena Kristus tidak pernah berbuat dosa.

Dan dikatakan di sini “wajib”, jadi bukan “boleh atau tidak”, “suka-suka yang mau”, melainkan “WAJIB”.  WAJIB itu artinya HARUS, tidak ada pilihan yang lain.

Jadi bagaimana Kristus dulu hidup, itu yang harus kita ikuti.

Lalu ada orang-orang sinis yang berkata, “Kristus berjalan kaki ke mana-mana, berarti kita tidak boleh naik kendaraan.”

Bukan begitu.

Yang kita tiru itu prinsip hidupNya.

ü   Kristus tidak melanggar Hukum Allah, itu yang harus kita ikuti.

ü   Kristus tidak berbuat dosa, itu yang harus kita ikuti.

ü   Kristus mengasihi Allah, itu yang harus kita ikuti.

ü   Kristus mengasihi sesama, itu yang harus kita ikuti.

ü   Kristus berserah total kepada Allah Bapa, itu yang kita ikuti.

Jadi Hukum Allah itu tetap ada, dan tetap tidak boleh dilanggar! Dan Kristus memberi contoh untuk mematuhi Hukum Allah, bukan melanggarnya.

 

 

Sekarang ada beberapa ayat yang sering dipakai orang untuk mengatakan bahwa kita sudah merdeka dari Hukum, maksud mereka Hukum tidak mengikat kita lagi, kita tidak usah mematuhi Hukum.

APAKAH BENAR KRISTUS MEMERDEKAKAN KITA DARI HUKUM?

 

Mari kita lihat beberapa ayat yang bicara soal “memerdekakan” ini.

 

Dari lima ayat ini TIDAK ADA SATU PUN AYAT YANG MENGATAKAN BAHWA KRISTUS MEMERDEKAKAN KITA DARI HUKUM TAURAT!

a)   Mari kita lihat Roma 8:2:

Kita lihat terjemahan KJV (KJV adalah terjemahan yang paling dekat dengan salinan naskah aslinya, terjemahan LAI sering kurang tepat.)

For the law of the Spirit of life in Christ Jesus hath made me free from the law of sin and death.”

Ini kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia,  karena Hukum Roh yang memberi hidup dalam Kristus Yesus, telah memerdekakan aku dari hukum dosa dan maut.

Jadi kita dimerdekakan dari apa? Dari Hukum Dosa dan maut (kematian kekal).

Apa yang dimaksud dengan Hukum dosa?  

Paulus di sini sudah memberikan jawabannya. Hukum dosa adalah maut atau kematian kekal. Kalau manusia berdosa  upahnya adalah kematian, kan? “Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23).

Apa ayat ini mengatakan kita dimerdekakan dari Hukum Taurat? Sama sekali tidak.  Ayat ini mengatakan bahwa kita dimerdekakan dari Hukum Dosa! Jangan salah mengerti.

Bagaimana kita bisa dimerdekakan atau dibebaskan dari Hukum Dosa?

Kalau kita hidup dalam Hukum Roh, yaitu bila kita hidup dalam Kristus Yesus. Jadi ada syaratnya. Kita bisa dimerdekakan dari Hukum Dosa (yaitu kematian kekal), jika kita hidup dalam Hukum Roh (yaitu hidup dalam Kristus Yesus).

Jelas sekarang ayat ini?

 

Mari kita  baca perikop ini supaya semakin jelas.

8:3           Sebab apa yang tidak bisa dilakukan Hukum Taurat karena melalui daging ia lemah, Allah dengan mengutus Anak-Nya sendiri dalam keserupaan dengan daging yang berdosa,  dan untuk dosa, telah menghukum dosa dalam daging.

Inilah ayat yang sering dipakai orang Kristen untuk mengatakan bahwa karena manusia itu daging yang lemah, tidak mungkin bisa melakukan Hukum Taurat, Kristus sudah melakukan penurutan itu untuk kita, maka kita sendiri sudah tidak usah melakukannya.

Memang benar Kristus sebagai 100% manusia, yang punya kelemahan yang sama seperti kita, telah membuktikan Dia bisa memenuhi seluruh tuntutan Hukum Tuhan dan mematuhinya tanpa cacat cela, karena Dia sepenuhnya berserah kepada tuntunan dan kehendak Allah Bapa. Karena itu Dia telah menghukum dosa dalam kedagingan, Dia telah membuktikan bahwa daging bisa mengalahkan dosa.

Tapi tunggu dulu, tidak ada kata-kata di tulisan Paulus ini yang mengatakan oleh karena Kristus bisa melakukannya dengan sempurna lalu kita tidak usah melakukannya sendiri! Sebaliknya 1 Yohanes 2:6 tadi malah mengatakan bahwa kita wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. Berarti kita wajib meniru Kristus, wajib mengikuti teladan yang diberikan Kristus.

 

8:4           supaya tuntutan Hukum Taurat boleh digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.

Ayat ini justru menekankan bahwa tuntutan Hukum Taurat boleh atau bisa digenapi di dalam kita.” Jadi itu bukan mustahil. Tuntutan Hukum Taurat bisa digenapi di dalam kita, bukan dihapuskan bagi kita. Jangan salah membaca.

Bagaimana caranya?

Kita tidak hidup menurut daging tetapi menurut Roh.

 

Apa bedanya “hidup menurut daging” dan “menurut Roh”? Jawabannya ada di ayat-ayat berikutnya.

 

8:5           Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; tetapi mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.

8:6           Karena berpikiran jasmani (menurut daging) adalah maut, tetapi berpikiran rohani adalah hidup dan damai sejahtera.

8:7           Sebab pikiran yang jasmani itu perseteruan melawan Allah, karena ia tidak takluk kepada Hukum Allah; dan memang tidak bisa.

8:8           Maka dengan demikian, mereka yang hidup dalam daging, tidak bisa menyenangkan Allah.

8:9           Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang demikian, Roh Allah diam di dalam kamu. Nah, siapa pun yang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.

