Rabu, 01 Maret 2017

MARY ~ EPISODE 1 ~ THE BIBLICAL PORTRAIT OF MARY ~ STEPHEN BOHR

       MARY SEMINAR___
Part 01/08 - Stephen Bohr
Biblical Portrait of Mary


Dibuka dengan doa.


As I mentioned in my prayer we are going to study in this series about Mary the mother of Jesus. In our study today we are going to look at what the Bible has to say about Mary. We are going to be exhaustive in our study, in other words we are going to leave no stone unturned, as we examine the biblical evidence. We are not going to embellish the record, we are not going to add to what Scripture has to say, we simply are going to take the testimony of Scripture at face value. Now, it might be surprising to some that the Bible does not have a lot to say about Mary, the mother of Jesus. Actually the only place that we really find Mary mentioned is in the four gospels. After the 4 gospels there is really no direct mention to Mary the mother of Jesus.

Seperti yang tadi saya sebutkan dalam doa saya, dalam serie ini kita akan belajar tentang Maria ibu Yesus. Dalam pelajaran kita hari ini kita akan melihat apa yang dikatakan Alkitab tentang Maria. Kita akan mengupas semuanya dalam pelajaran kita ini, dengan kata lain pada waktu kita memeriksa bukti-bukti dari Alkitab kita tidak akan membiarkan ada yang terlewatkan. Kita tidak akan membumbui catatannya, kita tidak akan menambahi apa yang dikatakan Kitab Suci, kita semata-mata akan menerima kesaksian Kitab Suci secara harafiah. Nah, mungkin ada yang heran bahwa ternyata Alkitab tidak bercerita terlalu banyak tentang Maria ibu Yesus. Sebenarnya cerita tentang Maria hanya kita temukan dalam keempat injil. Setelah keempat injil sebenarnya tidak disebutkan lagi tentang Maria ibu Yesus secara langsung.


What we are going to do is we are going to take a jaunt through the gospels ~ actually there is one reference after the gospels, but it really is in the context of what Jesus did when He died on the cross, on the day of Pentecost, but we are going to examine the references to Mary in chronological order.
·       The first reference that we are going to find about Mary is found in the nativity stories that we find in the gospels, in other words the record of the birth of Jesus.
·       The second place that we are going to take into account is when Jesus visited the temple when He was 12 years old, that’s the next mention of Mary the mother of Jesus.
·       Then we are going to visit the wedding feast where Jesus went to Cana and He performed His first miracle as He began His ministry.
·       Then we are going to examine a couple of references to Mary during the ministry of Jesus.
·       Then we will go and visit the reference to Mary as Jesus hung on the cross at Calvary.
·       And finally we will examine Mary as she is found on the day of Pentecost, after the death of Jesus, actually 50 days after the resurrection of Christ.
·       And then towards the end of our study together we are going to examine one other passage which some people have taken to be referring to Mary, and that is Revelation 12, the woman who is clothed with the sun, who is standing on the moon and has on her head a crown of 12 stars. This woman has  been taken as representing Mary, the mother of Jesus. And so we are going to examine that reference as well.

Yang akan kita lakukan adalah kita akan keliling-keliling di kitab-kitab Injil ~ sebenarnya masih ada satu pernyataan setelah kitab-kitab Injil, tetapi itu adalah dalam konteks apa yang dilakukan Kristus saat Dia menjalani kematian di salib, yaitu pada hari Pentakosta. Tetapi kita akan memeriksa semua referensi tentang Maria sesuai urutan kronologinya.
·       Referensi yang pertama yang akan kita dapati tentang Maria ada dalam kisah kelahiran Kristus yang terdapat dalam kitab-kitab Injil, dengan kata lain, catatan tentang kelahiran Yesus.
·       Tempat kedua yang akan kita simak adalah ketika Yesus mengunjungi Bait Suci saat berusia 12 tahun, di sanalah Maria ibu Yesus, disebutkan berikutnya.
·       Lalu kita akan ke pesta pernikahan yang didatangi Yesus di Kana dan Yesus membuat mujizatNya yang pertama saat Dia mengawali pelayananNya.
·       Lalu kita akan memeriksa dua referensi tentang Maria selama pelayanan Yesus.
·       Kemudian kita akan pergi dan melihat referensi tentang Maria sementara Yesus tergantung di atas salib di Kalvari.
·       Dan akhirnya kita akan memperhatikan Maria sebagaimana ditemukan pada hari Pentakosta setelah kematian Yesus, tepatnya 50 hari setelah kebangkitan Kristus.
·       Lalu menjelang akhir pelajaran kita bersama, kita akan memeriksa satu bacaan lagi yang dianggap orang-orang kutipan tersebut mengacu kepada Maria yaitu yang di kitab Wahyu 12: perempuan yang berselubung matahari yang berdiri di atas bulan dan di kepalanya ada mahkota dari 12 bintang. Perempuan ini dianggap mewakili Maria ibu Yesus. Maka kita juga akan memeriksa referensi tersebut.


So let’s go immediately and speak about the nativity references that we find in the gospels, Matthew-Mark-Luke-John.
The first thing that I want us to notice is that both Joseph and Mary were of the lineage of David. Mary who was the natural mother of Jesus, was of the royal lineage of David, and Joseph was as well. What this means is that Jesus biologically as well as legally through Joseph, had a right to kingship, He had a right to the throne of David. Please go with me in your Bibles to the gospel of Luke 2:4, and we’ll notice that Joseph was of the lineage of David. It says there, And Joseph also went up from Galilee, out of the city of Nazareth, into Judaea, to the city of David, which is called Bethlehem; because he was of the house and lineage of David. Very clearly Joseph was of the line of David.
But Scripture makes it equally clear that Mary was of the lineage of David. Notice Romans 1:3, it says, Concerning his Son Jesus Christ our Lord, who was born of the seed of David according to the flesh.” You notice that Jesus got His flesh from Mary so if He was born of the seed of David according to the flesh, it must mean that Mary was of the lineage of David.

Jadi mari kita segera membahas tentang referensi-referensi kelahiran Yesus yang kita temukan di Injil Matius-Markus-Lukas-Yohanes.
Yang pertama yang saya mau kalian perhatikan adalah baik Yusuf maupun Maria berasal dari garis keturunan Daud. Maria yang adalah ibu kandung Yesus, berasal dari garis keturunan raja Daud, begitu juga Yusuf. Artinya, Yesus secara biologis maupun secara legal melalui Yusuf, berhak menjadi raja, Dia berhak atas takhta kerajaan Daud. Marilah bersama saya membuka Alkitab kalian ke Injil Lukas 2:4, dan kita akan melihat bahwa Yusuf berasal dari garis keturunan Daud. Dikatakan di sana, Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, --karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud.” Sangat jelas Yusuf adalah dari garis keturunan Daud.
Tetapi Kitab Suci juga sama jelasnya mengatakan bahwa Maria pun berasal dari garis keturunan Daud. Perhatikan Roma 1:3, dikatakan, “tentang Anak-Nya, Yesus Kristus Tuhan kita, yang menurut daging diperanakkan dari benih Daud.” Kalian tahu bahwa Yesus mendapatkan tubuh fisik(daging)Nya dari Maria, maka jika Dia itu lahir dari benih Daud secara jasmani, tentunya ini berarti Maria berasal dari garis keturunan Daud.


I would also read a statement of that majestic biography of Jesus, called The Desire of Ages, and this quotation is found on page 44. “As in old time Cyrus was called to the throne of the world's empire that he might set free the captives of the Lord, so Caesar Augustus is made the agent for the fulfillment of God's purpose in bringing the mother of Jesus to Bethlehem…”  see, Cyrus and Caesar Augustus played a very important role in prophecy being fulfilled. And then we find this reference, speaking about Mary,  “…She is of the lineage of David, and the Son of David must be born in David's city…”  so very clearly both Joseph and Mary were of the lineage of David. Through Joseph Jesus had the legal right to the throne. Through Mary, He had a biological right to the throne.

Saya juga akan membacakan suatu pernyataan dari biografi Yesus yang hebat, yang bernama The Desire of Ages, dan kutipan ini terdapat di halaman 44. “Sebagaimana di zaman purba Cyrus dipanggil untuk menduduki takhta kerajaan dunia supaya dia bisa membebaskan umat Allah yang tertawan, demikian pula Kaisar Agustus dijadikan agen untuk menggenapi tujuan Allah dengan membawa ibu Yesus ke Betlehem…” lihat, Cyrus dan Kaisar Agustus memainkan peranan penting dalam penggenapan nubuatan. Lalu kita dapati referensi ini, berbicara tentang Maria,  “…Dia [Maria] berasal dari garis keturunan Daud, dan keturunan Daud harus lahir di kota Daud…” jadi sangat jelas baik Yusuf maupun Maria berasal dari garis keturunan Daud. Dari Yusuf, Yesus memiliki hak yang sah atas takhta. Dari Maria, Yesus memiliki hak biologis atas takhta.


Now it is interesting to notice that the Bible does not mention anything about the birth of Mary. I know that through tradition we’ve come to believe that the parents of Mary were called St. Anne and St. Joachim but that actually comes from an apocryphal work of the 2nd century AD, called The Nativity of Mary. So it’s not found in Scripture that her parents were called St. Joachim and St. Anne. In actual fact the Bible has nothing to say about when Mary was born, where Mary was born, to whom she was born, or how she was born. Scripture is silent about the birth of Mary, although the Bible has much to say about the birth of Jesus. 

Nah, yang menarik ialah Alkitab tidak menyinggung apa pun tentang kelahiran Maria. Saya tahu menurut tradisi kita percaya bahwa orangtua Maria bernama St. Anne dan St.Yoakim, tetapi itu sesungguhnya berasal dari karya apokripal abad ke-2 yang bernama The Nativity of Mary. Jadi tidak ada dalam Kitab Suci bahwa orangtuanya bernama St. Yoakim dan St. Anne. Fakta yang sesungguhnya Alkitab sama sekali tidak menyinggung tentang kapan Maria dilahirkan, di mana dia dilahirkan, siapa orangtuanya, atau bagaimana dia dilahirkan. Kitab Suci bungkam tentang kelahiran Maria walaupun Alkitab bercerita banyak tentang kelahirann Yesus. 


The Bible makes it very clear that Joseph and Mary had absolutely no sexual relations before Jesus was conceived and He was born.
I’d like to read three passages from the gospels which show that Jesus was born from a virgin. Notice Luke 1:26-27, it says now, And in the sixth month the angel Gabriel was sent by God to a city of Galilee, named Nazareth, 27 to a virgin betrothed…”  by the way that means engaged, “…to a man whose name was Joseph, of the house of David; …”  see, there you have  it again, “…of the house of David; and the virgin's name was Mary.” Now we need to remember that Luke was a physician. And so Luke would know very well what a virgin was. And he made it very clear in these verses, these two verses, Luke 1:26-27 that Mary was a virgin when she conceived Jesus Christ.
Notice also Luke 1:34-35, it says, “Mary said to the angel, ‘How can this be, since I do not know a man?’…”  to know means to have sexual relations in Scripture. “I haven’t known a man, I haven’t had any sexual relations,” she says,  “…35 The angel answered and said to her, ‘The Holy Spirit will come upon you, and the power of the Highest will overshadow you; therefore also that holy One who is to be born, will be called the Son of God’.” Once again we are told that she did not know a man before Jesus was born.
One final text that speaks about the fact that Mary was a virgin until the moment of the birth of Jesus is found in Matthew 1:18 where we find the following words: “Now the birth of Jesus Christ was as follows: after His mother Mary was betrothed to Joseph, before they came together she was found with child of the Holy Spirit.” Once again, before they had come together, she conceived this Child in her womb.

