Sabtu, 16 Oktober 2021

210. YANG KUDUS VERSUS YANG BIASA

210YANG KUDUS VS YANG BIASA

________________________________________________________________________________________________________


RUMUS:

1.   Hanya Allah yang berhak menetapkan mana yang kudus.

Kekudusan itu atribut Allah. Allah itu kudus. Karena itu Allah tahu apa yang kudus dan apa yang tidak. Jadi hanya Allah yang berhak menentukan apa yang kudus dan apa yang tidak.

 

2.   Manusia tidak berhak menentukan mana yang kudus.

Karena manusia sendiri tidak ada yang kudus, maka manusia tidak bisa tahu spesifikasi dan standar kudus itu apa. Alkitab berkata,

Roma 3:10, 23

10 seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.

23 karena semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai  kemuliaan Allah.

Jadi manusia tidak layak menetapkan mana yang kudus. Tetapi manusia harus mengikuti ketetapan Allah tentang mana yang kudus, mana yang tidak.

 

3.   Apa yang sudah dikuduskan oleh Allah, tidak boleh dianggap biasa oleh manusia.

Sebaliknya apa yang biasa menurut Allah, tidak boleh dianggap kudus oleh manusia.

 

Jadi dengan rumus dasar ini kita harus mengatur perilaku kita, memelihara kekudusan segala yang ditetapkan Allah sebagai kudus, dan tidak menguduskan hal-hal yang dikuduskan oleh manusia.

 

 

Untuk membandingkannya mari kita lihat dua kisah.

Imamat 10:1-2

10:1         Dan anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil pedupaannya, dan memasukkan api ke dalamnya, serta menaruh ukupan di atas api itu, dan mempersembahkan api biasa ke hadapan TUHAN, yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka.

10:2         Maka keluarlah api dari TUHAN dan membakar habis mereka dan mereka mati di hadapan TUHAN.

 

Kita tahu siapa Harun, dialah kakak Musa yang diangkat sebagai imam besar Israel yang pertama. Harun memilii 4 orang anak laki-laki yang semuanya juga ditahbiskan menjadi imam, termasuk Nadab dan Abihu.

Menjadi imam itu posisi yang sakral, karena pada masa itu Allah menyatakan kehadiranNya di atas Kemah Suci. Maka imam itu terlebih harus bisa membedakan mana yang sudah ditetapkan Allah sebagai kudus dan mana yang tidak kudus.

 

Jadi apa kesalahan Nadab dan Abihu?

Mereka memakai api biasa untuk dipersembahkan kepada Allah.

Sesuatu yang biasa, yang tidak kudus dipersembahkan kepada Allah yang sudah menentukan harus memakai api yang kudus.

 

 

Kalau kita baca ayat 9 dan 10 kita tahu mengapa Nadab dan Abihu melakukan dosa itu.

 

10:9         Janganlah minum anggur atau minuman yang memabukkan,  engkau serta anak-anak laki-lakimu, bila engkau masuk ke dalam Kemah Pertemuan, atau engkau mati. Itulah menjadi suatu ketetapan untuk selamanya bagi keturunanmu.

10:10       supaya engkau bisa membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, dan antara yang najis dengan yang tidak najis,

 

Mereka ternyata mabuk, sehingga tidak bisa berpikir dengan jelas. Mereka telah mengambil sembarang api, api yang biasa, bukan api kudus yang berasal dari Allah. Dan mereka memakai api biasa itu untuk pedupaannya, dan mempersembahkannya kepada Allah.

Bukankah api sama apinya?

Ternyata di pemandangan Allah, itu beda. Api yang kudus yang berasal dari DiriNya, tidak bisa disejajarkan dengan api biasa yang dibuat manusia.

Dan akibat tidak membuat perbedaan itu, akibat tidak menghormati perbedaan yang sudah ditetapkan Allah, Nadab dan Abihu mati dibakar habis.

 

Nah, hari ini Allah tidak segera menjatuhkan hukuman bila kita melanggar ketetapanNya, tetapi tidak berarti kita tidak usah membedakan antara yang kudus dengan yang biasa. Allah itu tetap sama, kemarin, besok, dan hari ini. Yang dosa 4000 tahun yang lalu, tetap dosa sampai sekarang. Hanya penghukumannya baru diberikan nanti setelah turunnya Yerusalem Baru.

 

Maka hari ini jika kita mempersembahkan sesuatu yang biasa, yang tidak kudus kepada Allah, kita sama dengan Nadab dan Abihu. Apa misalnya?

IBADAH.

 

Allah tetalh menentukan hari yang ketujuh adalah Sabat Tuhan Allah. Bukan Sabat orang Yahudi, tetapi Sabat Tuhan Allah! Jangan salah. Dan hari ketujuh adalah dari saat matahari terbenam pada hari Jumat hingga matahari terbenam hari Sabtu.