8:10         Dan jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh itu mati karena dosa, tetapi Roh itulah hidup karena kebenaran.

 

Paulus menjelaskannya dengan sangat terang di sini. Jadi kalau diperinci di sini,

Berpikiran menurut daging = pikiran yang jasmani itu:

ü  Memikirkan hal-hal daging/jasmani

ü  Itu menuju maut, karena dosa

ü  Itu perseteruan melawan Allah

ü  Tidak mungkin bisa patuh kepada Hukum Allah

ü  Tidak berkenan kepada Allah

ü  Bukan milik Kristus

 

Sebaliknya hidup menurut Roh itu:

ü  Memikirkan hal-hal yang rohani

ü  Itu menuju hidup dan damai sejahtera

ü  Hidup karena kebenaran

ü  Berkenan kepada Allah

ü  Takluk kepada Hukum Allah

ü  Memiliki Roh Kristus

 

Coba direnungkan lagi. Yang mengaku umat Allah adalah orang-orang yang hidup dalam Roh, kan? JADI BUKAN ORANG YANG HIDUP DALAM ROH MALAH TIDAK PATUH KEPADA HUKUM ALLAH, mereka justru takluk atau patuh kepada Hukum Allah.

Ayat-ayat ini tidak berkata bahwa umat Allah itu merdeka dari Hukum Allah, tapi mereka merdeka dari dosa dan kematian. 

 

Jadi apa yang memerdekakan? Hukum ROH YANG HIDUP atau terjemahan yang lebih tepat adalah Hukum ROH YANG MEMBERI HIDUP.

Hukum Roh yang memberi hidup itu apa? Bila kita hidup di dalam Roh, kita beroleh hidup (kekal).

Hidup di dalam Roh itu berlawanan dengan hidup di dalam daging, sedangkan hidup di dalam daging itu TIDAK patuh kepada Hukum Allah (ay 7), maka hidup di dalam Roh itu PATUH KEPADA HUKUM ALLAH.

 

Berarti PATUH KEPADA HUKUM ALLAH memerdekakan kita dari apa? Dari Hukum Dosa dan maut (kematian kekal) (Kematian kekal/maut itulah upah dosa).

 

Maka menurut Roma 8:2, apakah orang Kristen harus PATUH KEPADA HUKUM ALLAH supaya boleh merdeka dari Hukum dosa yaitu kematian kekal?  YA IYALAH kalau tidak ingin kena Hukum dosa!

 

Kita lihat contoh yang lain.

 

 

b)   Yohanes 8:36.

Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu maka kamu baru benar-benar merdeka.

Kalau kita baca seluruh perikopnya ini adalah pembicaraan Yesus dengan orang-orang Yahudi yang mempercayai Dia. Orang-orang Yahudi ini dibesarkan dan dididik oleh ajaran-ajaran orang Farisi dan para ahli Taurat yang banyak salahnya. Sekarang Yesus berkata kepada mereka,

Yohanes 8:31-32

31 Lalu kata Yesus kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya, ‘Jika kamu tetap dalam Firman-Ku, maka kamu benar-benar murid-Ku 32dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.’

Yesus berkata kepada mereka, “Dengarkan firmanKu, dengarkan ajaranKu. AjaranKu ini yang benar, bukan apa yang dikatakan orang-orang Farisi. Dan kalau kamu berpegang pada ajaranKu, kamu akan tahu kebenaran itu apa, dan kebenaran itu yang akan memerdekakan kamu.”

 

Memerdekakan dari apa?

Dari konsep-konsep yang salah yang sudah ditanamkan kepada mereka oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat.

Apakah konsep-konsep yang salah itu bisa menyelamatkan? Tidak. Mereka malah mendatangkan kematian, karena salah.

Maka memerdekakan dari konsep-konsep yang salah sama dengan memerdekakan dari kematian. Bisa dipahami?

Orang-orang Yahudi itu belum mengerti, dan mereka mengatakan, “Kami ini orang merdeka, kami bukan hamba siapa-siapa. Kami ini sudah merdeka.”  Orang-orang Yahudi ini tidak mengerti bahwa Yesus bicara soal kerohanian, orang Yahudi bicara soal jasmani. Memang secara jasmani mereka bukan hamba siapa-siapa, tetapi secara rohani mereka sudah terbelenggu konsep ajaran kerohanian yang salah. Dan Yesus berkata, “Kalau kamu berpegang pada FirmanKu, pada ajaranKu, maka kamu akan terbebas dari konsep ajaran kerohanian yang salah, kamu akan terbebas dari kematian kekal, kamu akan tahu kebenaran itu apa, dan kebenaran itu adalah hidup kekal.”

 

AYAT INI TIDAK BERKATA BAHWA YESUS MEMERDEKAKAN KITA DARI HUKUM TAURAT ATAU HUKUM TUHAN, melainkan dari konsep/ajaran kerohanian yang salah.

 

 

c)   Galatia 5:1.

Oleh karena itu, berdirilah teguh dalam kemerdekaan dengan mana Kristus telah memerdekakan kita, dan jangan terjerat lagi oleh kuk perhambaan

Lihat, dikatakan di sini Kristus telah memerdekakan kita. Berarti dosa kita yang lalu sudah diampuni, kita sudah tidak di bawah cengkeraman dosa. Tapi bisakah kita kembali dicengkeram dosa? Bisa! Karena itu Paulus mengingatkan, jangan terjerat lagi oleh kuk perhambaan.”

 

“Kuk perhambaan” apa yang dibicarakan di sini? Mari kita baca tulisan Paulus tentang perhambaan ini supaya kita mengerti perhambaan apa yang dimaksudnya:

Roma 6:17-18

17 Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu kamu hamba dosa, tetapi kamu telah mematuhi dari hatimu bentuk ajaran yang disampaikan kepadamu itu. 18 Setelah dimerdekakan dari dosa, kamu menjadi hamba kebenaran.

Apa Paulus mengatakan ini kuk perhambaan Hukum Taurat? Sama sekali bukan! Tapi KUK PERHAMBAAN DOSA! 

