Sabtu, 18 Maret 2017

179. BANGSA-BANGSA YANG TIDAK KENAL HUKUM TAURAT


179. BANGSA-BANGSA

 YANG TIDAK KENAL HUKUM TUHAN

_________________________________________________________

 

 

Banyak orang Kristen yang memakai Roma pasal 2 sebagai dasar alasan mereka untuk tidak mematuhi Hukum Tuhan.

Tetapi sebenarnya jika kita baca ayat-ayat itu satu per satu dengan seksama, kita justru melihat bahwa Roma pasal 2 ini bukannya menghapus Hukum Tuhan, tapi sebaliknya.

 

Sebelum itu perlu kita pahami bahwa Hukum Tuhan yang tersisa untuk kita ikuti sudah bukan seluruh Hukum Tuhan yang ditulis Musa dulu, mengapa?

1.   Sebagian besar sudah digenapi oleh Yesus dengan kematianNya di salib,

yaitu semua perayaan hari keagamaan orang Yahudi dan segala upacara kurban dengan semua ketentuannya. Semua perayaan hari keagamaan dan upacara kurban itu tadinya harus dilakukan orang Yahudi untuk membuktikan bahwa mereka mengimani janji penebusan dari seorang Mesias yang akan datang di masa depan.

 

Sejak Adam pertama berbuat dosa, domba yang pertama dikurbankan untuk diambil kulitnya menjadi pakaiannya sebelum dia diusir keluar dari Firdaus, itu sudah melambangkan kematian Kristus kelak untuk menebus dosanya. Tuhan mengajarkan kepada Adam untuk mempersembahkan kurban karena itu melambangkan kematian Kristus. Dan mulai dari Adam hal itu diajarkan secara turun-temurun kepada anak-cucunya.

Keturunannya yang tetap setia melakukan upacara korban ini berarti mengimani penebusan Kristus kelak, dan mereka diselamatkan berdasarkan iman mereka ini. Tetapi keturunan Adam yang tidak melakukan upacara kurban itu, mereka telah meninggalkan agama yang diajarkan Adam kepada mereka, ya sudah kehilangan kontak dengan konsep penebusan Kristus, ya mereka tidak selamat.

 

Karena itu ketika Yesus berseru “Sudah selesai” di atas salib, Dia telah menggenapi janjiNya untuk menyelamatkan manusia (janji yang dibuatNya bahkan sebelum dunia kita ini diciptakan, sebelum Adam diciptakan), dan saat itu tirai Bait Suci robek dari atas ke bawah bukan oleh tangan manusia, maka itu adalah tanda berakhirlah semua upacara kurban itu dan perayaan hari-hari keagamaan yang tadinya hanya melambangkan janji penebusan itu.

Jadi Hukum Tuhan yang berkaitan dengan semua upacara kurban dan hari-hari raya itu sudah digenapi, berarti sudah tidak perlu dilakukan lagi.

 

2.   Bagian yang berisikan peraturan sosial-ekonomi

yang mengatur tentang kehidupan bermasyarakat sehari-hari yang berlaku saat bangsa Israel masih di bawah pemerintahan Tuhan secara langsung (Theokratis) itu sudah berakhir ketika mereka tidak lagi di bawah pemerintahan Theokratis. Ketika bangsa Yahudi berada di bawah kekuasaan pemerintahan sekuler Roma, mereka tunduk kepada peraturan pemerintah Roma. Demikian pula kita sekarang, umat Allah tetap tunduk kepada peraturan sekuler pemerintah negara di mana kita hidup.

 

Jadi sebenarnya, Hukum Tuhan yang tersisa, yang kata Yesus di Matius 5:18, “Sesungguhnya sampai lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Tuhan, sampai semuanya terjadi” itu hanya Hukum yang menyangkut moral dan kesehatan, yaitu semua ketentuan yang menyangkut pemeliharaan tubuh dan jiwa kita dari segala yang menajiskannya. Mengapa? Karena tubuh dan jiwa kita ini harus kudus. Dan Hukum moral dan kesehatan dari Tuhan itu akan menjaga supaya tubuh dan jiwa kita ini kudus.