Alkitab menyatakan dengan sangat jelas bahwa Yusuf dan Maria tidak menjalin hubungan seksual sebelum Yesus dibuahi dan dilahirkan.
Saya ingin membacakan tiga bacaan dari kitab Injil yang menunjukkan bahwa Yesus dilahirkan dari seorang perawan.
Perhatikan Lukas 1:26-27, dikatakan, Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang sudah dijanjikan…” artinya sudah ditunangkan “…kepada seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud…”  lihat? Di sini disebutkan lagi.  “…dari keluarga Daud; dan nama perawan itu Maria.”
Nah, harus kita ingat bahwa Lukas adalah seorang tabib. Maka Lukas tentunya sangat tahu yang namanya perawan itu yang bagaimana. Dan dia menyatakan dengan sangat jelas dalam ayat-ayat ini, dalam dua ayat ini, Lukas 1:26-27 bahwa Maria adalah seorang perawan ketika dia mengandung Yesus Kristus.
Simak juga Lukas 1:34-35, dikatakan,  “Kata Maria kepada malaikat itu: ‘Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak pernah mengenal laki-laki?’…”  dalam Kitab Suci “mengenal” artinya menjalin hubungan seksual. “Aku tidak pernah mengenal laki-laki” artinya aku belum pernah punya hubungan seksual, kata Maria.  “…35 Jawab malaikat itu kepadanya: ‘Roh Kudus akan turun ke atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu Yang Kudus yang akan kaulahirkan itu akan disebut Anak Allah.’” Sekali lagi kita mendapat tahu bahwa Maria tidak pernah berhubungan seksual dengan seorang laki-laki sebelum Yesus lahir.
Satu teks lagi yang mengatakan bahwa Maria adalah seorang perawan hingga saat kelahiran Yesus ditemukan di Matius 1:18 di mana kita mendapati kata-kata ini: Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Setelah Maria, ibu-Nya, ditunangkan kepada Yusuf, sebelum mereka berhubungan seksual, ia didapati mengandung dari Roh Kudus.” Sekali lagi, sebelum mereka berhubungan seksual Maria telah mengandung Anak ini dalam rahimnya.


Now a question which comes up very frequently is whether Mary had children after Jesus was born, whether Mary was a perpetual virgin and whether Joseph was a perpetual virgin. Some people believe that Joseph never actually had sexual relations with Mary, either before obviously, or after Jesus was born. Now, can that be corroborated  from the testimony of holy Scripture? Well, let’s see what the Bible has to say.

Nah, suatu pertanyaan yang sering muncul ialah apakah Maria memiliki anak-anak setelah Yesus lahir, atau apakah Maria adalah seorang perawan selama-lamanya dan apakah Yusuf juga adalah seorang jejaka selama-lamanya. Ada yang percaya bahwa Yusuf tidak pernah punya hubungan seksual dengan Maria, baik sebelumnya, itu jelas, atau setelah Yesus lahir. Nah, apakah hal ini bisa dikoraborasi dari kesaksian Kitab Suci? Nah, marilah kita lihat apa yang dikatakan Alkitab.


Notice Luke 2:7, and today we are just studying the biblical foundations, I am going to go through everything that the Bible has to say about Mary, no stone unturned, there are not any other references than the ones that we are going to take a look at, so we want to know what the Bible has to say about Mary.
Luke 2:7, it says there, “And she brought forth her firstborn son; and wrapped Him in swaddling cloths, and laid Him in a manger, because there was no room for them in the inn.” Notice that Jesus is called the what? The firstborn son. It wouldn’t make any sense to say that He was “her firstborn son” unless she had other children. In that case you would say “her only son”. But Jesus is called “her firstborn son”. 
Notice also Matthew 1:24-25. The idea is that Mary did not have any sexual relations even after Jesus was born, in other words Mary was perpetually by a miracle of God, a virgin. Notice Matthew 1:24-25 Then Joseph, being aroused from sleep, did as the angel of the Lord commanded him, and took to him his wife…”  and now notice this,   “…25 and did not know her, till she had brought forth her firstborn Son, and he called His name Jesus.” He did not know her, he did not have sexual relations with her until the birth of Jesus. It would be senseless to say he did not know her UNTIL Jesus was born and to say that she did not have sexual relations with Joseph after Jesus was born. In other word she was a virgin UNTIL Jesus was born, according to this text.

Perhatikan Lukas 2:7, dan hari ini kita hanya mempelajari fondasi alkitabiahnya, saya akan membahas semua yang dikatakan Alkitab tentang Maria, tanpa melewatkan apa pun. Tidak ada referensi lain kecuali itu yang akan kita teliti, kita mau tahu apa yang dikatakan Alkitab tentang Maria.
Lukas 2:7, dikatakan di sana, dan ia [Maria] melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu membungkusNya dengan lampin dan membaringkanNya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” Perhatikan Yesus disebut apa? Anak sulung laki-laki. Tidak masuk akal mengatakan bahwa Yesus adalah “anaknya yang sulung”  jika Maria tidak memiliki anak-anak yang lain. Seandainya dia tidak memiliki anak-anak yang lain, tentunya Yesus disebut “anaknya yang tunggal”. Tetapi Yesus disebut “anaknya yang sulung”.
Perhatikan juga Matius 1:24-25. [Berkaitan dengan]  Konsep bahwa Maria tidak menjalin hubungan seksual bahkan setelah Yesus dilahirkan. Dengan kata lain Maria tetap seorang perawan lewat mujizat Allah. Perhatikan Matius 1:24-25, Sesudah dibangunkan dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya…”  dan sekarang perhatikan ini,   “…25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia [Maria] melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.” Yusuf tidak “mengenal” Maria, dia tidak mempunyai hubungan seksual dengan Maria sampai Yesus dilahirkan. Tidak masuk akal mengatakan Yusuf tidak mempunyai hubungan seksual dengan Maria SAMPAI Yesus dilahirkan dan bahwa Maria tidak memiliki hubungan seksual dengan Yusuf setelah Yesus dilahirkan. Dengan kata lain, Maria adalah seorang perawan SAMPAI Yesus  dilahirkan, menurut kutipan ini.  


Notice also Matthew 1:18, it says, Now the birth of Jesus Christ was as follows: after His mother Mary was betrothed to Joseph…”  notice,   “…before they came together she was found with child of the Holy Spirit.”
before they came together”  it’s obvious that afterwards they came together, or else you wouldn’t have to say  “before they came together”.

Perhatikan juga Matius 1:18, dikatakan, Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Setelah Maria, ibu-Nya, ditunangkan kepada Yusuf…” perhatikan, “…sebelum mereka berhubungan seksual, ia didapati mengandung dari Roh Kudus
“…sebelum mereka berhubungan seksualjelas berarti bahwa SETELAH ITU, mereka berhubungan seksual, kalau tidak, tidak perlu dikatakan “…SEBELUM mereka berhubungan seksual.


Also if you examine Psalm 69 which is a Messianic prophecy, let me just give you a couple of references that indicate this, you have for example in verse 9 “zeal of your House has eaten Me up”, Jesus quoted that verse when He was referring to cleansing the temple; in verse 21 you have the reference “gall for food and vinegar to drink” which is what was given to Jesus as He hung on the cross.

Juga  jika kita memeriksa Mazmur 69 yang adalah nubuatan Mesianik, izinkan saya memberikan dua referensi yang menunjukkan demikian: misalnya di ayat 9, “sebab cinta untuk rumah-Mu telah membuat Aku murka Yesus mengutip ayat itu ketika Dia mengacu kepada pembersihan Bait Suci; di ayat 21 ada referensi  yang pahit sebagai makanan dan … cuka sebagai minuman.” yaitu apa yang diberikan kepada Yesus saat Dia tergantung di salib.


Now, notice what we find in verse 8, here the Desire is speaking, Jesus is speaking, and He says, I have become a stranger to my brothers and an alien to my mother's children.”  Did you catch that point?  “I have become an alien to my mother’s children”, of course the mother of the Messiah was Mary, it seems to indicate that Mary the mother of Jesus had other children.
Sekarang, perhatikan apa yang kita temukan di ayat 8, di sini Yang Dirindukan sedang berbicara, Yesus sedang berbicara, dan Dia berkata, Aku telah menjadi orang yang tak dikenal bagi saudara-saudaraku, dan orang asing bagi anak-anak ibuku.” Apakah kalian menangkap poin ini? Aku telah menjadi …orang asing bagi anak-anak ibuku”.  Tentu saja ibu Sang Mesias adalah Maria. Maka  ini sepertinya menunjukkan bahwa Maria ibu Yesus mempunyai anak-anak yang lain.


Now you are probably wondering what about the sons, or rather the brothers and sisters of Jesus? Well, let me read that passage it’s found in Matthew 13:55-56, the people marveled at the knowledge of Jesus and we find these words: "Is this not the carpenter's son? Is not His mother called Mary, and His brothers, James, Joseph, Simon and Judas? 56 And His sisters, are they not all with us? Where then did this man get all these things?"
So you’ll notice here that Scripture says that Jesus had brothers and sisters. The most likely explanation to this, however, is, that the brothers and sisters which are mentioned in the gospels are actually sons and daughters of Joseph from a previous marriage. It becomes obvious that Joseph was a lot older than Mary was, she was a very young maiden according to Scripture. You know, you see for example from gospels that the brothers and sisters of Jesus were constantly wanting to lord it over Him, that’s something that older brothers and sisters would do to a younger sibling.

Sekarang mungkin kalian bertanya-tanya bagaimana dengan anak-anak laki-laki, atau lebih tepat saudara laki-laki dan saudara perempuan Yesus? Nah, izinkan saya membacakan teks yang terdapat di Matius 13:55-56, bagaimana orang-orang terkagum-kagum pada pengetahuan Yesus, dan kita mendapatkan kata-kata ini: Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? 56 Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?”
Jadi, di sini kalian melihat Kitab Suci berkata bahwa Yesus memiliki saudara-saudara laki-laki dan perempuan. Penjelasan yang paling mungkin dari hal ini ialah, saudara-saudara laki-laki dan perempuan yang disebutkan di kitab-kitab Injil sesungguhnya adalah anak-anak laki-laki dan perempuan Yusuf dari pernikahan yang terdahulu. Jelas Yusuf itu jauh lebih tua daripada Maria, Maria adalah seorang gadis yang sangat muda menurut Kitab Suci. Kalian tahu, misalnya kita melihat dari kitab-kitab Injil bagaimana saudara-saudara laki-laki dan perempuan Yesus selalu mau mengaturNya, itu yang biasa dilakukan oleh saudara-saudara yang lebih tua terhadap yang lebih muda.