Hamba dosa itu apa? Hamba dosa itu terus-menerus melanggar Hukum Tuhan, ketagihan melanggar Hukum Tuhan, tidak takut melanggar Hukum Tuhan, tidak punya keinginan untuk bertobat, tidak punya kemauan untuk berubah.

 

Jadi, Paulus berkata bahwa kita ini SUDAH DIMERDEKAKAN DARI KUK PERHAMBAAN DOSA. Dosa kita yang lama sudah dihapus, sudah tidak menguasai kita lagi, karena Yesus sudah membayar hukuman dosa kita. Jadi, jangan rancu. Kita BUKAN DIMERDEKAKAN DARI HUKUM TAURAT ATAU HUKUM TUHAN, tapi dari kematian kekal, dari perhambaan dosa!

 

Di seluruh tulisannya, Paulus sama sekali tidak pernah berkata bahwa setelah kita menerima keselamatan pemberian Tuhan, kita boleh melanggar Hukum Tuhan, kita merdeka berbuat sesuka hati!

 

Mari kita baca tulisan Paulus yang lain yang sangat jelas bahwa ORANG PERCAYA, HARUS HIDUP DI DALAM  HUKUM  TUHAN, BUKAN  DI LUAR HUKUM TUHAN.

Roma 6:15

Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak di bawah Hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!

 

Roma 3:31

Jika demikian, apakah kami membatalkan Hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkan Hukum itu.

 

Roma 6:1-2

1 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Akankah kita terus melakukan dosa supaya boleh ada banyak kasih karunia? 2 Sekali-kali tidak! Bagaimana mungkin kita yang telah mati bagi dosa, masih hidup terus di dalamnya?

 

Mari kita baca juga tulisan Yohanes, rasul yang dikasihi itu:

 

1 Yohanes 2:3-5

3 Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti Perintah-perintah-Nya. 4 Dia yang berkata, ‘Aku mengenal Dia’ dan tidak menuruti Perintah-perintahNya, ia seorang pendusta dan kebenaran tidak ada dalamnya. 5 Tetapi barangsiapa menuruti Firman-Nya, di dalam orang itu sungguh kasih Allah sudah disempurnakan. Dengan itulah kita tahu, bahwa kita ada di dalam Dia.

 

1 Yohanes 3:6-9

6 Barangsiapa yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa; barangsiapa yang berbuat dosa, belum melihat Dia, dan tidak mengenal Dia. 7 Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar. 8 Dia yang berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis telah berbuat dosa dari mulanya. Demi tujuan inilah Anak Allah dinyatakan supaya Ia boleh menghancurkan pekerjaan-pekerjaan Iblis. 9 Barangsiapa yang telah dilahirkan dari Allah, tidak berbuat dosa; sebab benih Allah tinggal di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia telah dilahirkan  dari Allah.”

 

Yohanes 14:15

Jikalau kamu mengasihi Aku, turuti Perintah-perintah-Ku tah-Ku.

 

Seluruh Alkitab itu mengajarkan penurutan kepada segala Perintah Tuhan, tidak ada yang mengajarkan manusia boleh berbuat sesuka hatinya melanggar Perintah Tuhan.

 

 

d)   Yakobus 1:25

Tetapi barangsiapa meneliti Hukum yang memerdekakan yang sempurna, dan bertekun di dalamnya, tidak sebagai  pendengar yang pelupa, tetapi sebagai pelaku yang melakukannya, orang ini akan diberkati perbuatannya.

Apa artinya “Hukum yang memerdekakan”?

Artinya jika Hukum itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, dia memerdekakan kita.

Memerdekakan dari apa? Dari dosa dan kematian kekal (hukuman dosa).

 

Nah, di sini dikatakan, Hukum yang memerdekakan itu:

Ø    harus diteliti, artinya dipelajari baik-baik,

Ø    bertekun di dalamnya, dengan serius, bukan main-main,

Ø    bukan hanya didengarkan lalu dilupakan,

Ø    tetapi dilakukan, dihidupkan.

 

Dan jika kita melakukan semua itu, kita akan diberkati, kita merdeka.

Jadi “Hukum yang memerdekakan” ini HARUS DILAKUKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH.  Bukan hanya didengar lalu dilupakan. 

Jadi ayat itu tidak berkata MEMERDEKAKAN KITA DARI HUKUM,

TAPI HUKUM YANG JIKA DILAKUKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH, ITU MEMERDEKAKAN KITA DARI DOSA DAN HUKUMAN DOSA (KEMATIAN KEKAL)

 

Sebuah ilustrasi.

Hukum lalulintas itu memerdekakan orang yang sungguh-sungguh melakukannya. Artinya, kalau kita patuh pada Hukum lalulintas, kita tidak melanggar Hukum lalulintas, kita merdeka, tidak ada polisi yang bisa  menangkap kita, karena kita tidak melanggar apa-apa. Jadi, Hukum lalulintas ini harus dipatuhi atau tidak? Kalau kita mau merdeka, ya harus kita patuhi.

Kalau kita tidak patuh, kita ditangkap polisi, dan kita kehilangan kemerdekaan kita.

Sama dengan Hukum Tuhan. Kalau kita lakukan dengan sungguh-sungguh, Hukum itu memerdekakan kita dari segala hukuman dosa. Kita diberkati.

 

 

e)   Yakobus 2:12. 

Jadi berbicaralah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh Hukum yang memerdekakan.

 

Kalau kita sudah memahami poin d), maka tidak ada kesulitan sama sekali untuk memahami poin e) ini.

Apakah setiap orang Kristen akan dihakimi? Ya.

Ibrani 9:27

Dan sebagaimana telah ditetapkan bagi manusia untuk mati satu kali, tetapi sesudah itu penghakiman.

Lalu berdasarkan apa manusia dihakimi?  Ayat di atas mengatakan bahwa manusia akan dihakimi oleh “Hukum yang memerdekakan”.

Menurut kalian, Hukum yang manakah ini?

Tentunya Hukum Tuhan, bukan? Karena ini berbicara tentang kerohanian.