 

Mengapa tubuh dan jiwa kita harus kudus?

Alkitab yang akan menjawabnya:

 

1 Korintus 6:19-20

Apa? Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milikmu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dengan harga: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu dan dengan rohmu  yang adalah milik Allah.”

 

2 Korintus 7:1.

Karena telah memiliki janji-janji ini, Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.

 

1 Tesalonika 4:7

Karena Allah tidak memanggil kita kepada yang cemar, melainkan kepada yang kudus.

 

Ibrani 12:14

Ikutilah perdamaian dengan semua orang, dan kekudusan, tanpa mana tidak seorang pun akan melihat Tuhan.

 

1 Korintus 3:17

Jika ada orang yang menajiskan bait Allah, Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah itu kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

 

1 Petrus 1:15-16

tetapi sebagaimaa Dia yang telah memanggilmu itu kudus, maka jadilah kamu kudus dalam segala macam percakapanmu sebab ada tertulis: Jadilah kamu kudus, karena Aku kudus.

Jelas, kan, mengapa kita harus kudus?

Menjadi kudus itu bukan opsi, bukan sekadar pilihan, iyahh kalau bisa syukur, kalau tidak bisa ya tidak apa-apa. Tidak! Menjadi kudus itu KEHARUSAN jika kita ingin melihat Tuhan! Ini yang namanya KELAHIRAN BARU.

Semua orang Kristen tahu bahwa setelah dia menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, dia harus mengalami kelahiran baru, iya kan?

Yohanes 3:3

Yesus menjawab dan berkata kepadanya, ‘Sungguh-sungguh Aku berkata kepadamu, kecuali seorang manusia dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah’.

 

Jadi dari Hukum Tuhan yang harus kita patuhi sekarang adalah 10 Perintah Tuhan plus hukum kesehatan, di antaranya mengenai makanan yang halal, dan cara hidup sehat menurut Tuhan.

Jika kita tidak melanggar 10 Perintah Tuhan dan hukum kesehatan, maka kita sudah menjalani kehidupan yang kudus, kita sudah mengalami kelahiran baru.

Sulit? Iya, sulit, bahkan mustahil jika kita lakukan dengan usaha sendiri. Tapi Alkitab mengatakan kita tidak melakukannya sendiri, karena Roh Kudus yang menuntun kita.

 

Bagaimana kita bisa menjadi kudus?

1.   Dengan mau dipimpin Roh Kudus,

mau mendengarkan bisikannya, tidak melakukan kehendak kita sendiri, tetapi berserah kepada tuntunan Roh Kudus. Kalau dari usaha kita sendiri, pasti tidak bisa karena sudah sifat kita untuk condong kepada apa yang buruk. Jadi, kita harus selalu minta Roh Kudus memampukan kita untuk melakukan kehendak Tuhan. Lalu kalau sudah dituntun, diberitahu Roh Kudus, ya kita jangan melawan. Kalau Roh Kudus berkata, “Jangan lakukan itu!” ya jangan lakukan. Kalau kita tabrak saja, ya percuma, kita tidak akan mengalami kelahiran baru. Semakin sering kita menurut, semakin mudah kita menurut karena kelahiran baru itu bukan cuma satu kali lalu kita sudah sempurna, tidak! Tapi harus berkali-kali selama kita hidup. Bahkan Paulus mengatakan “Setiap hari aku mati” (1 Kor. 15:31). Kelahiran baru adalah proses mematikan ego kita.  Proses pengudusan itu adalah proses seumur hidup. Dan semakin lama proses itu harus semakin lancar, bukan semakin alot.

 

Yohanes 3:5-6

Jawab Yesus, ‘Sungguh-sungguh Aku berkata kepadamu, kecuali seorang manusia dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk  Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging; dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.