 

Allah telah menentukan hari yang ketujuh ini HARI YANG KUDUS. Satu-satunya hari dari tujuh hari seminggu yang ditetapkan Allah sebagai hari yang kudus. Tidak ada hari yang lain. Baik itu hari kelahiran Yesus, atau hari kematianNya, atau hari kebangkitanNya, atau hari kenaikanNya ke Surga, atau hari apa pun, hari lain mana pun dalam sejarah yang pernah ditetapkan Allah sebagai hari yang kudus selain HARI YANG KETUJUH setiap minggu.

Sejak Penciptaan dunia ini, Allah menetapkan hari ketujuh sebagai hari yang kudus, hari milikNya sendiri, karena jelas dikatakan . “tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu…” (Keluaran 20:10)

 

Kejadian 2:2-3

2:2           Dan pada hari ketujuh Allah mengakhiri pekerjaanNya yang telah dibuatNya, dan  Ia berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.

2:3           Lalu ALLAH memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.

 

Berarti, hari-hari yang lain itu BUKAN HARI KUDUS di pemandangan Allah.

 

 

Nah, orang Kristen telah mempersembahkan ibadah kepada Allah pada hari yang tidak dikuduskan Allah. Orang Kristen yang tahu isi 10 Perintah Allah, yang tahu bahwa itulah “Hukum Allah, tumpuan takhta Allah,” (Mazmur 89:14) dengan sengaja memakai hari yang biasa dan mempersembahkannya kepada Allah seolah-olah itu hari yang kudus. Ini sama dengan apa yang dilakukan Nadab dan Abihu.

Mengapa kisah memalukan Nadab dan Abihu, iman-imam yang sudah ditahbiskan, anak-anak dari Imam Besar Israel yang pertama, dicantumkan di Alkitab? Andaikan itu anak-anak pejabat tinggi dunia, pastilah perbuatan mereka yang memalukan itu akan ditutup-tutupi. Tapi Musa, yang adalah paman mereka, justru menulis tentang perbuatan mereka yang memalukan ini. Mengapa? Karena Tuhan yang menyuruh peristiwa itu ditulis, supaya jangan ditiru oleh manusia-manusia yang lain. Namun orang-orang Kristen yang tidak mengenal isi Alkitabnya sendiri, tidak mengambil manfaat dari kisah tragis ini, malah mengikuti jejak yang salah. Jika Tuhan tidak menyayangkan dua orang imam anak-anak Imam Besar Israel yang pertama, apakah Tuhan akan menyayangkan orang-orang yang mengaku umatNya yang membuat pelanggaran yang sama?

Apa alasan yang dikemukakan orang Kristen?

 

v   Orang Kristen mengatakan saya tidak tahu hari ketujuh itu kudus.

Bukan alasan. Kenapa tidak belajar Firman Allah? Sekarang Firman Allah bisa diakses online-offline, dalam bentuk buku, dalam bentuk aplikasi, dalam segala bahasa. Kenapa tidak dipelajari? Karena tertulis jelas di sana bahwa hari ketujuh adalah Sabat Tuhan Allahmu. Jika kita terlalu sibuk untuk mempelajari Firman Allah, jangan berharap kita bisa mendapat bagian dalam kerajaanNya. Kita tidak punya waktu untuk Allah, Allah juga tidak punya waktu untuk kita.

 

v   Orang Kristen mengatakan semua hari itu sama.

Mungkin Nadab dan Abihu juga mengatakan semua api itu sama. Tapi ternyata bagi Allah tidak sama! Pendapat siapa yang menang? Pendapat manusia atau pendapat Alllah?

 

v   Orang Kristen mengatakan hari Minggu itu hari libur jadi cocok untuk ibadah. Hari lain saya bekerja.

Nadab dan Abihu mungkin juga mengatakan ini ada api dekat di sini kenapa harus repot-repot memakai api dari Allah? Tapi Allah minta peraturanNya yang spesifik yang dituruti. Apakah Allah tidak akan memelihara kita jika kita memelihara HukumNya? Ikut Kristus harus siap menyangkal diri, mengangkat salib, baru bisa ikut. Kalau cuma mau enak, tidak layak jadi pengikut Kristus. (Lukas 9:23- baca itu). Menyangkal diri itu artinya meletakkan kepentingan kita sendiri di belakang, dan mendahulukan kehendak Allah. Mengangkat salib itu artinya bersedia susah demi kepentingan Allah. Kalau kita tidak siap melakukan kedua hal ini, kita tidak bisa menjadi pengikut Kristus.

 

v   Orang Kristen mengatakan Yesus bangkit pada hari Minggu, jadi kita ibadah pada hari Minggu.