Hukum Tuhan yang mana?

 

Ya semua Hukum Tuhan, semua yang diperintahkan Tuhan.

ü   Seluruh 10 Perintah Tuhan, bukan hanya sebagian.

ü   Hukum Tuhan tentang makanan dan minuman yang boleh dan tidak boleh dimakan atau diminum.

ü   Hukum Tuhan tentang gaya hidup.

ü   Semua Hukum Tuhan yang ada di Alkitab kecuali yang berkaitan dengan upacara Bait Suci yang sudah digenapi oleh kematian Yesus di salib.

 

Ini adalah kata-kata Yesus sendiri. 

Yohanes 8:51

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, ‘Jika seseorang menuruti firman-Ku, ia tidak akan pernah mengalami maut.

Ingat ya, “maut” artinya kematian kekal, eliminasi yang terakhir untuk selama-lamanya.

Yang manakah Firman Tuhan? Ya seluruh isi Alkitab.

 

 

Banyak orang Kristen berkata, “Yang penting itu KASIH. Hukum itu dikalahkan oleh kasih. Asal kita mengasihi Kristus dan sesama, itu sudah cukup.

Bagus! Tidak salah itu. Sekarang coba kita lihat,  apa definisi KASIH menurut Alkitab, atau menurut Yesus? Jangan memakai definisi kita sendiri, tetapi coba kita lihat apa kata Yesus tentang KASIH.

 

Yohanes 14:23-24

23Jawab Yesus dan berkata kepadanya, ‘Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti Firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan membuat tempat tinggal Kami bersamanya. 24 Dia yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti kata-kata-Ku; dan Firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.

 

 Yohanes 14:21

Dia yang memegang Perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan dia yang mengasihi Aku, akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku pun akan mengasihinya, dan akan menyatakan Diri-Ku kepadanya.

 

 

Heran? Kasih tapi kembali kepada mematuhi Hukum, kepada mematuhi Perintah Tuhan.

Jadi JANGAN BICARA TENTANG KASIH KALAU KITA TIDAK MAU TUNDUK KEPADA HUKUM DAN PERINTAH TUHAN. Selama kita dengan sengaja tidak mau mematuhi Hukum dan Perintah Tuhan, kita tidak mengasihi Tuhan ~ menurut definisi Yesus sendiri!

 

 

Semoga kita semua menjadi lebih sadar, bila kita membaca Alkitab, janganlah kita memakai pemahaman kita sendiri, melainkan membaca dengan teliti dan minta bimbingan Roh Kudus supaya kita tidak salah paham. Karena bila kita salah paham, kita yang rugi. Bila kita dengan sengaja melanggar Hukum Tuhan dan menganggapnya tidak apa-apa karena Kristus sudah memenuhinya untuk kita, suatu hari kita akan kecewa dan terkejut mendengar Kristus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari itu banyak orang akan berseru kepada-Ku ‘Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat dalam nama-Mu, dan mengusir setan dengan nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat dalam nama-Mu?’ Pada waktu itulah Aku akan menyatakan kepada mereka, ‘Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari Aku, kamu sekalian yang mempraktekkan pelanggaran Hukum!” (Matius 7:21-23)

 

Perhatikan peringatan Yesus ini. Orang-orang yang ditolakNya bukan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, melainkan mereka ini justru sudah bernubuat dengan namaNya, sudah mengusir Setan dengan namaNya, sudah bikin banyak mujizat dengan namaNya, jadi mereka ini orang-orang Kristen yang hebat di mata dunia, penginjil-penginjil yang terkenal, orang-orang yang dikenal sebagai hamba-hamba Tuhan yang tenar, orang-orang yang aktif dalam pelayanan. Tetapi mereka ini TIDAK MELAKUKAN KEHENDAK BAPAK DI SURGA, dengan kata lain mereka itu TIDAK MEMATUHI PERINTAH DAN HUKUM TUHAN!  

Dan Yesus berkata, “Sori, Aku tidak kenal kalian, enyahlah, kalian para pelanggar Hukum!”  

Mengapa orang-orang yang sudah berbuat banyak hal-hal yang positif dan hebat ini malah disebut Yesus, “yang mempraktekkan pelanggaran Hukum”? Karena mereka TIDAK MEMATUHI PERINTAH DAN HUKUM TUHAN. Dan melanggar Hukum Tuhan itu namanya DOSA!

 

Coba perhatikan apa kata Paulus tentang dosa:

Ibrani 10:26-27

Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah kita menerima pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi kurban untuk dosa melainkan suatu penantian yang menakutkan akan penghakiman dan api kemarahan yang akan melahap habis  para musuh.

 

 

Jika kita sudah tahu apa yang benar, jika kita sudah tahu Hukum Tuhan itu kekal, “sampai lenyap langit dan bumi” ini Hukum Taurat itu utuh, tidak akan hilang satu titik pun, tetapi kita SENGAJA TIDAK MAU MEMATUHINYA, kita dianggap  orang hina, orang durhaka, dan apa yang akan kita peroleh adalah kematian yang mengerikan oleh api yang dahsyat. Teman-teman dosa bukan hanya melanggar apa yang dilarang Allah. Tapi tidak melakukan apa yang kita tahu itu baik saja, itu sudah dosa.

Yakobus 4:17

Jadi, bagi dia yang tahu bagaimana berbuat baik, dan tidak melakukannya, baginya itu dosa.

 

Jadi tidak ada alasan untuk berkelit.

Kita harus mempelajari Alkitab dengan tujuan mencari kebenaran Tuhan  karena hanya itu yang akan menyelamatkan kita. Bukan mencari pembenaran bagi pelanggaran kita.

 

Semoga keselamatan yang telah kita peroleh, boleh dipertahankan terus hingga Maranatha.

 

 

 

 

17 03 15

 



Minggu, 28 Desember 2014

143. TUHAN PERJANJIAN LAMA KEJAM?

143. TUHAN PERJANJIAN LAMA KEJAM?

_____________________________________________________

 

Banyak orang yang beranggapan bahwa Tuhan di zaman Perjanjian Lama itu kejam.  Salah sedikit, hukumannya mati.