 

Rom 8:13

Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

 

Lihat, di sini jelas dikatakan, kita bisa mematikan perbuatan-perbuatan tubuh (daging) kita oleh kuasa Roh. Dan kita akan beroleh hidup, maksudnya hidup kekal kelak.

Tetapi jika setelah menerima Kristus sebagai Juruselamat, hidup kita tidak berubah, kita masih hidup dalam segala dosa kita seperti sebelumnya, kita tidak mau dituntun oleh Roh meninggalkan dosa tetapi kita tetap hidup menurut daging, ya kita akan mati. Dan ini adalah kematian kekal, bukan kematian kodrati sebagai manusia.

 

2.   Dengan memakai Hukum Tuhan yang ada di Firman Tuhan sebagai panduan langkah kita, sebagai rambu-rambu hidup. Untuk ini kita harus tahu apa saja Hukum Tuhan itu, kalau tidak tahu bagaimana kita bisa memakainya sebagai panduan dan rambu-rambu kita?

 

Sekarang kita kembali ke  Roma pasal 2.

11            Sebab Allah tidak memandang bulu.

12            Sebab seberapa banyak orang yang berdosa di luar Hukum, akan binasa juga di luar Hukum; dan seberapa banyak orang yang berdosa di dalam Hukum, akan dihakimi oleh Hukum.

13            Karena bukanlah orang yang mendengar Hukum yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan Hukum yang akan dibenarkan.

14            Karena apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki Hukum itu, secara alami melakukan hal-hal yang ada dalam Hukum, mereka ini yang tidak memiliki Hukum, menjadi Hukum bagi diri mereka sendiri.

15            yang menunjukkan, bahwa perbuatan Hukum ada tertulis di dalam hati mereka, hati nurani mereka juga memberi kesaksian, sementara  pikiran mereka yang menyalahkan atau membenarkan mereka.

 

Ayat 11 mengatakan, Allah itu tidak pilih kasih, Allah itu adil. Yang salah ya salah. Yang benar ya benar. Jadi Allah tidak bisa disuap dan Allah tidak memberikan dispensasi. Ayat ini saja harus membuat kita sadar, walaupun Allah itu kasih, tapi Allah tidak ada toleransi terhadap dosa. Jangan menganggap karena Allah itu kasih, kalau kita berbuat dosa, itu tidak apa-apa, dan Allah akan tutup mata karena Dia mengasihi kita, kita tetap selamat. TIDAK. Semua dosa akan terbakar di hadapan Allah. Karena itu, jika ada dosa yang masih melekat pada kita, dosa yang belum kita sesali dan yang masih terus-menerus kita lakukan walaupun kita sudah tahu itu dosa, kita akan habis terbakar. Ketahuilah, Allah adalah api yang menghanguskan:

Ibrani 12:29

Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.

 

Ibrani 10:26-27 

Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah kita menerima pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi kurban untuk dosa melainkan suatu penantian yang menakutkan akan penghakiman dan api kemarahan yang akan melahap habis para musuh

 

Jadi jangan mengira karena Allah mengasihi kita, kita bisa selamat dengan segala dosa yang masih tetap kita lakukan. Kita bisa menyesal terlambat.

 

 

Ayat 12 mengatakan:

1.   semua orang yang tidak kenal Hukum Allah, kalau berbuat dosa, dia akan binasa.

2.   Semua orang yang kenal Hukum Allah, dihakimi oleh Hukum Allah, dan menurut Hukum Allah, berbuat dosa, juga binasa. (Upah dosa ialah maut.)

Berarti, baik yang kenal atau tidak kenal Hukum Allah, kalau berdosa, dia bagaimana? AKAN BINASA! Jadi jangan mengira kita bisa lolos dengan alasan tidak tahu Hukum. Pokoknya berdosa, akan binasa.

 

Nah, menurut Alkitab, siapa saja yang sudah berdosa? Ternyata SEMUA ORANG sudah BERDOSA.