Tapi Allah tidak menentukan hariNya yang kudus berdasarkan kapan Yesus bangkit. Allah sudah menetapkan hari ketujuh sebagai Hari Sabat Tuhan Allah saat Penciptaan, 4000 tahun sebelum Yesus bangkit. Kalau orang Kristen mau memperingati hari kebangkitan Yesus, itu cuma 1 x dalam setahun, silakan. Mengapa itu diperingati setiap hari Minggu? Apa dasarnya? Di seluruh Alkitab tidak ada ayat yang menjadi dasar ini.

 

v   Orang Kristen mengatakan gereja saya ibadahnya hari Minggu.

Ya carilah gereja lain yang beribadah pada hari Sabat yang telah ditetapkan Allah. Untuk apa ikut gereja yang nyata-nyata melanggar Hukum Allah? Bahaya sekali. Yang punya Surga itu Allah, bukan gereja. Gereja tidak bisa menjamin kita selamat. Keselamatan hanya datang dari Allah. Yang memimpin gereja, ketua organisasinya, gembala sidangnya, para tua-tua gereja, tidak ada yang bisa menjamin dirinya sendiri selamat, apalagi menjamin orang lain. Tapi Allah bisa menjamin. Apa tidak konyol demi menuruti gereja, kita melanggar ketetapan Allah?

 

v   Orang Kristen mengatakan mayoritas orang Kristen seluruh dunia ibadah pada hari Minggu. Tidak mungkin Allah akan menghukum semuanya. Kan habis umat Allah.

Ingat air bah di zaman Nuh menenggelamkan seluruh dunia dan hanya menyisakan 8 orang? Kalau Allah tidak menyayangkan dunia pra-air bah, apa Allah akan menyayangkan dunia zaman ini? Silakan baca Wahyu 20:8, mereka yang tidak selamat banyaknya ibarat pasir di laut. Pasir segenggam saja tidak bisa kita hitung, apalagi pasir di laut! Jadi yang bakal tidak selamat itu banyak sekali, jangan sampai kita masuk kelompok itu.

 

 

MAKA BILA KITA BERIBADAH PADA HARI LAIN YANG BUKAN HARI KETUJUH YANG SUDAH DIKUDUSKAN ALLAH, KITA SAMA DENGAN NADAB DAN ABIHU, KITA SUDAH MEMPERSEMBAHKAN SESUATU YANG BIASA KEPADA ALLAH, PADAHAL YANG DIMINTA ALLAH ADALAH SESUATU YANG KUDUS.

 

 

 

Sekarang marilah kita lihat kisah yang satu lagi.

 

Daniel 5

5:1           Raja Belsyazar mengadakan perjamuan yang besar untuk seribu orang pembesarnya, dan minum anggur di hadapan keseribu orang itu.

5:2           Sementara dia merasakan anggur itu,  Belsyazar menitahkan untuk membawa bejana-bejana dari emas dan perak yang telah diambil oleh Nebukadnezar, ayahnya, dari dalam Bait Suci  yang ada di Yerusalem, supaya raja dan para pembesarnya, istri-isterinya dan gundik-gundiknya boleh minum dari bejana-bejana itu.

5:3           Kemudian mereka membawa bejana-bejana dari emas yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah yang ada di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, istri-isterinya dan gundik-gundiknya minum dari bejana-bejana itu.

5:30        Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu.

 

 

Jadi apa yang dilakukan Belsyazar? Dia memakai peralatan  bejana-bejana kudus  Bait Suci yang berasal dari Yerusalem, yang dulu diambil Nebukadnezar, untuk dipakai minum-minum oleh dirinya, para istri dan gundiknya dan para pembesarnya. Semua peralatan Bait Suci itu kudus karena dipakai untuk mempersembahkan persembahan kepada Allah. Tapi lagi-lagi karena mabuk, Belsyazar tidak bisa membedakan lagi mana yang kudus dan mana yang biasa. Bejana-bejana yang kudus dipakainya sebagai cawan biasa padahal pasti dia punya banyak bejana, cawan, dan gelas yang lain. Belsyazar sengaja berani menentang Allah. Dia tahu bejana-bejana itu peralatan Bait Suci Yerusalem, semua peralatan itu sudah diurapi sebelum dipakai, jadi peralatan tersebut sudah dikuduskan bagi Allah, tapi Belsyazar mau menyombong, dia memakai peralatan-peralatan yang kudus itu untuk dirinya sendiri dan undangannya sebagai bukti bahwa dia tidak menganggap peralatan itu kudus. Dia memakai bejana-bejana itu seperti bejana-bejana biasa.

 

Maka hari ini, apa yang kita lakukan yang sama seperti perbuatan Belsyazar?