Dan kita memang melihat beberapa contoh di Alkitab bahwa sepertinya Tuhan menghukum mati orang secara sewenang-wenang. Itu pendapat banyak orang. Ini ada beberapa contoh:

 

Contoh yang pertama

Keluaran  31:14

Oleh karena itu haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu pastilah akan dihukum mati, sebab siapa pun yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya.

berbicara tentang pelanggaran terhadap Hukum Hari Sabat yang Ketujuh. Berarti ini melanggar 10 PERINTAH TUHAN, atau yang kita kenal dengan istilah THE TEN COMMANDMENTS, karena perintah untuk memelihara hari yang ketujuh sebagai hari Sabat Tuhan Allah, adalah perintah yang keempat pada 10 PERINTAH TUHAN ini.

 

Apakah melanggar hukum Tuhan itu dosa? Ya! Itu dosa.

1 Yohanes 3:4

Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga Hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran Hukum Allah.

 

Kalau dosa, berarti hukumannya mati, kan, menurut Roma 6:23?

Roma 6:23

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal melalui Kristus Yesus, Tuhan kita.

 

Jadi orang yang tidak memelihara kekudusan Sabat Hari Ketujuh di zaman Perjanjian Lama, seperti yang diperintahkan Tuhan dalam 10 Perintah Tuhan atau Hukum Tuhan, itu menurut 1 Yohanes 3:4 dia berdosa kan, karena telah melanggar Hukum Tuhan? Dan jika dia berdosa, maka menurut Roma 6:23 ganjaran yang harus diterimanya adalah maut atau kematian kekal, kan?

Kitab Keluaran ditulis oleh nabi Musa dari masa Perjanjian Lama. Surat Yohanes ditulis oleh rasul Yohanes, dan surat Roma ditulis oleh rasul Paulus, kedua-duanya sama-sama dari masa Perjanjian Baru.

Maka apakah ada bedanya antara ketentuan di zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Tidak ada. Yang berbuat dosa, hukumannya mati kekal. Sama.

 

 

Contoh nomor dua.

Imamat 7:27

Siapa pun orangnya yang memakan darah apa pun, maka orang itu akan dilenyapkan dari antara bangsanya.

Ini berbicara tentang peraturan mengenai makanan dan minuman. Tuhan memberikan peraturan tentang makanan dan minuman kepada umatNya, maka pelanggaran terhadap ketetapan ini, apakah termasuk dosa? Iya, termasuk dosa, karena walaupun ini bukan bagian dari 10 Perintah Allah (Hukum Allah), tapi ini juga peraturan yang diberikan Allah kepada Musa untuk disampaikan kepada umatNya.

Jadi melanggarnya sama dosa juga. Karena itu hukumannya mati juga.

Bagaimana di zaman Perjanjian Baru? Sama.

1 Korintus 10:31

Oleh karena itu, jika engkau makan atau jika engkau minum, atau apa pun yang engkau lakukan, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

 

 

Contoh yang ketiga

Imamat 10:9

Janganlah engkau minum anggur atau minuman yang memabukkan,  engkau serta anak-anak laki-lakimu, bila engkau masuk ke dalam Kemah Pertemuan, atau engkau mati. Itulah menjadi suatu ketetapan untuk selamanya bagi keturunanmu.

berbicara mengenai peraturan yang diberikan Tuhan kepada para imam yang melayani di Kemah Suci.

Peraturan ini juga bukan bagian dari 10 PERINTAH TUHAN, tetapi ini tetap merupakan perintah Tuhan. Jadi, ternyata, bukan hanya melanggar 10 Perintah Tuhan saja yang hukumannya mati, tetapi sudah kita buktikan dari dua contoh di atas bahwa melanggar perintah Tuhan YANG MANA SAJA, hukumannya mati. Mengapa? Karena Yang membuat peraturan itu Sosok yang sama, yaitu Tuhan. Karena itu autoritasnya juga sama bobotnya.

 

 

Contoh keempat.

2 Samuel 6:6-7

Dan ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, Uza mengulurkan tangannya ke tabut Allah itu, dan memegangnya, karena lembu-lembu itu menggocangnya.  Dan murka TUHAN tersulut terhadap Uza, dan Allah membunuh dia di sana karena kesalahannya; dan di sana ia mati di samping tabut Allah itu.

Ini berbicara tentang pelanggaran terhadap kekudusan Tuhan. Tabut Perjanjian itu tidak boleh disentuh karena Tabut itu KUDUS. Untuk memindahkannya harus memakai tongkat yang khusus dan dipikul oleh para imam.

Mau tahu apa isinya? Isinya ada:

Ø    manna (makanan yang diturunkan Tuhan dari langit selama 40 tahun buat orang Israel selama perjalanan mereka memasuki tanah Kanaan),

Ø    ada tongkat Harun yang bertunas,

Ø    dan DUA LOH BATU YANG DITULIS JARI TUHAN BERISIKAN 10 PERINTAH TUHAN.

 

Ceritanya, Tabut Perjanjian itu pernah direbut bangsa Filistin, musuh orang Israel. Dan sekarang raja Daud mau menjemput Tabut itu pulang ke Kota Daud. Dalam perjalanan, suatu saat Tabut Perjanjian yang di dalam pedati itu terguncang, dan si Uza yang mengawal pedati itu, entah secara refleks, entah dengan sadar, dia menahan Tabut itu supaya tidak jatuh.

Ada dua pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini.

 

1.   Pelajaran pertama,

Niat Uza itu baik tidak? Niatnya baik, kan? Supaya Tabut itu tidak jatuh. Tapi mengapa dia dibunuh Tuhan di situ juga?

Karena Uza telah menyentuh benda yang kudus, yang diperintahkan Tuhan tidak boleh disentuh. Uza sebagai orang Israel, tahu tentang larangan tersebut. Tetapi dia tetap melanggarnya. Apa pun alasannya, dia melanggar peraturan Tuhan.