But some people say, “Well, no, actually the expression ‘brothers and sisters’ is a different way of saying ‘cousins’. They were cousins of Jesus.”
Well, the fact is that the Greek language has a very definite word for cousins, it’s the word  ἀνέψιος  [anepsios] for example it’s used in Colossians 4:10 where we are told that Mark was the cousin of Barnabas. So, if the gospel writers had wanted to say that these individuals were actually cousins of Jesus, he could have used, or they could have used the word “cousins” because it existed.

Tetapi ada yang berkata, “Oh, tidak, sebenarnya istilah “saudara-saudara laki-laki dan perempuan” adalah kata lain untuk mengungkapkan “saudara sepupu”, mereka itu adalah saudara-saudara sepupu Yesus.”
Nah, faktanya dalam bahasa Greeka ada kata khusus untuk saudara sepupu, yaitu ἀνέψιος [anepsios] misalnya seperti yang dipakai di Kolose 4:10 di mana dikatakan Markus adalah saudara sepupu Barnabas. Jadi jika penulis-penulis kitab-kitab Injil mau mengatakan bahwa orang-orang tersebut adalah saudara-saudara sepupu Yesus, dia atau mereka bisa memakai kata “saudara sepupu” karena kata itu ada.


Allow me to read you once again a statement from this classic biography of Jesus, The Desire of Ages pg 90. She…”  Mary,  “…looked upon the associations of the home, and the mother's tender watchcare over her children, as of vital importance in the formation of character…”  and then she says this,   “…The sons and daughters of Joseph knew this, and by appealing to her anxiety, they tried to correct the practices of Jesus according to their standard.”
So very clearly, according to the author of The Desire of Ages, it says, “…The sons and daughters of Joseph knew this…”  and so the brothers and sisters of Jesus in the gospels most likely are a reference to the sons and daughters of Joseph before Joseph actually married Mary.

Izinkan saya membacakan sekali lagi suatu pernyataan dari biografi klasik Yesus, The Desire of Ages hal. 90. “Dia…” yaitu Maria, “…menganggap pengaruh rumah tangga, dan bimbingan seorang ibu yang lemah lembut pada anak-anaknya, sangat penting dalam pembentukan karakter…” lalu Ellen White berkata demikian, …Putra-putri Yusuf mengetahui hal ini, dan dengan memanfaatkan rasa khawatir [ibu]nya ini, mereka berusaha mengubah apa yang dilakukan Yesus sesuai standar mereka.”
Jadi sangat jelas, menurut penulis The Desire of Ages dikatakan, “…Putra-putri Yusuf mengetahui hal ini…” maka, saudara-saudara Yesus yang disebutkan dalam kitab-kitab Injil kemungkinan besar mengacu kepada putra-putri Yusuf sebelum Yusuf menikah dengan Maria.


Now, a question that always comes up when you deal with Mary, is whether Mary was the mother of God. You say that sounds almost blasphemous. Now, in the strictest sense of the word, Mary was not the mother of God because we know from Scripture that Jesus actually preexisted Mary. In fact we find in John 17:5 in the prayer of Jesus to His Father, He says this, "Now, Father, glorify Me together with Yourself, with the glory which I had with You before the world was.” Obviously Jesus preexisted the creation of the world according to that text.
Jesus also said in John 8:58 “Verily, verily, I say unto you, Before Abraham was, I am.”
John 1:1-3  In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God. 2 He was in the beginning with God. 3 All things were created through Him…” In other words, Jesus very clearly according to Scripture preexisted Mary. So could we really call Mary the mother of God in the strictest sense? Absolutely not.
But there is a sense in which we could call Mary the mother of God and that is in the sense that the human nature of Jesus was joined with His divine nature, and the human and divine Child was born from Mary into this world. In that sense you could say that Mary brought the God-Man into the world, the God-Man was born from Mary.
But in the strictest sense of the word we could not say that Mary was the mother of God because Jesus existed as God previous to the incarnation.

Nah, satu pertanyaan yang selalu muncul bila kita bicara tentang Maria ialah apakah Maria itu ibu Tuhan. Kalian berkata itu kedengarannya seperti suatu hujatan. Nah, dalam arti kata yang sempit, Maria bukan ibu Tuhan, karena kita tahu dari Kitab Suci bahwa Yesus sesungguhnya sudah ada sebelum Maria. Bahkan kita dapati di Yohanes 17:5 dalam doa Yesus kepada Allah Bapa, Dia berkata demikian, “Oleh sebab itu, ya Bapa, muliakanlah Aku bersama Diri-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki bersama-Mu sebelum dunia ada.” Jelas Yesus sudah ada sebelum dunia diciptakan menurut ayat ini.
Yesus juga berkata di Yohanes  8:58, Sungguh-sungguh Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku [selalu] ada."
Yohanes 1:1-3,  “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah  2   Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.  3 Segala sesuatu dijadikan melalui Dia…”
Dengan kata lain menurut Kitab Suci sangat jelas Yesus sudah ada sebelum Maria. Jadi, bisakah kita menyebut Maria sebagai ibu Tuhan dalam arti yang sempit? Sama sekali tidak. Tetapi kita bisa menyebut Maria sebagai ibu Tuhan dan itu adalah dalam arti kodrat kemanusiaan Yesus terikat dengan kodrat ilahiNya, dan Anak manusia-ilahi ini dilahirkan oleh Maria ke dalam dunia ini. Dalam pemahaman itu, kita bisa mengatakan bahwa Maria yang membawa Manusia-Ilahi ini ke dalam dunia, Manusia-Ilahi ini lahir dari Maria. Tetapi dalam arti yang sempit kita tidak bisa mengatakan bahwa Maria adalah ibu Tuhan karena Yesus sudah ada lebih dahulu sebagai Allah sebelum menjelma sebagai manusia.


In fact I’d like to read you a very interesting statement that we find in the devotional book Lift Him Up. It says there, “Was the human nature of the Son of Mary changed into the divine nature of the Son of God? No. The two natures were mysteriously blended in one Person, the Man, Christ Jesus."
So Mary did bring the God-Man into this world, but the divinity of Jesus preexisted His humanity before His incarnation.

Sesungguhnya saya ingin membacakan suatu pernyataan yang sangat menarik yang kita temukan dalam buku devosi Lift Him Up. Dikatakan di sana, “Apakah kodrat kemanusiaan Anak Maria berubah menjadi kodrat ilahi Anak Allah? Tidak. Kedua kodrat itu menyatu secara misterius dalam satu Orang, Manusia Kristus Yesus.
Jadi memang benar Maria yang menghadirkan Manusia-Ilahi ini ke dalam dunia, tetapi keilahian Yesus sudah ada sebelum kemanusiaanNya, sebelum penjelmaanNya.


Now, let’s notice some characteristics about Mary.
First of all Mary was a very humble and obedient person. Notice Luke 1:38, when the angel says “you’ve been chosen to bring the Messiah into the world”, notice what we find, Then Mary said, ‘Behold, the maid servant of the Lord; let it be to me according to your word.’…”  in other words, “I am willing”. And lest anybody think that this was an easy thing, you need to remember that many people did not believe that what was conceived in the womb of Mary was actually the Son of God. They believed that Joseph and Mary had had sexual relations actually before marriage and so Mary would have to live all of her life with this stigma upon her of having been unfaithful and having committed sexual improprieties before Jesus was actually conceived, before she actually married Joseph.

Sekarang, mari kita perhatikan beberapa karakteristik Maria.
Pertama, Maria adalah sosok yang sangat rendah hati dan penurut. Perhatikan Lukas 1:38 ketika malaikat itu berkata, “Kamu telah dipilih untuk membawa Sang Mesias ke dunia”, perhatikan apa yang kita temukan,  “Kata Maria: ‘Lihatlah, hamba Tuhan ini; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.’…” Dengan kata lain, “Saya bersedia.” Dan seandainya ada yang berpikir bahwa ini adalah hal yang mudah, kalian perlu mengingat bahwa banyak orang tidak percaya yang dikandung dalam rahim Maria benar-benar Anak Allah. Mereka percaya bahwa Yusuf dan Maria sudah berhubungan seks sebelum menikah dan seumur hidupnya Maria harus memikul stigma ini bahwa dia pernah tidak setia dan telah melakukan perbuatan seksual yang tidak pantas sebelum Yesus dibuahi, sebelum dia benar-benar menikah dengan Yusuf.


Now, I’d like to mention also that Mary besides being obedient and humble, Mary was also very poor. And we know this because when Jesus was brought to be dedicated to the temple, they were not able, Joseph and Mary were not able to bring the normal lamb which was required for the dedication service. I’d like to read Luke 2:23-24 where the law of Leviticus 12:6-8 is referred to, about what needed to be brought at the dedication. It says there in Luke 2:22  Now when the days of her purification according to the law of Moses were completed, they brought Him to Jerusalem, to present Him to the Lord; 23 As it is written in the law of the LORD, Every male who opens the womb shall be called holy to the Lord; 24 And to offer a sacrifice according to that is said in the law of the Lord, a pair of turtledoves, or two young pigeons.”
If you go back to Leviticus you’ll discover that those who were not able to afford a lamb, could actually bring a pair of turtledoves or two young pigeons.

Sekarang saya ingin mengatakan bahwa selain penurut dan rendah hati, Maria juga sangat miskin. Dan ini kita ketahui karena ketika Yesus dibawa untuk didedikasikan ke Bait Suci, mereka tidak mampu, Yusuf dan Maria tidak mampu membawa domba yang biasanya diminta untuk upacara penyerahan tersebut. Saya ingin membacakan Lukas 2:23-24 yang mengacu pada hukum Imamat 12:6-8, tentang apa yang perlu dibawa untuk upacara penyerahan itu. Dikatakan di sini di Lukas 2:22, Dan ketika genap waktu pentahirannya, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: ‘Semua anak laki-laki yang membuka rahim harus dikuduskan bagi Allah’, 24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.”
Jika kita kembali ke Imamat, kita akan melihat  bahwa mereka yang tidak mampu membawa seekor domba boleh membawa sepasang burung tekukur atau dua anak burung merpati.”


Another interesting characteristic about Mary is that Mary was blessed. I want to underline that the Bible does not say that Mary was the blessor. Scripture says that Mary was blessed. Notice Luke 1:48-49  For He has had regard the lowly state of His maid servant; for behold, henceforth all generations will call me blessed. 49 For He who is  mighty has done great things for me; And holy is His name.”
Obviously it would be a great blessing to have the privilege of bringing the Messiah into the world. And so the text tells us that clearly Mary was greatly blessed by the Lord.

Karakteristik yang lain tentang Maria ialah Maria itu diberkati. Saya mau menggarisbawahi bahwa Alkitab tidak mengatakan Maria yang memberkati. Kitab Suci berkata bahwa Maria diberkati. Perhatikan Lukas 1:48-49, “sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Karena lihatlah, mulai dari sekarang semua generasi akan menyebut aku diberkati, 49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar bagiku dan kuduslah nama-Nya.”
Jelas itu adalah berkat yang besar mendapat kehormatan membawa Sang Mesias ke dalam dunia. Maka ayat berikutnya mengatakan kepada kita bahwa Maria itu sangat diberkati Tuhan.