Lihat Roma 3:23

Karena semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai [ὑστερέω  =  hustereō = kurang/terlalu sedikit]  kemuliaan Allah.

 

1.   Jadi orang berdosa ~ baik yang kenal Hukum maupun yang tidak kenal Hukum ~ sama-sama akan binasa (Roma 2:12)

2.   Ternyata semua orang telah berbuat dosa (Roma 3:23)

Maka berarti SEMUA ORANG AKAN BINASA. Betul, tidak?

 

Ada tidak orang yang tidak akan binasa? TIDAK ADA! Karena Firman Allah berkata, semua orang sudah berbuat dosa, tidak ada yang tidak berbuat dosa (selain Yesus Kristus) maka  semua orang akan binasa.

 

 

Ayat 13 dan Ayat 14, membagi manusia dalam dua kelompok:

1.   Yang tahu Hukum Allah (yang mendengar dan melakukan; atau yang mendengar tapi tidak melakukan), ini mengacu kepada umat Allah baik yang Yahudi literal maupun yang Yahudi rohani (orang-orang Kristen).

2.   Bangsa-bangsa lain yang tidak tahu Hukum Allah (non-Kristen).

 

Kelompok yang pertama:

Umat Tuhan. Jelas nasibnya.

Kalau sudah tahu Hukum Allah, tapi dia tidak hidup sesuai Hukum, dia akan dihakimi oleh Hukum. Artinya, dasar yang dipakai Tuhan sewaktu mengadili orang ini, adalah Hukum Allah.

 

ü   Misalnya di Hukum Allah sudah ditulis: “Jangan membuat patung, jangan sujud menyembahnya”,

tetapi ada manusia-manusia yang suka sujud-sujud di depan patung, menyembah patung dengan membakar lilin di depannya, dengan meletakkan bunga di depannya, dengan mencium tangan atau kaki patung itu, dengan berdoa kepada patung itu, dengan minta berkat dari patung itu, dengan memperlakukan patung itu sebagai benda keramat atau jimat, dll. maka itu adalah pelanggaran, dan pelanggaran itu nanti akan dihakimi Tuhan berdasarkan Hukum Allah ini.

 

ü   Misalnya di Hukum sudah ditulis: “Hormati bapakmu dan ibumu”,

tetapi ada orang yang menelantarkan orangtuanya, atau kurangajar terhadap orangtuanya, tidak memelihara orangtuanya, menghabiskan harta orangtuanya, tidak merawat dan memelihara orangtuanya di masa tua mereka, maka nanti Tuhan akan memakai Hukum ini untuk menghakimi pelanggarannya.

 

ü   Melanggar Hukum Allah bukan hanya berbuat yang menentang Hukum Allah itu,

tetapi dengan tidak berbuat apa-apa yang disuruh Hukum itu pun, sudah namanya pelanggaran.

Misalnya di Hukum ditulis: “Ingatlah hari Sabat… hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan… TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. Lalu ada orang yang bilang, “Sabtu-sabtu libur enak tidur” atau “Ah, enak jalan-jalan bersama pacar”, dll. Maka kelak Tuhan akan memakai Hukum ini untuk menghakiminya.

 

Sekarang perhatikan ayat 13, siapa yang akan dibenarkan Tuhan dari kelompok pertama ini?  Jelas dikatakan orang yang melakukan Hukum Jelas BUKAN orang yang TIDAK melakukan Hukum.

Jelas ya? Jadi yang nanti dibenarkan Tuhan dalam pengadilanNya ialah orang yang MELAKUKAN HUKUM TUHAN.

 

 

Sekarang kelompok yang kedua:

“Bangsa-bangsa lain” atau non-Kristen, maksudnya yang bukan bangsa Yahudi, bukan umat Tuhan. Pada masa lalu mereka tidak kenal Hukum Tuhan. Saat belum ada televisi, belum ada koran, belum ada internet, belum ada grup chatting, dll. Di zaman Alkitab, sebagian dari mereka ini yang jauh dari Yerusalem, tidak terekspos kepada Hukum Tuhan. Tapi jangan lupa, tidak semua bangsa lain tidak kenal Hukum Tuhan, karena di zaman itu banyak orang Yahudi yang diaspora, yang tinggal di luar Yerusalem, tinggal di luar negaranya sendiri. Mereka ini membawa agama mereka sehingga siapa pun yang berinteraksi dengan mereka, sedikit banyak mengenal juga tentang Hukum Tuhan yang mereka pelihara. Itu dulu.

 

Nah di zaman globalisasi sekarang ini, nyaris sudah tidak ada “bangsa-bangsa lain” yang tidak mengenal Hukum Tuhan. Semua orang bisa mengakses Alkitab dengan mudah, dalam segala macam bahasa, tinggal mau membacanya atau tidak. Juga penginjilan Kristen ada di mana-mana, masuk ke pelosok-pelosok dan tempat-tempat yang terpencil di pelbagai negara. Tetapi baiklah, kita misalkan masih ada “bangsa-bangsa lain” yang tidak kenal Hukum Tuhan. Bagaimana nasib mereka?

 

Ayat 14-15 mengatakan bahwa ada dari “bangsa-bangsa lain” ini yang tidak mengenal Hukum Tuhan, namun mereka bagaimana? Mereka MELAKUKAN apa yang diminta oleh Hukum Tuhan, karena ternyata Hukum Tuhan itu ada tertulis di hati mereka! Hebat banget, kan? Siapa yang menulis Hukum Tuhan ini di hati mereka? Tuhan!

 

Ibrani 10:16

Aku akan menaruh Hukum-Ku ke dalam hati mereka dan dalam pikiran mereka akan Aku tulis mereka.

 

Pertanyaan: Jika Tuhan yang menulis HukumNya di hati dan pikiran manusia, apakah Hukum Tuhan itu valid dan mengikat? Ya, iya! Masuk akal?

Andai Hukum Tuhan itu sudah tidak berlaku, untuk apa Tuhan masih menaruh HukumNya di hati manusia dan menuliskannya dalam pikian manusia?

 

Jadi bagaimana nasib “bangsa-bangsa lain” yang walaupun tidak kenal Hukum Tuhan, tapi melakukan apa yang diminta oleh Hukum Tuhan karena itu sudah ditulis Tuhan di hati dan pikiran mereka?

Apa kata ayat 13? Siapa yang dibenarkan Tuhan? Mereka yang kenal Hukum Tuhan atau mereka yang melakukan Hukum Tuhan? Mereka yang MELAKUKAN Hukum Tuhan!

Jadi, tidak kenal tidak apa, asal melakukan! Berarti “bangsa-bangsa lain” ini yang melakukan sesuai tuntutan Hukum Tuhan, akan dibenarkan oleh Tuhan walaupun mereka tidak kenal apa itu Hukum Tuhan.

Sedangkan mereka yang tidak kenal Hukum Tuhan dan tidak melakukan tuntutan Hukum Tuhan, menurut ayat 12 bagaimana?  “…seberapa banyak orang yang berdosa di luar Hukum, akan binasa juga di luar Hukum…” tetap binasa. Tidak ada keringanan.

 

 

Jadi kesimpulan dari ayat 11-15, APA HUKUM TUHAN ITU HARUS DILAKUKAN?

 

Baik YANG KENAL Hukum Tuhan,

maupun YANG TIDAK KENAL Hukum Tuhan,

kata Alkitab, Tuhan akan membenarkan

MEREKA YANG MELAKUKAN apa yang diminta Hukum Tuhan!

 

Dosa itu apa?

Dosa itu pelanggaran Hukum Allah.

1 Yohanes 3:4

Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.

 

Jadi, mau bilang tahu Hukum Tuhan, atau tidak tahu Hukum Tuhan, tidak ada bedanya, asal berbuat dosa, yaitu melanggar Hukum Tuhan, vonisnya binasa.