Dosa tidak perbuatan Uza ini? Tetap dosa, karena melanggar ketetapan Tuhan, Karena Tuhan sudah memberikan peraturanNya, Tabut Perjanjian itu tidak boleh disentuh sembarang orang.

Daud, yang menyuruh membawa pulang Tabut Perjanjian itu juga seharusnya tahu bagaimana cara memindahkannya. Hanya imam-imam yang boleh mengangkat (itu pun harus dengan tongkat khusus) dan memikulnya. Jadi memindahkan Tabut itu dengan menggunakan pedati, itu sudah menyalahi peraturan Tuhan.

Jadi, ini pelajaran yang penting buat kita, kita harus sadar, SEMUA PERATURAN TUHAN ITU KETAT. KALAU KITA MELANGGARNYA, ITU DOSA, walaupun niatnya mungkin baik, walaupun mungkin tidak sengaja. Tapi jika Tuhan sudah mengatakan “Jangan!”, maka melanggarnya itu dosa. Jangan lupa itu. Alasan apa pun tidak berlaku.

 

2.   Pelajaran kedua,

Selama Tabut Perjanjian ini di tangan orang Filistin, mengapa orang Filistin yang memegangnya tidak segera jatuh mati? Orang Filistin tahu tidak bahwa Tabut Perjanjian itu benda yang kudus? Tahu! Mereka beranggapan bahwa orang Israel ini selalu menang berperang karena adanya Tabut Perjanjian itu, karena itu mereka rebut. Jadi orang Filistin menganggap Tabut Perjanjian itu benda keramat. Tapi mengapa yang menyentuhnya tidak mati? Karena mereka bukan orang Israel. Mereka tidak tahu tata cara yang ditentukan Tuhan bagaimana memindahkan Tabut Perjanjian itu.  Mereka tidak tahu tentang peraturan Tuhan dalam tata cara memperlakukan Tabut Perjanjian itu. Jadi apa yang mereka tidak tahu, itu tidak diperhitungkan dosa oleh Tuhan.

 

Jadi, bagi mereka yang tidak mengetahui tentang peraturan atau Hukum Tuhan, Tuhan memberikan dispensasi.

Tetapi celakalah bagi mereka yang sudah tahu tentang Hukum Tuhan, namun pura-pura tidak tahu, atau sengaja melanggarnya. No ampun deh.

 

Daud akhirnya menyadari kesalahannya, dan tiga bulan kemudian dia menjemput Tabut Perjanjian yang dititipkannya di rumah Obed-Edom, kali ini dengan cara yang benar, yaitu dipikul oleh imam-imam.

 

Sekarang marilah kita kembali ke topik inti: APAKAH TUHAN PERJANJIAN LAMA ITU KEJAM?

Berbuat kesalahan, langsung hukumannya mati!

Kalau Tuhan Perjanjian Baru kan tidak? Begitu kata banyak orang Kristen. Sehingga timbul pendapat bahwa Tuhan Perjanjian Lama itu bukan Tuhan Perjanjian Baru! Apa ada dua Tuhan yang berbeda karakternya? Yang satu kejam, yang satu pengampun dan penuh kasih sayang? Kalau begitu, rugi manusia yang hidup di Perjanjian Lama kebagian Tuhan yang kejam. Lebih beruntung manusia yang hidup di Perjanjian Baru, Tuhannya sabar, HukumNya dihapus. Begitu?

Tidak, teman-teman, TUHAN ITU HANYA SATU, TUHAN YANG SAMA, PERJANJIAN LAMA MAUPUN PERJANJIAN BARU.

 

Atau ada yang beranggapan Tuhan telah mengubah hukumanNya, kalau dulu hukumanNya mati, sekarang tidak lagi. Hukuman mati sudah dicabut, sudah tidak berlaku lagi.

Atau bahkan ada yang mengatakan, Tuhan telah menghapuskan HukumNya, sehingga kalau HukumNya sudah tidak ada, maka tidak ada lagi pelanggaran.

HUKUM TUHAN ITU SAMA. DARI DULU SAMPAI SEKARANG.

 

Aneh, mengapa orang-orang Kristen beranggapan Tuhan telah mengambil kursus anger management, sehingga Tuhan sekarang menjadi Tuhan yang baik hati, maha pengampun, tidak marah-marah seperti dulu, asal mau percaya kepada Tuhan sudah tidak ada lagi dosa, tidak ada lagi hukuman bagi orang Kristen?

Itu adalah pendapat yang salah.

TUHAN ITU SEMPURNA DARI KEKAL HINGGA KEKAL. TUHAN TIDAK BERUBAH. Dari dulu begini, sekarang juga begini, sampai selamanya juga begini.

Jangan membiarkan Setan menipu kita. Setan ingin sekali menipu kita dengan semua teori yang menyimpang ini, supaya kita tidak selamat.

 

Mari kita lihat apa kata Firman Tuhan. Benarkah Tuhan Perjanjian Lama itu kejam?

Kejadian 6:3

Dan TUHAN berfirman, ‘Roh-Ku tidak akan selalu bergumul dengan manusia  karena manusia juga adalah daging, namun hari-harinya  akan selama seratus dua puluh tahun.’

 

Berapa tahun yang diberikan Tuhan kepada manusia zaman sebelum air bah untuk bertobat? 120 tahun! Lama atau sebentar waktu 120 tahun itu? Empat generasi bisa lahir selama 120 tahun!  Panjang sabar atau tidak Tuhan itu? Padahal manusia pada waktu itu sudah sangat jahat. Lihat kata Alkitab:

Kejadian 6:5

Dan TUHAN melihat, bahwa kejahatan manusia itu hebat di bumi dan bahwa setiap imajinasi pikiran hatinya hanyalah jahat terus-menerus.

 

Manusia jahat, kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, tapi Tuhan tidak langsung menghukum mereka, melainkan memberi mereka waktu bertobat selama 120 tahun! Kalau sudah diberi waktu 120 tahun tidak mau bertobat, minta diberi waktu berapa tahun lagi?