Notice also verse 42 of Luke 1, it says  And she spoke out with a loud voice, and said…” this is Elizabeth,   “…‘Blessed are you among women, and blessed is the fruit of your womb’.”  Notice that we are not told here, “Blessed are you above women” it says   “…‘Blessed are you among women’”  And for those who think this is some peculiar  special way of addressing Mary because she was out of the ordinary, this expression is used more than one time in the Old Testament. Notice for example Genesis 30:13, this is speaking about the birth of Asher from Leah and Jacob, and you’ll notice what Leah says. She says,  Then Leah said, ‘I am happy! For the daughters will call me blessed.’…” The identical expression that we find in Luke 1,   “the daughters will call me blessed.” 
You’ll notice that Scripture does not say that Mary was the fountain of blessings, she was not the giver of blessings, she was actually blessed by God so that she could bring the Messiah into the world.

Perhatikan juga ayat 42 Lukas 1, dikatakan, lalu ia  berseru dengan suara nyaring dan berkata…” ini Elizabet, “…‘Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.” Perhatikan kita tidak diberitahu di sini, “Diberkatilah engkau di atas semua perempuan”, tetapi dikatakan, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan”   Dan bagi mereka yang menganggap bahwa cara menyapa Maria ini adalah sesuatu yang istimewa dan lain daripada yang lain karena Maria itu luar biasa, ketahuilah bahwa ungkapan ini dipakai lebih dari satu kali dalam Perjanjian Lama. Perhatikan contohnya di Kejadian 30:13, ini berbicara tentang kelahiran Asyer dari Lea dan Yakub, dan kita melihat apa kata Lea, dia berkata, Berkatalah Lea: ‘Aku bersukacita! Karena perempuan-perempuan akan menyebut aku diberkati."  Ungkapan yang sama seperti yang kita temukan di Lukas 1,“perempuan-perempuan akan menyebut aku diberkati."
Kalian akan melihat bahwa Kitab Suci tidak mengatakan Maria merupakan sumber berkat, dia bukanlah pemberi berkat, yang benar dia yang diberkati oleh Allah supaya dia bisa membawa Sang Mesias ke dalam dunia.


Another very clear characteristic of Mary in the story about the birth of Jesus is the fact that Mary is a sinner in need of redemption, in need of a redeemer. In fact we are told in Romans 3:23 that “…All have sinned and come short of the glory of God.”
Now Scripture makes it very clear there is one exception to this. In fact in Hebrews 4:15 we find these words that Jesus was tempted in all things such as we are, yet without sin.
So if you read the Bible, if you read the New Testament particularly you are going to discover that there is only one who is excepted from sin and that is Jesus Christ.
I want you to notice Luke 1:46-47 where we are told very clearly that Mary needed a redeemer, she needed a savior. It says there, And Mary said, ‘My soul magnifies the Lord, 47 And my spirit has rejoiced in God my Savior.” Notice that she rejoiced in God her Savior, Mary needed a Savior because “all have sinned and come short of the glory of God.”

Satu lagi karakteristik Maria yang jelas dalam kisah kelahiran Yesus adalah faktanya dia [Maria] adalah seorang yang berdosa yang memerlukan penebusan, memerlukan seorang Penebus. Malah di Roma 3:23 kita diberitahu bahwa …semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai  kemuliaan Allah”
Nah, Kitab Suci sangat jelas mengatakan bahwa ada satu perkecualian untuk ini. Faktanya di Ibrani 4:15 kita menemukan kata-kata bahwa Yesus telah dicobai dalam segala hal sama seperti kita, namun Dia tidak berbuat dosa. Jadi jika kita membaca Alkitab, jika kita membaca Perjanjiann Baru khususnya kita akan menemukan bahwa hanya ada satu yang dikecualikan dari dosa dan itu adalah Yesus Kristus.
Saya mau kalian perhatikan Lukas 1:46-47 di mana kita diberitahu dengan jelas bahwa Maria membutuhkan seorang Penebus, dia membutuhkan seorang Juruselamat. Dikatakan di sana, Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, 47 dan hatiku bersukacita dalam  Allah, Juruselamatku.” Perhatikan, Maria bersukacita dalam Allah, Juruselamatnya. Maria membutuhkan seorang Juruselamat karena …semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai  kemuliaan Allah”


I’d like to read another statement from the book The Desire of Ages pg. 147 where we have a reference to this need that Mary had of a redeemer. The author of this biography says, Mary could find salvation only through the Lamb of God. In herself she possessed no merit. Her connection with Jesus placed her in no different spiritual relation to Him from that of any other human soul. This is indicated in the Saviour's words. He makes clear the distinction between His relation to her as the Son of man and as the Son of God. The tie of kinship between them in no way placed her on an equality with Him.”
In other words, Mary was one with the lot of humanity, she needed a Savior to save her from sin, according to the testimony of Scripture.

Saya ingin membacakan pernyataan lain dari buku The Desire of Ages hal. 147 di mana kita dapati acuan kepada kebutuhan ini, bahwa Maria memerlukan seorang Penebus. Penulis biografi ini mengatakan, “Maria hanya dapat menemukan keselamatan melalui Anak Domba Allah. Dari dirinya sendiri dia tidak memiliki jasa apa pun. Hubungan [kekeluargaan]nya dengan Yesus tidak membuatnya memiliki hubungan spiritual denganNya yang berbeda dari manusia lain mana pun.  Ini terbukti dalam kata-kata Sang Juruselamat. Dia menyatakan dengan jelas perbedaan antara hubunganNya dengan Maria sebagai Anak Manusia dan sebagai Anak Allah. Ikatan kekeluargaan antara mereka sama sekali tidak menempatkan Maria pada posisi yang sejajar dengan Dia [=Yesus].”
Dengan kata lain, Maria berada di posisi yang sama dengan manusia yang lain, menurut kesaksian Kitab Suci, dia membutuhkan seorang Juruselamat untuk menyelamatkannya dari dosanya.


Not only according to the gospels was Mary greatly blessed, but we also find that Mary was highly favored by God. Notice what we find in Luke 1:28 and we are using the NKJV. It says,  And having come in, he said to her…”  the angel,  “…Rejoice, highly favored one! The Lord is with you. Blessed are you among women." Notice here Mary is called “highly favored one”.
Now there is one version of the Bible that gives a different translation and that is the Douay version of the Roman Catholic church. It actually is a translation that is based on the Latin Vulgate which was translated by Jerome, very much around the year 300-325 approximately. And the Latin Vulgate translates instead of “highly favored one” it translates gracia plena which means “Mary full of grace”. And the idea is that Mary is full of grace and therefore she is a dispensary of grace. In other words, she is full of grace and therefore she can pour out, or she can give grace to the people that come to her after her asunción into heaven, supposedly.

Bukan saja menurut kitab-kitab Injil Maria itu sangat diberkati, tetapi kita juga mendapati bahwa Maria itu sangat disayangi Allah. Perhatikan apa yang kita temui di Lukas 1:28 dan kita memakai NKJV. Dikatakan, Dan setelah dia masuk, dia berkata kepada Maria…” malaikat itu, “…Bersukacitalah, engkau yang sangat disayangi! Tuhan menyertai engkau. Diberkatilah engkau di antara para perempuan.’"
Perhatikan di sini Maria disebut sebagai “yang sangat disayangi”.
Nah, ada satu versi Alkitab yang membuat terjemahan yang berbeda dan itu adalah versi Douay milik gereja Roma Katolik. Sebenarnya terjemahan ini berdasarkan Vulgata berbahasa Latin yang diterjemahkan oleh Jerome, sekitar tahun 300-325. Dan Vulgata Latin itu menerjemahkan bukan “yang sangat disayangi” melainkan gracia plenayang berarti “Maria penuh karunia.” Konsep mereka ialah Maria ini penuh karunia dan dengan demikian dia menjadi pembagi karunia. Dengan kata lain, Maria itu penuh karunia sehingga dia bisa mencurahkan, atau dia bisa memberikan karunia kepada orang-orang yang datang kepadanya konon setelah kenaikannya ke Surga.


Now, Luke 1:30 underlines the fact that she found grace in the eyes of the Lord, she found favors, she doesn’t give favors.  Luke 1:30 says, Then the angel said to her, ‘Do not be afraid, Mary; for you have found favor with God’.” Notice once again she is the one who has found favor. She is not actually imparting or giving favors. In actual fact the Bible makes it very clear that there is only One who is full of grace and that is Jesus Christ.  Notice John 1:14, it says, And the Word became flesh, and dwelt among us, and we beheld His glory, the glory as of the only begotten of the Father, full of grace and truth.” Who is the one full of grace? It’s Jesus who is full of grace! Mary is highly favored, she has received grace from the Lord, but Scripture never says that she is the dispensary of grace.

Nah, Lukas 1:30 menekankan fakta bahwa Maria yang mendapatkan kasih karunia di mata Tuhan, dia disayangi, bukan dia yang memberikan karunia. Lukas 1:30 berkata, Lalu kata malaikat itu kepadanya: ‘Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.’”
Perhatikan sekali lagi Maria lah yang diperkenan Tuhan. Bukan dia yang membagikan karunia. Justru Alkitab membuatnya sangat jelas bahwa hanya ada Satu yang penuh karunia dan itu adalah Yesus Kristus. Perhatian Yohanes 1:14, dikatakan, “Firman itu telah menjadi daging dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan sebagai satu-satunya yang berasal dari Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”
Siapa yang penuh kasih karunia? Yesus yang penuh kasih karunia! Maria sangat disayangi, dia menerima kasih karunia dari Tuhan, tetapi Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa Maria adalah pemberi kasih karunia.

Another interesting characteristic about Mary is that Mary knew her Bible, she knew the Old Testament Scripture.
You say “How do we know that?”
Notice Matthew 13:54-55, we read these text before but let’s read them in the new context now. It says,  And when He had come to His own country…” that is Jesus, “…He taught them in their synagogue, so that they were astonished, and said, ‘Where did this man get this wisdom and these mighty works? 55 Is this not the carpenter's son? Is not His mother called Mary, and His brothers, James, Joseph, Simon and Judas?  56 And His sisters, are they not all with us? Where did this man get all these things?"
It becomes very obvious that Mary had homeschooled Jesus, Mary had reviewed the Old Testament Scriptures with Jesus. She felt that the greatest job to which a mother could aspire was to bring up her children in fear of the Lord. You can imagine Jesus sitting on the knee of Mary as Mary reviewed the stories of the Old Testament which pointed to the Messiah.  You know, you’ve heard about the Magnificat this is where Mary actually extolls  and praises God for having chosen her to be the mother of the Messiah. It’s found in Luke 1:46-51. You know, as you read the Magnificat, it’s actually a collection of quotations from the Old Testament, and Mary is the one who is singing the song. Do you know that she actually has Bible texts from 1 Samuel, several from the Psalms, and also even reference from the book of Job, so we find very clearly that Mary had a very good knowledge of the Old Testament and she shared this knowledge with Jesus. And of course we are going to come in a few moments to the visit of Jesus to the temple, Jesus were actually teaching the rabbis a few things that they didn’t know. And He was teaching them from the Old Testament Scriptures. Obviously He had heard many of these teachings from Mary, His mother.

Karakteristik lain tentang Maria yang menarik adalah dia sangat mengenal Alkitabnya, dia tahu isi Kitab Suci Perjanjian Lama.
Kalian bertanya, “Dari mana kita tahu itu?”
Perhatikan Matius 13:54-55, kita tadi sudah membaca ayat-aat ini tetapi mari kita baca lagi dengan konteks yang baru. Dikatakan, Setibanya di negara asal-Nya…”  yaitu Yesus,  “…Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: ‘Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?  55 Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?  56 Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?’"
Sangat jelas Maria telah mengajar Yesus sendiri di rumah, Maria telah mengulang Kitab Suci Perjanjian Lama bersama Yesus. Maria merasa bahwa tugas terbesar yang bisa dilakukan seorang ibu adalah membimbing anak-anaknya dalam takut akan Tuhan. Kita bisa membayangkan Yesus duduk di pangkuan Maria sementara Maria mengulang cerita-cerita Perjanjian Lama yang menunjuk kepada Sang Mesias. Kalian tentunya pernah mendengar tentang Magnificat, ini ialah di mana Maria meninggikan dan memuji Allah yang telah memilihnya menjadi ibu Sang Mesias. Ini terdapat di Lukas 1:46-51. Kalian tahu, jika kita membaca Magnificat sesungguhnya itu kumpulan ayat-ayat dari Perjanjian Lama, dan Maria-lah yang menyanyikan lagu itu. Tahukah kalian dia mengambil ayat-ayat Alkitab dari 1 Samuel, beberapa dari Mazmur, dan bahkan juga dari kitab Ayub. Jadi sangat jelas Maria memiliki pengetahuan yang sangat baik tentang Perjanjian Lama dan dia membagikan pengetahuan ini kepada Yesus. Dan tentu saja nanti kita akan tiba pada kunjungan Yesus ke Bait Suci di mana Yesus sungguh-sungguh mengajar para rabi tentang beberapa hal yang tidak mereka ketahui. Dan Yesus mengajar mereka dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Sudah pasti Dia telah mendengar banyak ajaran itu dari Maria ibunya.


Now, as you look at the story about the birth of Jesus you discover that Jesus is the central of attraction. Never is Mary the central of attraction. For example I just mentioned these texts in Matthew 1:11 we are told that when the wisemen came in they bowed and worshiped Jesus. We find in Luke 2:17-18 that when the shepherds came in, they marveled at the Child, and when they left the place they publicized about the Child far and wide. Nothing about exalting Mary in the minds of the shepherds. Also Joseph and Mary according to Luke 2:33 says that they marveled at what Simeon said about Jesus. You can read these nativity scenes in the gospels and you will discover that always Jesus is the center of attraction. Never are Mary and Joseph the center of attraction.
Now something that Simeon said to Mary was very very important when they took Jesus to dedicate Him at the temple. In Luke 2:35, Simeon says to her, “Yes, a sword will pierce through your soul also.” Do you know that Mary suffered along with Jesus  all throughout the ministry of Jesus culminating with the death of Jesus on the cross? We could not deny that Mary suffered along with Jesus. We are going to study a little bit  later on in this series  that some people believe that Mary was actually co-redemptrix with Jesus, co-redeemer, because she experienced suffering and agony as Jesus suffered and agonized. Now we can’t deny that there were suffering of Mary along with Jesus but does this raise Mary to the level of co-redemptrix with Jesus, we’ll have to deal with that later.
What was it that Simeon was meaning when he said that a sword would pierce the soul of Mary? He was actually referring to the crucifixion of Christ.
You say, “How do we know that?”
Because he was really quoting a prophecy from Zechariah 13:7 where it says,Awake, O sword, against My Shepherd, and against the Man who is My Companion, says the LORD of hosts: strike the shepherd, and the sheep will be scattered…”

Nah, saat kita meneliti kisah kelahiran Yesus, kita akan melihat Yesus-lah yang menjadi pusat perhatian. Tidak pernah Maria yang menjadi pusat perhatian. Misalnya, saya baru saja menyinggung tentang ayat-ayat di Matius 1:11, kita diberitahu bahwa ketika para orang majus datang, mereka sujud dan menyembah Yesus. Kita dapati di Lukas 2:17-18 ketika para gembala datang, mereka mengagumi si Anak, dan ketika mereka pergi, mereka menyiarkan berita tentang Anak itu ke mana-mana. Dalam pikiran para gembala itu sama sekali tidak ada niat untuk meninggikan Maria. Juga Yusuf dan Maria menurut Lukas 2:33 berkata bahwa mereka mengagumi apa yang dikatakan Simeon tentang Yesus. Kalian bisa membaca adegan-adegan kelahiran Yesus ini dalam kitab-kitab Injil dan kita akan mendapati Yesus selalu menjadi pusat perhatian, tidak pernah Maria dan Yusuf yang menjadi pusat perhatian.
Nah, sesuatu yang dikatakan Simeon kepada Maria ketika mereka membawa Yesus untuk menyerahkan Dia di Bait Suci, itu sangat sangat penting. Di Lukas 2:35 Simeon berkata kepada Maria, Ya, sebuah pedang akan menembus jiwamu juga…” Tahukah kalian Maria menderita bersama-sama dengan Yesus sepanjang perjalanan pelayananNya dan memuncak saat kematian Yesus di salib? Kita tidak menyangkal bahwa Maria menderita bersama-sama Yesus. Dalam serie ini nanti kita akan mempelajari bahwa ada yang meyakini Maria sesungguhnya adalah seorang co-redemptrix [= penebus pembantu] bersama Yesus, seorang yang sama-sama menjadi penebus,  karena Maria mengalami penderitaan dan nestapa sebagaimana Yesus menderita dan bersedih hati. Nah, kita tidak bisa mengingkari bahwa memang ada penderitaan Maria bersama-sama dengan Yesus, tetapi ini tidak mengangkat Maria ke tingkat co-redemptrix bersama Yesus, ini nanti akan kita bicarakan.
Apa yang dimaksudkan Simeon saat dia berkata bahwa sebuah pedang akan menembus jiwa Maria? Sebenarnya dia sedang mengacu kepada peristiwa penyaliban Kristus.
Kalian berkata, “Dari mana kita tahu itu?”
Karena Simeon sedang mengutip nubuatan dari kitab Zakharia 13:7 di mana dikatakan, "Hai pedang, bangkitlah terhadap Gembala-Ku, terhadap Orang yang adalah Pendamping-Ku!", demikianlah firman TUHAN semesta alam. ‘Pukullah si gembala, maka domba-dombanya akan tercerai-berai!...”


So we’ve examined the nativity scenes, the scenes that speak about the birth of Jesus, and we’ve noticed several characteristics about Mary, the mother of Jesus.
Now we must move on to the moment that Jesus was taken to the temple for His Bar Mitzvah, in other words He is actually going to be a man, and He is taken to Jerusalem probably for the first time at the period of the Passover. And as He goes to the Passover and as He watches the ceremonies which take place in the temple, He is profoundly impacted. Everything in the temple service seems to speak about His life, about His mission, about His origin and about His destiny.
I’d like to read this passage it’s a rather extensive passage, and as we go along I would like to make a few comments about this visit of Jesus to the temple. Luke 2, and beginning with verse 43, at this time remember Jesus is 12 years old. It says in verse 43, “And when they had finished the days, as they returned…”  they had been in Jerusalem, “…as they returned, the boy Jesus lingered behind in Jerusalem; and Joseph and His mother…”  I want you to notice that at this point Joseph was still what? Joseph was still alive. It says, “…Joseph and His mother did not know it…”  I find it very interesting that it doesn’t say “His parents”, it doesn’t say “Joseph His father and Mary His mother”, it says “Joseph and His mother”. This seems to indicate that Mary is His mother but Joseph is what? Joseph is not His father. It continues saying, verse 44 “…  44 But supposing Him to have been in the company…”  they kind of neglected Him,   “…they went a day's journey; and sought Him among their relatives and acquaintances. 45 So when they did not find Him, they returned to Jerusalem, seeking Him…”  can you imagine the agony and the heart of Mary and in the heart of Joseph at Jesus being lost? Now, notice how long He was lost. It continues saying, let’s read once again verse 45, “…So when they did not find Him, they returned to Jerusalem seeking Him. 46 Now, so it was after three days…”  how long did the agony last? “…three days, they found Him in the temple, sitting in the midst of the teachers, both listening to them, and asking them questions…”  Interesting. “…47 And all who heard Him were astonished at His understanding and answers…” it seems to say that He asked them questions and then He kind of stumped them, they weren’t able to give Him the answers and so He answered His own questions. Interesting that this 12 year old Child was teaching the PhD’s in the temple. Where did He get this knowledge from? He got it from God, but He also got it through His mother, who taught Him the Scriptures of the Old Testament. And then in verse 48, we find these words, “…48 So when they saw Him, they were amazed: and His mother said unto Him, ‘Son, why have You done this to us?’…”  well, they were the ones that had neglected Him, “… look, Your father and I have sought You anxiously.’…”  Notice, she says, “I and your father”, now here’s the answer of Jesus, verse 49, “…49 And He said unto them, ‘Why did you seek Me? Did you not know that I must be about My Father's business?’…”  what is Jesus saying? He is saying “Joseph is not My father. God in heaven is My Father.” He’s disowning the fatherhood of Joseph and He is saying that His Father is God in heaven. And then notice they did not understand what He was saying when He spoke about His Father’s business. It says in verse 50, “…50 But they did not understand the statement…” I want you to remember this. “…they did not understand the statement which He spoke to them. 51 Then He went down and came to Nazareth, and was subject to them: but His mother kept all these sayings in her heart…”  In other words she was reflecting His words, you know “I must be about My Father’s business”, He denied that He was the son of Joseph, and He is speaking about His “Father’s business” and she is pondering these things in her heart. She is trying to resolve this deep mystery that is taking place in her mind.
 
Jadi sekarang kita sudah meneliti adegan-adegan kelahiran Yesus, adegan-adegan yang berbicara tentang kelahiran Yesus, dan kita juga sudah menyimak beberapa karakteristik Maria, ibu Yesus.
Sekarang kita harus lanjut ke saat ketika Yesus dibawa ke Bait Suci untuk Bar Mitzvah-Nya, dengan kata lain Dia akan memasuki tahap sebagai laki-laki dewasa, dan Dia dibawa ke Yerusalem barangkali untuk pertama kalinya, pada saat upacara Passah. Dan saat Yesus pergi ke perayaan Passah itu dan mengamati upacara-upacara yang terjadi di Bait Suci, Dia sangat tersentuh. Semua upacara Bait Suci seolah-olah berbicara tentang hidupNya, tentang misiNya, tentang asal usulNya dan tentang takdirNya.
Saya ingin membacakan perikop ini, ini bacaannya agak panjang, dan sambil kita membaca saya ingin menambahkan beberapa komentar mengenai kunjungan Yesus ke Bait Suci itu. Lukas 2, dan mulai dari ayat 43, ingat pada saat itu Yesus berusia 12 tahun. Dikatakan di ayat 43, “Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka dalam perjalanan pulang…”  mereka dari Yerusalem,  “…ketika mereka dalam perjalanan pulang, pemuda Yesus masih berada di Yerusalem, dan Yusuf serta ibuNya…”  saya mau kalian perhatikan, pada saat ini Yusuf masih apa? Yusuf masih hidup. Dikatakan, “…Yusuf serta ibuNya tidak mengetahuinya…”  Bagi saya sangat menarik di sini tidak dikatakan “orangtuaNya”, tidak dikatakan “ayahNya Yusuf dan ibuNya Maria”, melainkan dikatakan “Yusuf serta ibuNya”. Ini mengindikasikan bahwa Maria adalah ibuNya, tetapi Yusuf apa? Yusuf bukan ayahNya. Selanjutnya dikatakan, ayat 44, “…44 Tetapi karena mereka menyangka bahwa Ia ada dalam rombongan…” mereka agak menelantarkan Dia,   “…mereka sudah menempuh satu hari perjalanan, lalu mencari Dia di antara keluarga dan kenalan mereka. 45 Maka ketika mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem mencari Dia…”  Bisakah kalian membayangkan bagaimana kesedihan dan hati Maria dan hati Yusuf dengan hilangnya Yesus? Nah, perhatikan berapa lamanya Dia hilang. Dikatakan selanjutnya, mari kita baca sekali lagi ayat 45,  “….Maka ketika mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem mencari Dia. 46 Sekarang, setelah tiga hari…”  berapa lama penderitaan itu berlangsung? “…tiga hari, mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka…”  menarik, “…47 Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawaban yang diberikan-Nya…” sepertinya Yesus melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka, lalu Dia membuat mereka termangu, mereka tidak bisa memberikan jawaban-jawaban maka Dia menjawab pertanyaan-pertanyaanNya sendiri. Menarik bagaimana Pemuda berusia 12 tahun ini mengajar mereka yang sudah pakar-pakar Kitab Suci di Bait Suci. Dari mana Yesus mendapatkan pengetahuanNya? Dia mendapatkannya dari Allah, tetapi Dia juga mendapatkannya melalui ibuNya, yang mengajarkan Kitab Suci Perjanjian Lama kepadaNya. Lalu di ayat 48 kita mendapati kata-kata ini, “…48 Dan ketika mereka melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: ‘Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami?’…” padahal merekalah yang telah menelantarkan Dia, “…Lihat,  ayah-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.’…”  perhatikan Maria berkata, “aku dan ayah-Mu”, sekarang inilah jawaban Yesus, ayat 49, “…49 Jawab-Nya kepada mereka: ‘Mengapa kalian mencari Aku? Tidakkah kalian tahu, bahwa Aku harus melakukan pekerjaan Bapa-Ku?’…”  apa yang dikatakan Yesus? Dia berkata, “Yusuf bukan bapakKu. Allah yang di Surga, Bapa-Ku.” Yesus menolak status keayahan Yusuf dan Dia berkata bahwa Bapa-Nya ialah Allah di Surga. Kemudian perhatikan bahwa mereka tidak paham apa yang dikatakanNya saat Dia berbicara tentang pekerjaan Bapa-Nya. Dikatakan di ayat 50, “…50 Tetapi mereka tidak mengerti pernyataan…” saya mau kalian mengingat ini, “…mereka tidak mengerti pernyataan  yang dikatakan-Nya kepada mereka. 51 Lalu Ia turun dan pergi ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Tetapi ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya…”  Dengan kata lain, Maria merenungkan kata-kataNya: “Aku harus melakukan pekerjaan Bapa-Ku”, Dia menyangkal bahwa Dia itu anak Yusuf, dan Dia berbicara tentang “pekerjaan” Bapa-Nya. Maria merenungkan semua hal ini dalam hatinya. Maria berusaha mencari jawaban atas rahasia yang dalam ini yang ada dalam benaknya.
  

Now, I would like to read another statement from The Desire of Ages pg. 82-83. “Mary was to witness His last agony, and Jesus desired her to understand His mission, that she might be strengthened to endure, when the sword should pierce through her soul. As Jesus had been separated from her, and she had sought Him sorrowing three days, so when He should be offered up for the sins of the world, He would again be lost to her for three days. And as He should come forth from the tomb, her sorrow would again be turned to joy. But how much better she could have borne the anguish of His death if she had understood the Scriptures to which He was now trying to turn her thoughts!”
In other words, Mary did not understand the Scriptures that spoke about the Messiah at this point. I want you to remember this because later on in this series we are going to take a look at this idea because some people believe that Mary knew everything that was going to happen with Jesus from before the time that Jesus was conceived actually in her womb. But very clearly Scripture says that they did not understand what Jesus was saying when He said “I must be about My Father’s business”.

Sekarang saya ingin membacakan pernyataan lain dari The Desire of Ages hal. 82-83. “Maria bakal harus menyaksikan penderitaanNya yang terakhir, dan Yesus ingin dia [Maria] bisa memahami misiNya agar dia boleh dikuatkan dan lebih tabah ketika pedang itu menembus jiwanya. Sebagaimana Yesus telah terpisah darinya dan Maria sudah mencariNya dan berduka selama tiga hari, maka ketika Yesus harus dipersembahkan sebagai kurban dosa dunia ini, Dia akan terpisah lagi darinya selama tiga hari. Dan saat Yesus akan keluar dari kubur nanti, kesedihannya akan berubah lagi menjadi sukacita. Namun betapa lebih tabahnya Maria akan bisa memikul kepiluan kematian Yesus itu seandainya dia memahami Firman yang sekarang mau dinyatakan Yesus kepadanya.”
Dengan kata lain, Maria tidak memahami Firman yang berbicara tentang Sang Messias pada titik ini. Saya mau kalian mengingat ini karena nanti dalam serie ini kita akan membahas konsep ini karena ada orang yang meyakini bahwa Maria tahu segala sesuatu yang akan terjadi pada Yesus dari masa sebelum Yesus dibuahi di rahimnya. Tetapi Kitab Suci sangat jelas berkata bahwa mereka tidak paham apa yang dikatakan Yesus ketika Dia berkata bahwa  “Aku harus melakukan pekerjaan Bapa-Ku.”


Now we must move on to the experience at the wedding of Cana the next reference to Mary the mother of Jesus. At this point we know that Joseph was dead.
You say, “How do we know that Joseph was dead?”
Well, for three main reasons:
1.   In John 2:12 when Mary returned home after the wedding of Cana, we are told that she went home with the brothers and sisters of Jesus but there is no reference to Joseph. Notice John 2:12 says this: After this He went down to Capernaum, He, His mother, His brothers, and His disciples: and they did not stay there many days.”
No reference whatsoever to Joseph.
2.   Also in Mark 3 which we are going to look at in a moment Mark 3:21 and verses 31-35 we find that the brothers and sisters of Jesus, and Mary actually come to seize Jesus during His ministry. And we find that there is no reference to Joseph coming with Mary, and the brothers and sisters of Jesus.
3.   Furthermore when Jesus is hanging on the cross of Calvary we find that Jesus commands Mary into the hands of John. She would never have done that if Joseph was still alive.
So at this point when Jesus began His ministry Joseph was already dead. In fact Desire of Ages pg. 145 states this: “Death had separated her from Joseph, who had shared her knowledge of the mystery of the birth of Jesus. Now there was no one to whom she could confide her hopes and fears…”  
And of course at the wedding the wine runs out and so Mary comes to Jesus and she says, “There is no wine.” Obviously she is trying to get Jesus to do something about it.
And Jesus says, “What do you have to do with Me, woman?” He is not being disrespectful, it’s a common way of sons addressing their mothers. He says “My time has not yet come.” What did He mean when He said “My time has not yet come”? In what sense was He kindly but firmly rebuking Mary? Well, in the Desire of Ages pg. 147 we find the explanation as to what Jesus meant when He said “My time has not yet come”.

Sekarang kita harus lanjut ke pengalaman di pesta pernikahan di Kana, referensi berikutnya tentang Maria ibu Yesus. Di sini kita tahu bahwa Yusuf sudah meninggal.
Kalian berkata, “Dari mana kita tahu Yusuf sudah meninggal?”
Yah, karena tiga alasan pokok:
1.   Di Yohanes 2:12 ketika Maria pulang setelah pesta pernikahan di Kana, kita mendapat tahu bahwa dia pulang bersama saudara-saudara laki-laki dan perempuan Yesus tetapi tidak disebut tentang Yusuf. Perhatikan Yohanes 2:12 yang mengatakan demikian, “Sesudah itu Yesus turun ke Kapernaum, Dia, ibu-Nya dan saudara-saudara laki-laki-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja.”
Tidak menyebutkan apa pun tentang Yusuf.
2.   Juga di Markus 3 yang akan kita lihat nanti, di Markus 3:21 dan ayat 31-35 kita mendapati saudara-saudara Yesus yang laki-laki dan perempuan, dan Maria, datang untuk memaksaNya pulang saat pelayananNya. Dan kita tidak melihat Yusuf disebutkan datang bersama Maria dan saudara-saudara laki-laki dan perempuan Yesus.
3.   Lebih lanjut ketika Yesus sedang tergantung di salib di Kalvari, kita mendapatkan Yesus menyerahkan Maria ke tangan Yohanes. Maria pasti tidak akan mau seandainya Yusuf masih hidup.
Jadi, pada saat Yesus memulai pelayananNya, Yusuf sudah meninggal. Malah The Desire of Ages hal. 145 menyatakan ini: “Kematian telah memisahkan Maria dari Yusuf, yang selama ini ikut berbagi pengetahuannya tentang rahasia kelahiran Yesus. Sekarang tidak ada lagi orang yang bisa diajaknya berbicara tentang harapan-harapannya dan ketakutan-ketakutannya…”
Dan tentu saja di pesta pernikahan di Kana, anggurnya habis, maka Maria datang ke Yesus dan dia berkata, “Tidak ada anggur.” Jelas Maria ingin agar Yesus melakukan sesuatu tentang kondisi itu. Dan Yesus berkata, "Mau apakah engkau dari-Ku, perempuan?”  Yesus bukan bersikap tidak hormat, itu adalah cara yang wajar bagi anak laki-laki untuk menyebut ibu mereka. Yesus berkata, “Saat-Ku belum tiba."  Apa maksud Yesus ketika Dia berkata, “SaatKu belum tiba”? Dalam hal apa Yesus dengan lemah lembut namun tegas menegur Maria? Nah di Desire of Ages hal. 147 kita menemukan penjelasan apa yang dimaksud Yesus ketika Dia berkata “Saat-Ku belum tiba.”


You know in the gospels Jesus says, “The time is coming when all those in the grave will hear His voice” right? At that time He is going to be the glorious Messiah. Notice in the light of that statement, in John 5:28-29 what we’ll find in the Desire of Ages, and once again the page  147.  “In saying to Mary that His hour had not yet come, Jesus was replying to her unspoken thought…”  see, He knew what she was thinking. “…to the expectation she cherished in common with her people…”  what was that expectation? The description continues, “…She hoped that He would reveal Himself as the Messiah, and take the throne of Israel. But the time had not come. Not as a King, but as "a Man of Sorrows, and acquainted with grief," had Jesus accepted the lot of humanity.”
She was actually hoping that He would declare Himself king, sit on the throne, destroy the Romans, and put the Jewish nation where it should be, on top. And Jesus says, that moment, that hour has not yet come. It’s not the moment.

Kalian tahu di dalam kitab-kitab Injil Yesus berkata, “…saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya” [Mat 5:28] Benar? Pada saat itu Yesus akan menjadi Mesias yang penuh kemuliaan. Perhatikan sehubungan dengan pernyataan itu, di Yohanes 5:28-29, yang kita temukan di The Desire of Ages dan sekali lagi dari hal. 147. “Dengan mengatakan kepada Maria bahwa saatNya belum tiba, Yesus menjawab pikiran Maria yang tidak diucapkannya…” Lihat, Yesus tahu apa yang dipikirkan Maria. “…akan harapan yang didamba-dambakannya sama seperti yang dimiliki bangsanya…” Harapan apa itu? Deskripsi ini berlanjut, “…Maria berharap Yesus akan menyatakan DiriNya sebagai Sang Mesias dan merebut takhta Israel. Tetapi saatnya belum tiba. Bukan sebagai seorang raja, namun Yesus telah menerima takdirNya sebagaimana semua manusia, sebagai “Manusia Penuh Duka dan mengenal kesedihan” [Yes. 53:3]
Maria benar-benar berharap Yesus akan menyatakan DiriNya sebagai raja, duduk di atas takhta, menghancurkan bangsa Roma, dan menempatkan bangsa Yahudi di tempatnya yang seharusnya, yaitu di atas. Dan Yesus berkata, saat itu, waktu itu belum tiba. Sekarang bukan waktunya.


Do you know, actually Mary at this point had a little feeling that she had some rights and some claims upon Jesus because she was the mother of Jesus.
Notice this comment from the book Spirit of Prophecy Vol. 2 pg. 101,  regarding the response of Jesus to Mary we find these words: His manner was respectful, yet firm; He designed to teach Mary that the time for her to control Him as a mother, was ended. His mighty work now lay before Him, and no one must direct concerning the exercise of His divine power. There was danger that Mary would presume upon her relationship to Christ, and feel that she had special claims upon Him and special rights…”  so even she was tempted that, you know,  because I am the mother I can kind of manipulate my son into doing what I want Him to do. The fact is, that her motherly authority at this point had already come  to an end.

Tahukah kalian, sesungguhnya saat itu Maria memiliki sedikit perasaan bahwa dia punya hak dan punya klaim atas Yesus karena dia ibu Yesus.
Perhatikan komentar dari buku Spirit of Prophecy Vol. 2 hal. 101, mengenai tanggapan Yesus kepada Maria, kita mendapatkan kata-kata ini: “SikapNya penuh hormat, namun tegas; Dia merencanakan untuk mengajar Maria bahwa masa dia mengendalikanNya sebagai ibuNya, telah berakhir. Pekerjaan besar sekarang terpampang di hadapanNya, dan tidak seorang pun boleh mengatur bagaimana Dia menjalankan kekuasaan ilahiNya. Ada bahaya bahwa Maria akan mengandalkan hubungannya dengan Kristus dan merasa bahwa dia memiliki klaim istimewa padaNya dan hak-hak yang istimewa…” jadi bahkan Maria tergoda oleh hal itu, “karena saya adalah ibuNya, saya bisa memanipulasi Anak saya untuk melakukan apa yang saya ingin Dia lakukan.” Faktanya justru, kewenangannya sebagai ibu pada saat ini sudah berakhir.


Now let’s examine a couple of references to Mary during the ministry of Jesus. 
Mark 3:21, and then we’ll jump down to verses 31-35. Jesus had been working non-stop, and His mother, and brothers and sisters thought He was at the point of a nervous breakdown, so they are coming and they are going to seize Him and they are going to take Him home. Notice verse 21 “But when His own people heard about this, they went out to lay hold of Him; for they said, ‘He is out of His mind.’…” verse 31, “…31 Then His brothers and His mother came…”  they arrived a little bit later “…and standing outside they sent word to Him calling Him. 32And a multitude was sitting around Him, and they said to Him, ‘Look, Your mother and Your brothers are outside seeking You.’…”  He knew why they had come. They had come to seize Him. Were Mary and His brothers and sisters in tune with the purpose of His ministry, with the purpose of what He was doing? Absolutely not. Those who were present there were more in tune. And so notice what we find beginning with verse 33, “…33 But He answered them, saying, ‘Who is My mother or My brothers?’  34  And He looked around in a circle at those who sat about Him, and said, ‘Here are My mother and My brothers!  35  For whoever does the will of God,  is My brother and My sister and My mother.’" In other words, He is saying, “These people who want to listen to My words who are following My ministry are more in tune, they are more like My mother, and My brothers and My sisters than My own flesh and blood.”

Sekarang, mari kita simak beberapa referensi tentang Maria selama pelayanan Yesus.
Markus 3:21 lalu kita akan meloncat ke ayat 31-35. Yesus sudah bekerja non-stop dan  ibuNya, serta saudara-saudaraNya menganggap Dia sudah nyaris ambruk kelelahan, jadi mereka datang dan mereka berencana menangkapNya dan mereka mau membawaNya pulang dengan paksa. Perhatikan ayat 21, Waktu keluarga-Nya sendiri mendengar hal itu, mereka datang untuk menangkapNya, sebab kata mereka,  ‘Ia sudah tidak waras.’ …”  ayat 31, “…31 Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus…”  mereka tiba tak lama kemudian, “…Dan sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. 32 Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, dan mereka berkata kepada-Nya: ‘Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, mencariMu.’…”  Yesus tahu mengapa mereka telah datang, mereka mau datang menangkapNya. Apakah Maria dan saudara-saudara Yesus sejalan dengan tujuan pelayananNya, dengan apa yang sedang dilakukanNya? Sama sekali tidak. Justru mereka yang hadir itu lebih sejalan. Jadi, simak apa yang kita lihat di ayat 33, “…33 Jawab Yesus kepada mereka: ‘Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?’ 34 Dan Ia memandang orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: ‘Di sinilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! 35 Karena barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dan saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku."
Dengan kata lain, Yesus berkata, “Orang-orang ini yang mau mendengarkan kata-kataKu, yang mengikuti pelayananKu, mereka ini lebih sejalan, mereka ini lebih mirip ibuKu, saudara-saudara-Ku yang laki-laki dan saudara-saudaraKu yang perempuan, daripada keluargaKu sendiri.”


You know, Jesus once encountered a lady who really felt that it was a great privilege for Mary to give birth to Jesus. Notice Luke 11:27-28, it says, “And it happened, as He spoke these things, that a certain woman from the crowd raised her voice and said to Him, ‘Blessed is the womb that bore You and the breasts  which nursed You.’…”  in other words, this woman is exalting whom? Mary. Notice the response of Jesus, “…28 But He said, ‘More than that, blessed are those who hear the word of God and keep it.’…”  In other words Jesus shifted the center of attention from His mother to those who do the will of God, who understand His ministry and what He came to this earth to do.  

Kalian tahu, suatu kali Yesus bertemu dengan seorang perempuan yang merasa bahwa Maria telah mendapatkan kehormatan yang besar melahirkan Yesus. Perhatikan Lukas 11:27-28, dikatakan,Yang terjadi, ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: ‘Diberkatilah rahim yang telah melahirkan Engkau dan buah dada yang telah menyusui Engkau.’…”  dengan kata lain perempuan ini sedang meninggikan siapa? Maria. Simak tanggapan Yesus,   “… 28 Tetapi Ia berkata: ‘Lebih daripada itu, diberkatilah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan yang memeliharanya.’…”  dengan kata lain Yesus menggeser pusat perhatian dari ibuNya kepada mereka yang melakukan kehendak Allah, yang memahami pelayananNya dan untuk apa Dia datang ke dunia ini.


Now we must move on to Jesus hanging on the cross of Calvary.
At the foot of the cross are some women as well as John the apostle. Let’s read the story in John 19:25-27, it says, …Now, there stood by the cross of Jesus,  His mother, and His mother's sister, Mary the wife of Cleopas, and Mary Magdalene. 26 When Jesus therefore saw His mother, and the disciple whom He loved standing by, He said to His mother, ‘Woman, behold, your son!’ 27 Then He said to the disciple, ‘Behold, your mother!’ And from that hour that disciple took her to his own home.”
You see, Jesus was at the point of death. He was going to leave to Heaven. And He was concerned about the welfare of His mother. And so He commands His mother, the care of His mother to John.  Notice that it wasn’t Mary who took John to her household, it was John who took Mary to his household because Jesus had commanded Mary into His disciple’s care.

Sekarang kita harus lanjut ke saat Yesus tergatung di salib di Kalvari.
Di kaki salib ada beberapa perempuan dan juga rasul Yohanes. Mari kita baca kisahnya di Yohanes 19:25-27, dikatakan,  Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. 26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ‘Ibu, lihatlah, anakmu!’ 27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ‘Lihatlah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu membawa Maria ke dalam rumahnya.”
Kalian lihat, Yesus sedang sekarat. Dia akan kembali ke Surga. Dan Dia mengkhawatirkan kesejahteraan ibuNya. Maka Dia menyerahkan ibuNya ke pemeliharaan Yohanes. Perhatikan, bukan Maria yang membawa Yohanes ke rumahnya, tetapi Yohanes yang membawa Maria ke rumahnya karena Yesus telah menyerahkan Maria untuk dipelihara rasulNya.


Now we need to examine the one reference to Mary after the resurrection of Jesus. It’s found in the book of Acts. It’s the final reference to Mary in the New Testament, after Acts 1:13-14 there are no more references to Mary. It says there in Acts 1:13-14  “And when they had entered, they went up into the upper room where they were staying;  Peter, James, John and Andrew, Philip and Thomas, Bartholomew and Matthew, James the son of Alphaeus, and Simon the Zealot, and Judas the son of James...”   The 12 apostles, 11 apostles at this point are mentioned “…14 These all continued with one accord in prayer and supplication with the women, and Mary the mother of Jesus, and with His brothers.”
You know, it really is exciting to notice that His brothers came around. His brothers actually were in the upper room and they accepted Jesus as the Messiah, and we are told that His mother was there. There is no special emphasis here placed upon Mary. They are not praying to Mary, they are not exalting Mary, in fact the central figure on the day of Pentecost is who? It’s Peter who stands up and speaks. There is no special reference here to Mary at all. It simply states that she and the brothers of Jesus were there in the upper room when the Holy Spirit was poured out on the day of Pentecost.