Sebaliknya, tahu Hukum Tuhan atau tidak tahu Hukum Tuhan, asal melakukan apa yang dituntut Hukum Tuhan, berarti tidak melanggar Hukum Tuhan atau tidak berbuat dosa, punya kesempatan untuk diselamatkan.

 

JADI KALAU MAU LULUS PENGHAKIMAN TUHAN

YA LAKUKANLAH APA YANG DIMINTA OLEH HUKUM TUHAN.

 

 

Sekarang, mari kita bandingkan dengan Roma 3:20. Ini menarik.

Roma 3:20

Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan Hukum Tuhan...

 

Rom 2:13 mengatakan

orang yang melakukan Hukum yang akan dibenarkan.

 

Waduh!

Kok bisa dalam satu kitab yang sama, yang ditulis oleh rasul yang sama, ada dua pernyataan yang bertolakbelakang? Nah, menghadapi hal-hal seperti inilah yang sering membuat orang agama lain mengatakan Alkitab itu palsu, bukan Firman Tuhan, karena banyak ayatnya yang kontradiksi.

Padahal sebetulnya tidak kontradiksi, hanya yang membaca saja yang tidak mengerti konteksnya.

 

“melakukan Hukum Tuhan” pada kedua ayat itu tidak berbicara tentang situasi yang sama.

 

v  Roma 3:20 berbicara dalam KONTEKS KESELAMATAN.

Maka, melalui jalur Hukum Tuhan, tidak ada manusia yang bisa diselamatkan. Dari mana kita tahu? Baca ayat-ayat berikutnya:

3:23         karena semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai  kemuliaan Allah,

3:24         setelah dibenarkan dengan cuma-cuma oleh kasih karuniaNya melalui penebusan yang terdapat dalam Kristus Yesus

3:25         yang telah ditentukan Allah sebagai jalan pendamaian melalui iman dalam darahNya, guna menyatakan kebenaran-Nya untuk pengampunan dosa-dosa yang lampau , melalui kesabaran Allah.

3:28         Oleh karena itu, kami simpulkan, bahwa manusia dibenarkan oleh iman tanpa perbuatan Hukum.

 

Jadi dari pihak Allah, mengulurkan KASIH KARUNIA, dari pihak manusia menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya dengan IMAN. Dapat sudah keselamatannya.

Konsep keselamatan menurut Alkitab, sejak awal itu selalu dalam Yesus Kristus.

Kisah 4:12

Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun yang lain, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.

 

Tidak ada konsep keselamatan yang lain.

ü   Sebelum Yesus datang, manusia yang mau selamat mengimani konsep itu dari upacara kurban. Yang tidak mengimani, ya tidak selamat. 

ü   Setelah Yesus datang, berakhirlah upacara kurban itu karena Anak Domba Allah yang sejati telah menggenapi janjiNya, Dia sudah mati sebagai kurban dosa.

Maka manusia sejak itu mengimani konsep penyelamatan itu dari menerima Kristus sebagai Juruselamat.

Jadi melakukan tuntutan Hukum Tuhan, tidak laku dalam konsep keselamatan.

 

 

v  Roma 2:13 berbicara dalam KONTEKS PENGHAKIMAN.

Maka Hukum Tuhan itulah yang dipakai Allah sebagai dasar penghakimanNya. 

Kok tahu ayat ini berbicara dalam konteks penghakiman? Jelas tertulis demikian di ayat 12nya: “…seberapa banyak orang yang berdosa di dalam Hukum, akan dihakimi oleh Hukum.”

 

Wahyu 20:12

Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.

 

Jadi,

 

Iman dalam Kristus Yesus itu berlaku untuk penyelamatan.

Hukum Tuhan itu berlaku untuk penghakiman.

 

Kita dibenarkan karena iman,

tetapi dihakimi menurut perbuatan.

 

 

 

19 03 17


Tidak ada komentar:

Posting Komentar