 

Contoh yang lain, dosa yang pertama, ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan untuk tidak makan buah dari pohon pengetahuan baik dan buruk, apakah Adam dan Hawa langsung jatuh mati begitu makan buah tersebut?

Tidak! Walaupun bagaimana bunyi hukum Tuhan tentang makan buah larangan itu?

Kejadian 2:17

‘tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, engkau pasti akan mati.’

 

Padahal Tuhan sudah berkata, pada hari engkau memakannya, engkau pasti akan mati.”  Kenapa Adam dan Hawa tidak langsung mati? Bahkan menurut Alkitab Adam masih hidup sampai usia 930 tahun.

 

 

Contoh lain lagi. Bagaimana dengan Kain yang telah berbuat dosa membunuh Habel? Apakah dia langsung dibunuh Tuhan juga? Tidak!

Kejadian 4:15

Dan TUHAN berfirman kepadanya, ‘Oleh sebab itu barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.’ Dan TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya jangan sampai ada yang menemukannya, lalu membunuhnya.

 

 

Tiga contoh di atas ini adalah bukti bahwa Tuhan Perjanjian Lama, sangat sabar, sama sabarnya dengan Tuhan Perjanjian Baru.

 

 

Sebaliknya sekarang, pernahkan Tuhan Perjanjian Baru membunuh orang di tempat karena berbuat dosa? Pernah!

Ingat cerita Ananias dan Safira? Silakan baca sendiri di Kisah pasal 5. Singkatnya Ananias dan Safira menjual tanah mereka dan mereka menyumbangkan hasil penjualannya kepada para rasul untuk menunjang pekerjaan Tuhan. Sebenarnya itu adalah pemberian sukarela, dan berapa pun yang mereka berikan tidak masalah. Masalahnya mereka berbohong. Mereka mengatakan bahwa mereka menyumbangkan seluruh hasil penjualannya. Begitu bodohnya mereka mengira bisa menipu Tuhan. Apa yang terjadi?

Kisah 5:4-5

4  Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu punyamu sendiri? Dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu hakmu? Mengapa engkau merencanakan hal ini dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’ 5 Dan Ananias ketika mendengar kata-kata ini rebah dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal-hal itu.

 

Tiga jam kemudian, istri Ananias, Safira datang, tidak mengetahui suaminya sudah mati. Sewaktu ditanyai Petrus, Safira juga mengaku bahwa uang penjualan tanah itu disumbangkan seluruhnya.

Kisah 5:10

Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya keluar dan menguburnya di samping suaminya

 

Jadi apakah Tuhan Perjanjian Baru tidak segera membunuh orang yang berdosa? Membunuh juga!

 

Coba cek dengan sejarah. Tahun 70 AD tentara Roma datang dan menghancurkan Yerusalem dan Bait Sucinya dibakar. Kota itu dikepung sampai penduduknya tidak punya makanan, dan ada yang sampai makan anaknya sendiri. Peristiwa itu sungguh mengerikan. Ini hukuman dari Tuhan bagi orang Yahudi yang telah menyalibkan Yesus. Yesus disalibkan tahun 31AD, kurang dari 40 tahun kemudian Tuhan menjatuhkan hukuman kepada orang Yahudi.

Di zaman Nuh, Perjanjian Lama, Tuhan memberi manusia generasi itu waktu 120 tahun untuk bertobat. Tapi di Perjanjian Baru, Tuhan memberi mantan bangsa pilihanNya waktu kurang dari 40 tahun. Lho lamaan mana waktu yang diberikan Tuhan di Perjanjian Lama atau di Perjanjian Baru? Kalau melihat lamanya waktu, berarti lebih sabar Tuhan Perjanjian Lama, kan?

  

Berarti sama kan?

Ø    Tuhan Perjanjian Lama pernah tidak segera membunuh Adam dan Hawa pada waktu mereka berbuat dosa.

Ø    Tuhan Perjanjian Lama tidak segera membunuh Kain pada waktu Kain berdosa. Bahkan Alkitab tidak pernah mencatat bagaimana Kain mati.

Ø    Tuhan Perjanjian Lama juga pernah memberi manusia 120 tahun di zaman Nuh untuk bertobat.

Ø    Tuhan Perjanjian Baru, pernah langsung membunuh Ananias dan Safira di tempat pada waktu mereka berbohong.

Ø    Tuhan Perjanjian Baru menghancurkan dan membinasakan Yerusalem dan penduduknya dan Bait Sucinya kurang dari 40 tahun setelah orang Yahudi menyalibkan Yesus.

 

 

Sekarang, kita tiba pada pertanyaan yang lebih penting, mengapa ada kalanya Tuhan langsung membunuh orang berdosa dan ada kalanya tidak? Itu sama sekali tidak berkaitan dengan perubahan emosi Tuhan, hari ini marah-marah, lalu langsung membunuh siapa yang berdosa; lain kali pas lagi sabar, diampuni. Tidak!

 

Mari kita pahami dulu apa itu dosa dan apa kaitannya itu dengan kematian.

 

Roma 6:23

Sebab upah dosa ialah maut;

 

Ayat ini ada di Perjanjian Baru atau Perjanjian Lama? Perjanjian Baru, ini tulisan rasul Paulus!

Rasul Paulus menulis ayat ini sebelum atau sesudah Yesus kembali ke Surga? Sesudahnya, karena Saulus (atau kemudian dia memilih memakai nama Paulus), baru menjadi pengikut Yesus setelah Yesus kembali ke Surga!

Jadi, berarti SETELAH KEMATIAN YESUS PUN, UPAH DOSA TETAP MAUT, bukan?

Tetapi, yang banyak disalahpahami oleh orang Kristen adalah, “maut” yang dikatakan di sini bukanlah kematian kodrati sebagai keturunan Adam, melainkan ini adalah KEMATIAN YANG KEKAL.

Pada waktu Adam dan Hawa diperingatkan oleh Tuhan pada hari engkau memakannya, engkau pasti akan mati” Tuhan tidak berbicara tentang kematian berpisahnya tubuh dari nafas hidup, melainkan Tuhan berbicara tentang KEMATIAN YANG KEKAL.

Karena itu Adam dan Hawa tidak langsung jatuh mati tidak bernyawa di taman Eden. Tetapi, KETIKA MEREKA BERBUAT DOSA, STATUS MEREKA YANG TADINYA BISA HIDUP TERUS, PADA SAAT ITU BERUBAH MENJADI ORANG-ORANG YANG BERADA DI BAWAH HUKUMAN KEMATIAN KEKAL. Itulah sebabnya Tuhan memberikan mereka janji seorang Penebus (Kejadian 3:15) supaya mereka bisa lolos dari kematian kekal itu.

 

 

Mengapa di Perjanjian Lama Tuhan memberikan hukuman mati bagi orang-orang yang melanggar perintahNya?

Karena pada waktu itu Tuhan mau membentuk bangsa pilihanNya. Untuk membentuk bangsa pilihanNya, Tuhan harus mengajar mereka bahwa TUHAN ITU KUDUS, oleh karena itu bangsa pilihanNya juga harus kudus, tidak boleh sama dengan bangsa-bangsa yang lain di sekitar mereka. Kalau kudus ya tidak boleh berbuat dosa.

Keluaran 19:5-6

5Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mau mematuhi suara-Ku dan memelihara Perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku di atas segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.  6Dan kamu akan menjadi  bagi-Ku sebuah kerajaan imam dan sebuah bangsa yang kudus.’  Inilah firman yang harus kausampaikan kepada orang Israel.’

 

Tuhan mau mendidik mereka bagaimana hidup kudus itu, yaitu dengan melakukan semua perintahNya, JIKA MEREKA MELANGGAR, MEREKA AKAN MATI. Jadi Tuhan mau mereka mengerti bahwa DOSA ITU MENGAKIBATKAN KEMATIAN KEKAL dengan memberi contoh kematian yang instan pada orang-orang yang berbuat dosa. Kematian fisik yang langsung mereka saksikan adalah contoh bahwa Tuhan tidak mentoleransi dosa.

 

Tetapi sebenarnya kematian fisik saja bukanlah hukuman dosa kita. Itu adalah kodrat yang kita warisi sebagai keturunan Adam. Semua manusia harus mati, apakah dia orang suci atau orang berdosa. Jadi kematian fisik bukanlah hukuman atas dosa yang kita buat. Itu adalah akibat dosa yang dibuat Adam. Kita tidak bisa menghindari kematian fisik ini walaupun kita hidup suci.

 

Karena itu janganlah kita beranggapan bahwa karena di zaman modern ini tidak ada manusia yang langsung jatuh mati pada waktu dia melanggar Hukum Tuhan (artinya pada waktu dia berbuat dosa), itu tidak berarti bahwa hukumannya sudah diperingan, atau Hukum Tuhan sudah dihapus sehingga tidak ada lagi pelanggaran. Itu hanya berarti bahwa Tuhan sudah tidak merasa perlu memberikan contoh soal lagi kepada manusia. Tapi percayalah,

 

UPAH DOSA TETAP MAUT

 

Dan “maut” yang dimaksud adalah KEMATIAN KEKAL. Ini pasti akan terjadi pada mereka yang mati dalam dosanya.

 

 

Pertanyaan berikutnya: Kematian Kekal itu apa?

Kematian kekal adalah kematian yang dialami Yesus di atas salib. Yesus mengalami kematian kekal kita, supaya kita tidak usah mengalaminya.

Ketika di atas salib Yesus berseru "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” [Matius 27:46], Dia mengalami kematian kekal. Karena pada waktu itu DOSA SELURUH DUNIA DARI ADAM HINGGA MANUSIA YANG TERAKHIR SEDANG DIPIKULNYA, Allah Bapa yang tidak bisa mentoleransi dosa, tidak bisa melihat Yesus. Selama hidupNya di dunia, setiap hari Yesus hidup bersama Allah Bapa, tetapi pada saat Yesus berada di atas salib menanggung dosa seluruh dunia, dosaku dan dosamu, Dia mengalami kematian yang kekal, terpisah dari Allah Bapa yang tidak bisa mentoleransi semua dosa itu. Jadi dosa itu memisahkan kita dari Allah. Jika manusia mati dalam dosanya, dia selamanya terpisah dari Allah.

 

Yesus sudah menjalani kematian kekal bagi kita, jadi kita sendiri tidak usah menjalaninya jika kita beriman kepada Yesus dan mengasihiNya. Karena jika tidak, maka kita harus menjalani KEMATIAN KEKAL itu sendiri.

Luar biasa bukan ajaran Tuhan kita? Mana ada ajaran lain yang seperti ini? Hanya di agama Kristen diajarkan bahwa Allah berinkarnasi menjadi manusia untuk mati menebus manusia dari hukuman dosanya. Mana ada ajaran lain yang menyatakan sedemikian besarnya kasih Allah kepada manusia?

 

Wahyu 20:14-15

14 Dan maut dan kubur dilemparkanlah ke dalam lautan api. Inilah kematian yang kedua. 15 Dan barangsiapa yang namanya tidak ditemukan tertulis di dalam Kitab Kehidupan itu,  dilemparkan ke dalam lautan api itu.

 

Kematian yang pertama itu bukan apa-apa, bagi umat Allah itu hanya tidur lelap hingga dibangkitkan saat kedatangan kedua Kristus.

Tapi kematian yang kedua atau kematian kekal, itu yang mengerikan. Bukan saja matinya terbakar api yang turun dari langit, yang membakarnya hingga habis menjadi debu, tetapi orang ini kehilangan kesempatan untuk melihat langit baru dan bumi baru, yang kekal abadi, di mana umat Allah yang setia bisa hidup untuk selama-lamanya.

 

Semoga kita tidak termasuk yang mengalami kematian kekal ini.

Amin.

 

 

 

 

 

29 12 14