Sekarang kita perlu memeriksa satu-satunya referensi tentang Maria setelah kebangkitan Yesus. Ada di kitab Kisah. Ini adalah referensi terakhir tentang Maria di Perjanjian Baru, setelah Kisah 1:13-14 tidak ada referensi lain lagi tentang Maria. Dikatakan di Kisah 1:13-14, Dan setelah mereka masuk, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang: Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus…”  Keduabelas rasul, 11 yang disebutkan saat ini, “…14  Mereka semua bertekun  dengan sehati dalam doa dan permohonan, bersama-sama dengan beberapa perempuan, serta Maria ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.”
Kalian tahu, sungguh menggembirakan melihat bahwa saudara-saudara Yesus telah bertobat. Saudara-saudaraNya juga berada di ruang atas itu dan mereka menerima Yesus sebagai Mesias, dan kita mendapat tahu bahwa Maria ibuNya ada di sana. Tidak ada penekanan istimewa pada Maria, mereka tidak berdoa kepada Maria, mereka tidak memuji Maria, malah tokoh sentralnya pada hari Pentakosta itu siapa? Petrus, yang bangkit dan yang berbicara. Di sini tidak ada referensi istimewa tentang Maria sama sekali. Ayat ini hanya menyatakan bahwa Maria dan saudara-saudara Yesus ada di sana di ruang atas itu ketika Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta.


As I mentioned, after Pentecost there are no further references to Mary. We find no reference or no mention to her death. And so some people might assume, well, because her death was not mentioned, maybe she was assumed to Heaven after she died, she was bodily assumed to Heaven. Well, the fact is, that it is not so significant that the death of Mary was not mentioned, because most of the deaths of the disciples were not mentioned either. We simply don’t know about the death of most of the apostles and we don’t know about the death of Mary, in fact according to the gospels, the last group that resurrected were those who came forth from the grave when Jesus resurrected, in Matthew 27:51-53. The next group which will resurrect according to the New Testament are those who will come forth from the tomb when Jesus descends from Heaven with a shout with the voice of the Archangel, with the trump of God, and the dead in Christ will rise first. We find this very interesting reference in Manuscript Releases Vol. 5 pg 102-103. Notice this comment: “Mary, the mother of  our Lord has not been raised. She is waiting the sound of the trump of God that shall call the dead from their prison house. All the prayers offered to Mary fall to the ground. Mary's ears have not yet been pierced by the sound of the trump of God.” And they will be pierced when Jesus comes on the clouds of heavens.

Seperti yang sudah saya katakan, setelah Pentakosta tidak ada lagi referensi tentang Maria. Kita tidak mendapatkan referensi dan tidak disebutkan tentang kematiannya. Maka ada orang yang mungkin berasumsi, karena kematiannya tidak disebutkan, mungkin dia diangkat naik ke Surga setelah kematiannya, dia diangkat ke Surga dengan tubuhnya. Nah, faktanya ialah, tidak disebutkannya kematian Maria itu tidak terlalu signifikan, karena kebanyakan kematian para murid juga tidak disebutkan. Kita sama sekali tidak tahu tentang kematian mayoritas rasul-rasul dan kita juga tidak tahu tentang kematian Maria, bahkan menurut kitab-kitab Injil, kelompok yang terakhir dibangkitkan adalah mereka yang keluar dari kubur ketika Yesus bangkit, di Matius 27:51-53. Kelompok berikutnya yang akan bangkit menurut Perjanjian Baru adalah mereka yang akan keluar dari kubur ketika Yesus turun dari Surga dengan seruan suara Penghulu Malaikat, dengan sangkakala Allah, dan yang mati dalam Kristus akan lebih dulu bangkit. [1 Tesalonika 4:16-17] Kita mendapatkan referensi yang sangat menarik ini di Manuscript Releases Vol. 5 hal. 102-103. Perhatikan komentar ini, “Maria ibu Tuhan kita belum dibangkitkan. Dia masih menunggu suara sangkakala Allah yang akan memanggil orang mati keluar dari tempat tawanan mereka. Semua doa yang dipersembahkan kepada Maria sekarang, jatuh ke tanah. Telinga Maria belum ditembus oleh suara sangkakala Allah.” Dan telinganya itu akan ditembus pada saat Yesus datang di awan-awan di langit.


So this leads us to ask a very important question, and that is, who then is this Mary who is appearing in different parts of planet earth at present?  If Mary died and was buried, and she is awaiting the resurrection, who are these entities that appeared all over the world claiming to be the virgin Mary? We will be dealing with this in future lectures particularly the last lecture which is titled “The Ecumenical Mary”.

Maka ini membawa kita kepada satu pertanyaan yang sangat penting, yaitu, siapakah Maria yang sekarang menampakkan dirinya di pelbagai tempat di planet bumi? Jika Maria sudah meninggal dan dikuburkan, dan dia sedang menantikan kebangkitan, siapakah wujud-wujud yang menampakkan diri di mana-mana di bumi yang mengklaim sebagai perawan Maria? Kita akan membahas ini dalam ceramah-ceramah berikut terutama ceramah yang terakhir yang berjudul “The Ecumenical Mary”.


Now, I would like to deal with one final reference and that is the reference to the woman who is clothed  with the sun and who is standing on the moon.
I have visited for example many Roman Catholic cathedrals and I’ve discovered that many times Mary is depicted as standing on the moon, clothed with the sun, having a crown of 12 stars on her head, with the baby Jesus in her arms and also trampling upon the serpent. In fact, St. Alphonsus Liguori who wrote a book which we will refer to more extensively later on in the series, called All the Glories of Mary, says about the woman who is clothed with the sun, he says, “It was she who was seen by St. John in the Apocalypse clothed with the sun…” and then he quotes the verse, “…and a great sign appeared in heaven, a woman clothed with the sun… Now is this woman of Revelation 12, actually Mary? If you look carefully at the text you will find that it is not Mary.

 

Sekarang, saya ingin membahas satu referensi terakhir dan ini ialah referensi tentang perempuan yang berselubung matahari dan yang berdiri di atas bulan.

Saya telah mengunjungi banyak katedral Roma Katolik dan saya temukan seringkali Maria digambarkan berdiri di atas bulan, berselubung matahari, memakai mahkota dengan 12 bintang di kepalanya, sambil menggendong bayi Yesus di lengannya dan juga menginjak seekor ular. Bahkan St. Alphonsus Liguori yang menulis sebuah buku yang akan kita bahas dengan lebih luas dalam serie ini nanti, yang berjudul All the Glories of Mary berkata tentang perempuan yang berselubung matahari, demikian: “Dialah yang dilihat oleh St. Yohanes di apokalips, yang berselubung dengan matahari…” kemudian dia mengutip ayatnya, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari [Wahyu 12:1]…” Nah, apakah perempuan di Wahyu 12 ini betul Maria? Jika kita simak ayat itu baik-baik, kita akan melihat bahwa itu bukan Maria.

 

 

First of all you are dealing with symbols. And in Bible prophecies a woman represents what? A woman represents the church. This is not a literal woman at all. Furthermore we are told that the woman fled to the wilderness for 1260 days, which are really 1260 years. How is it then that if this is Mary she fled into the wilderness when supposedly she was assumed to Heaven after her death? She was bodily assumed, body and soul, to Heaven, according to Roman Catholic theology. What is she doing being persecuted by the serpent on planet earth during 1260 years? We are dealing with symbols. Furthermore the 1260 years do not fit the idea of Mary being the person that is spoken of here.

Furthermore, this passage makes it very clear that the woman represents the saints of God, it represents the church of God. You say, “How is that?”

Well, if you notice Daniel 7:25 it says that God’s people would be persecuted for “a time, times, and a dividing of time”. It says the saints will be persecuted for “a time, times and a dividing of time”. When you go to Revelation 12, it says that the woman is going a be persecuted for “time, times and a dividing of time”. So one passage in Daniel says it is the saints, in the other passage it says that the woman was going to be persecuted during that period “time, times, and a dividing of time”. So very clearly the woman is a representation of whom? Of the saints. Jesus was born from the Old Testament church, is what Revelation 12 is trying to teach us.

 

Pertama, kita sedang berurusan dengan simbol-simbol. Dan dalam nubuatan Alkitab seorang perempuan melambangkan apa? Perempuan melambangkan gereja. Ini bukan seorang perempuan betulan. Lagi pula kita diberitahu bahwa perempuan ini lari ke padang gurun selama 1260 hari, yang adalah 1260 tahun. Bagaimana mungkin jika ini adalah Maria, dia lari ke padang gurun padahal konon dia diangkat naik ke Surga setelah kematiannya? Dia sudah diangkat secara badani, tubuh dan jiwa ke Surga menurut theologi Roma Katolik. Ngapain dia dikejar-kejar oleh ular di planet bumi selama 1260 tahun? Kita sedang berurusan dengan simbol-simbol.

Lagi pula 1260 tahun ini tidak cocok dengan konsep bahwa Maria-lah yang dimaksud di sini.

Lebih jauh, perikop ini sangat jelas menyatakan bahwa perempuan itu melambangkan orang-orang kudus Allah, itu melambangkan gereja Allah.

Kalian berkata, “Kok bisa?”

Nah, jika kalian simak Daniel 7:25 dikatakan bahwa umat Allah akan dianiaya selama “satu masa, masa-masa, dan setengah masa.” Dikatakan bahwa orang-orang kudus akan dianiaya selama “satu masa, masa-masa, dan setengah masa”. Jika kita ke Wahyu 12 dikatakan bahwa perempuan itu akan dianiaya “satu masa, masa-masa, dan setengah masa.” Jadi satu perikop di Daniel berkata itu adalah para orang kudus, dalam perikop lain dikatakan perempuan itu akan dianiaya selama “satu masa, masa-masa, dan setengah masa.” Jadi sangat jelas perempuan itu adalah lambang siapa? Lambang orang-orang kudus. Yesus dilahirkan dari gereja Perjanjian Lama, itulah yang mau diajarkan Wahyu 12 kepada kita.

 

 

We have many more exciting things to study during this series. We’ve studied the biblical portrait which should be the foundation, in future lectures we will deal with other issues and I hope that all of us will help to tune in or to attend to study these very important matters.

 

Masih ada banyak hal yang menarik untuk kita pelajari dalam serie ini. Kita telah membahas gambaran alkitabiah tentang Maria yang harus menjadi fondasinya. Dalam ceramah-ceramah berikutnya kita akan membahas isu-isu lain dan saya berharap kita semua akan mendengarkan lewat streaming atau menghadari pembahasan-pembahasan yang sangat penting ini.




01 03 17

SAYA SALAH POSTING DI BLOG INI. SEHARUSNYA ADA DI BLOG SAYA YANG LAIN.
SELURUH SERI TENTANG TOPIK INI ADA DI BLOG KENALI SUARA GEMBALAMU.
SILAKAN KE BLOG ITU UNTUK MENGIKUTI PEMBAHASAN-PEMBAHASAN KELANJUTANNYA. ADA 8 EPISODE SEMUANYA.

3 komentar:

  1. sangat diberkati baca sharenya ci, n betul banget, kita jgn sampe salah fokus , Yesus lah sang pemberi karunia, All glory cuman bagi Dia! Seringkali dlm menghidupi ajaran Tuhan , kita malah salah fokus, malah mengagungkan ritual, legalisme, melebihi Kristus sendiri #gagalfokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kelanjutannya ada di blog KENALI SUARA GEMBALAMU smaragd842.blogspot.co.id

      Aku salah posting di sini.

      Hapus
  2. Bagi yang ingin membaca kelanjutan seri ini silakan ke blog KENALI SUARA GEMBALAMU di smaragd842.blogspot.co.id
    Semua pelajaran dari Pdt. Stephen Bohr ada di blog tersebut. Aku salah posting di blog ini.

    BalasHapus