Bila kita memakai hari ketujuh, SABAT TUHAN ALLAH yang kudus yang seharusnya untuk ibadah, tetapi kita pakai sebagai hari biasa. Hari Ketujuh yang telah dikuduskan oleh Allah, dan seharusnya khusus dipakai untuk segala yang berkaitan dengan ibadah dan kemuliaan Allah, kita pakai untuk menyelesaikan semua urusan kita sendiri. Maka kita sama dengan Belsyazar.

Sabat Hari Ketujuh adalah hari milik Allah, karena itu dia kudus, sama dengan Allah, maka hari itu tidak boleh dipakai untuk segala urusan duniawi kita sehari-hari. Kita sudah diberi Allah 6 hari yang lain, dari hari Minggu hingga hari Jumat untuk menyelesaikan semua urusan kita sendiri. Seperti Belsyazar sudah diberi kekayaan Allah untuk bisa beli segala macam bejana, cawan dan gelas yang model apa saja. Tapi kok ya dia masih ingin memakai yang punya Allah? Allah menuntut dari kita, supaya pada hari yang ketujuh itu kita memelihara kekudusan hari tersebut dengan mempersembahkan seluruh hari itu (24 jam lamanya, dari matahari terbenam hingga matahari terbenam) kepada Allah dan kemuliaanNya.

Jika kita langgar,  jangan mengira nasib kita nanti tidak akan seperti Belsyazar.

 

 

BILA KITA MEMAKAI HARI KETUJUH UNTUK SEGALA URUSAN KITA SENDIRI, KITA TELAH MENAJISKAN HARI MILIK ALLAH YANG KUDUS. HARI KETUJUH HANYA BOLEH DIPAKAI UNTUK KEMULIAAN ALLAH KARENA ITU HARI MILIK ALLAH, BUKAN MILIK KITA. JIKA KITA LANGGAR, KITA SAMA DENGAN BELSYAZAR

 

 

Jadi kesimpulannya,

v   Jangan kita meremehkan hari ketujuh.

Jangan kita memperlakukan itu sebagai sembarang hari. Jangan kita pakai hari ketujuh ini untuk segala keperluan kita sendiri. Itu adalah hari yang kudus. Kalau kita abaikan, kelak kita akan bernasib seperti Belsyazar.

 

v   Juga jangan memakai hari lain yang tidak kudus untuk menggantikan fungsi hari ketujuh.

Allah tidak menerima itu karena hari biasa itu milik manusia. Tidak sederajat dengan hari ketujuh yang telah dikuduskan Allah. Kalau kita tetap memaksakan kehendak kita, maka kita akan seperti Nadab dan Abihu.

 

 

Allah bahkan telah memberikan perintah yang istimewa sehubungan dengan hari ketujuh ini.

Keluaran 20

8 Ingatlah hari Sabat, peliharalah kekudusannya.

11Sebab dalam enam hari TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya,  dan telah berhenti bekerja pada hari ketujuh. Itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

 

Jadi ini satu-satunya Perintah dari seluruh 10 Perintah Allah yang dimulai dengan kata “INGAT”. Jadi Allah sudah menyuruh kita untuk INGAT, JANGAN LUPA, PELIHARALAH HARI SABAT (HARI KETUJUH) AGAR TETAP KUDUS! Tapi mayoritas Kristen melupakannya dan tidak memelihara kekudusannya.

Jadi apakah memelihara kekudusan hari ketujuh ini penting bagi Allah? Sangat penting. Karena ini adalah hari yang sudah dikuduskan Allah.

 

 

Ujian yang terakhir bagi manusia adalah ujian ini, memelihara kekudusan Sabat Hari Ketujuh atau tidak.

Perintah untuk memelihara kekudusan Sabat Hari Ketujuh itu berasal dari Allah. Jika kita mematuhinya, berarti kita menghormati autoritas Allah sebagai Pencipta dan Penebus kita.

Sedangkan perintah memakai hari Minggu sebagai ganti Sabat Hari Ketujuh itu berasal dari manusia, bukan dari Allah, tidak ada dalam Firman Allah. Jadi sesungguhnya perintah ini tidak sah karena tidak berasal dari Allah.

Jika kita memang sungguh-sungguh mau menjadi pengikut Kristus, kita harus membuat pilihan yang tepat. Kalau kita salah pilih, kita akan berakhir jadi Nadab dan Abihu, atau Belsyazar.

Kisah-kisah ini ditulis demi kepentingan kita. Allah mau kita tahu apa akibatnya bagi mereka yang salah pilih.

Semoga kita semua merenungkan dan memikirnya dengan sungguh-sungguh. Sudah siapkah kita mempertaruhkan keselamatan kita, masa depan kita, kepada pilihan yang salah?

 

 

 

 

 

 

 

17 10 21 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar