Jumat, 27 Mei 2022

216. BERJALAN BERSAMA

 

216. BERJALAN BERSAMA

________________________________________________________________________________________________________

 

 

SEBUAH KESAKSIAN

 

Aku sedang naik kereta kuda, dokar istilahnya di kotaku. Dulu waktu aku kecil ke mana-mana orang naik dokar karena mobil dan motor sangat terbatas jumlahnya.

Dan aku yang memegang tali kekang kuda, sementara di depanku terbentang jalanan yang panjang, yang tidak kelihatan ujungnya, dan jalan itu penuh lubang.

Aku membawa dokarku lewat di jalan itu. Tentu saja walaupun dengan susah payah aku berusaha menghindari lubang-lubang itu, tetap saja roda dokar itu bergantian masuk ke lubang-lubang itu, kadang roda yang kiri, kadang roda yang kanan, kadang kedua-duanya. Kadang lubangnya kecil, kadang besar, tetapi karena aku tidak mau terjebak di sana, maka dengan segala cara aku berusaha membawa dokar itu keluar dari lubang itu supaya aku bisa melanjutkan perjalananku. Tidak jarang aku tidak berhasil keluar dari lubang itu, dan kalau sudah sepertinya tidak ada solusi, ada saja orang yang lewat yang membantuku mendorong dokar itu atau menariknya sehingga dokar itu terbebas dari lubang.

Maka tahun demi tahun pun lewat.

Jalan yang harus aku lewati itu lubangnya tidak berkurang, dan ujungnya juga belum tampak. Dan setelah bertahun-tahun pun aku masih dengan susah payah membawa dokarku melewatinya.

 

 

Suatu kali, Tuhan datang dan duduk di sampingku. Dan Dia merasakan bagaimana susahnya aku memanuver dokar ini supaya tidak terjeglong dalam lubang, yang banyak gagalnya daripada berhasilnya.

Dan Tuhan bertanya, “Bagaimana? Sudah merasa lebih terampil sekarang?”

Aku menjawab, “Masih belum, Tuhan, tapi sudah mendingan dibanding awal-awal dulu.”

Tuhan bertanya, “Masih belum putus asa, kan?”

Aku menjawab, “Jelas, Tuhan, aku kan mau tiba di tujuan.”

“Bagus,” kata Tuhan. “Kita nanti bertemu di tujuan.” Dan Dia pun lenyap.

Aku melanjutkan sibuk memanuver dokarku lagi.

Sekian tahun lagi lewat.

 

 

Dan suatu hari Tuhan tiba-tiba duduk di sampingku lagi.

“Sudah mahir sekarang?” tanyaNya.

“Yah, lumayan,” kataku, malu untuk mengakui setelah sekian tahun kok masih belum mahir.

“Jadi tidak perlu bantuan ya?” tanya Tuhan. “Kalau tidak sanggup, bilang.”

“Eh, aku masih bisa, Tuhan.” Aku menoleh ke belakang. Lho, kok sepertinya aku masih melihat rumah dari mana aku dulu mulai? Padahal aku sudah begitu lama mengemudikan dokar ini. Ah, tidak mungkin. Pasti aku salah lihat. Itu pasti rumah lain, hanya mirip saja dengan rumahku. Aku pasti sudah lewat sangat jauh. Tapi hatiku mulai bimbang.

“Oke,” kata Tuhan. “Kamu yang lebih tahu.” Dan Dia lenyap lagi.

Dan aku pun berkutet sendiri lagi dengan lubang-lubang di jalan itu sekian tahun lagi.

Sampai aku benar-benar merasa capek. Kenapa jalan itu begitu buruk kondisinya? Kenapa tidak ada yang memperbaikinya? Sekarang aku lebih sering menoleh ke belakang. Kok dokar ini maju terus tapi kok aku masih melihat rumah itu? Aku mulai panik. Astaga, apakah selama sekian puluh tahun ini aku jalan di tempat tidak maju-maju? Kok sepertinya maju masuk-keluar lubang tapi kenapa tidak?  Ya, Tuhan, gimana ini? Tolong aku!

 

Dan tiba-tiba Tuhan datang lagi duduk di sampingku.

Dokar ini kondisinya sekarang sudah lebih jelek, lebih aus daripada saat pertama aku memulai perjalananku puluhan tahun yang lalu. Begitu juga kondisiku, jauh lebih jelek daripada beberapa dekade yang lalu.

“Gimana?” tanya Tuhan. “Aku dengar kamu memanggilKu.”

“Tuhan, apakah aku sedang jalan di tempat?” tanyaku.

Tuhan tersenyum tidak menjawab.

“Kenapa kalau aku menoleh aku masih melihat rumah dari mana aku mulai?” tanyaku.

“Menolehlah sekarang,” kata Tuhan.

Aku menoleh dan ternyata kali ini aku tidak melihat rumah itu lagi.

“Kamu sudah mulai maju,” kata Tuhan.

“Masih berapa jauhnya lagi, Tuhan?” tanyaku. Nada lelah.

“Sejauh yang dibutuhkan,” kata Tuhan.

“Aku sudah capek, Tuhan. Apa tidak ada jalan lain yang mulus? Kenapa jalannya begitu banyak lubangnya?”

“Lubang-lubang itu memang selalu dibuat musuhKu untuk menyusahkan semua yang lewat,” kata Tuhan.

“Kenapa Tuhan tidak menyingkirkan dia dan menutup lubang-lubang itu?” tanyaku jengkel.

“Karena kontraknya belum jatuh tempo,” kata Tuhan. “Masih kurang sedikit waktu lagi.”

“Tapi tanganku sudah penuh luka dan kapal dari bertahun-tahun memegang tali kekang, dan sampai sekarang aku masih belum mahir menghindari lubang-lubang itu,” kataku akhirnya mengakui ketidaksanggupanku, sambil menunjukkan kedua tanganku yang penuh guratan bekas luka yang sudah sembuh dan luka baru yang masih merah.

Tuhan mengulurkan tanganNya.

“Boleh?”

Karena tanganku sakit aku serahkan tali kekang ke tangan Tuhan.

“Kamu beristirahatlah dalam perhentianKu,” kata Tuhan. “Aku yang menjalankan dokarmu.”

“Ya, Tuhan.” Aku merasa sangat lega tidak usah memegang tali kekang itu lagi, tidak usah stress dengan lubang-lubang besar di jalan itu lagi.

Dan dokar pun melanjutkan perjalanan. Tuhan yang mengemudi. Aku memejamkan mata, untuk pertama kalinya merasakan enaknya beristirahat tanpa khawatir. Kami menempuh perjalanan bersama-sama.

 

 

Entah berapa lamanya dokar itu bergerak dan aku bersandar pada Tuhan dengan mata terpejam, terbuai sedikit-sedikit, sampai tiba-tiba aku sadar kok dokar ini jalannya lancar dan tenang ya? Kok aku tidak merasa pernah kejeglong masuk lubang ya? Aku membuka mata. Jalanan di depan yang terbentang masih tetap penuh lubang, besar-kecil, di kiri, di kanan, di tengah, tidak beda dengan yang sudah aku lewati. Tapi sekarang kenapa dokarnya tidak masuk ke lubang-lubang itu?

“Tuhan,” tanyaku. “Jalannya masih banyak lubang, tapi kenapa dokar ini jalannya lancar?”

Tuhan tersenyum.

“Lihatlah ke bawah, lihat rodanya,” kata Tuhan.

Aku melihat, dan astaga, ternyata roda-roda kereta itu tidak menyentuh jalan! Astaga, jadi dokar ini melayang di atas jalan. Pantas tidak masuk lubang karena rodanya tidak menyentuh jalan yang berlubang!

“Lho, Tuhan, kok bisa dokar ini melayang?”

“Tahukah kamu apa semua lubang itu?” tanya Tuhan.

“Tidak. Apa mereka?”

“Itulah dosa.”

“Lubang-lubang itu dosa? Lalu jalannya ini apa, Tuhan?”

“Itulah HukumKu, ketentuan-ketentuanKu, kehendakKu,” jawab Tuhan. “Dosa telah melubangi HukumKu, membuat jalan yang seharusnya mulus dan mudah, menjadi sukar dilewati.”

“Dan bagaimana sekarang dokar ini bisa melayang di atas jalan itu?” tanyaku masih bingung.

“Karena Aku sudah mengalahkan dosa,” kata Tuhan. “Aku sudah mengatasi dosa. Dosa tidak berkuasa atasKu. Aku tetap lewat di jalan kebenaranKu, di jalan HukumKu, Aku tidak lewat jalan yang lain yang bukan jalan HukumKu, tetapi lubang-lubang itu tidak mempengaruhi Aku.”

“Bagaimana aku bisa membawa dokar ini seperti Tuhan, juga tidak menyentuh jalan yang berlubang ini?” tanyaku.

“Hanya bila kamu membiarkan Aku yang mengemudikan dokarmu,” jawab Tuhan sambil tersenyum.

“Jadi aku sendiri tidak bisa, Tuhan?” tanyaku.

“Tanpa Aku kamu tidak bisa mengalahkan dosa. Kamu harus mengizinkan Aku hidup dalam dirimu. Dengan demikian bukan kamu lagi yang hidup, tapi Aku yang hidup dalammu, dan Aku yang mengalahkan dosa bagimu.”

“Oh? Bagaimana Tuhan bisa hidup dalam aku?”

“Jika kamu mengasihi Aku karena kamu sadar bahwa Aku sudah lebih dulu mengasihi kamu, jika kamu mengasihi Aku bukan karena kamu ingin mendapatkan sesuatu dariKu, tapi kamu mengasihi Aku sebagai respons kasihKu kepadamu, jika kamu berserah kepadaKu dan masuk dalam perhentianKu, maka kamu mengizinkan Aku hidup dalam dirimu.”

Aku berpikir.

“Mengapa tidak dari awal Tuhan memberitahuku ini?” tanyaku.

“Karena sebelumnya kamu belum siap. Kamu mengira kamu bisa sendiri. Sebelum kamu menyadari bahwa kamu tidak bisa apa-apa tanpa Aku, kamu tidak akan mengerti.”

“Begitu banyak tahun terbuang percuma,” kataku.

“Bukan percuma,” kata Tuhan. “Itu diperlukan untuk mematangkan pemahamanmu.”

 

Maka kami pun melanjutkan perjalanan bersama, menempuh sisa jalan ini yang penuh lubang hingga ke ujungnya, Tuhanku dan aku, berdua, Dia yang memegang tali kekang, aku yang beristirahat dalam perhentianNya. Dan itulah perjalanan yang paling damai yang pernah aku alami dalam hidup ini.

 

 

Mengapa kita ikut Tuhan?

Aku menggali ke ingatanku yang lama. Apa yang membuat aku pertama mau ikut Tuhan puluhan tahun yang lalu? Dan jawaban yang aku dapat ialah:

1.   Aku mau selamat.

2.   Aku mau ke Surga.

3.   Aku tidak mau ke neraka.

Jadi itu 3 alasanku.

Itu alasan-alasan yang bagus, bukan? Tentunya banyak dari kita yang mau selamat, mau ke Surga dan jelas tidak mau ke neraka.

Tapi suatu hari aku sadar. Ternyata alasan-alasanku itu kok semuanya pamrih! Semuanya untuk kepentinganku dan keuntunganku sendiri.

Aku mau selamat, aku mau ke Surga, aku tidak mau ke neraka. Fokusnya di apa yang aku mau. Bukannya itu egois? Lalu di mana kaitannya denganTuhan?

Aku merasa ada yang salah ini, tapi aku tidak tahu yang betul itu apa.

 

 

Bertahun-tahun lewat.

Dan banyak peristiwa yang terjadi dalam hidupku.

Dan lewat peristiwa-peristiwa itu Tuhan mengajar aku, tentang DiriNya, tentang rencana keselamatan, tentang kasihNya, tentang kebenaranNya, tentang manusia, tentang diriku. Dengan sangat sabar Tuhan mengajar aku, lewat Roh Kudus, lewat Alkitab, lewat Roh Nubuat, lewat guru-guru agama yang alkitabiah, dan lewat pengalaman-pengalaman hidupku.

Sedikit demi sedikit aku lebih mengerti bahwa Tuhan sangat mengasihi aku. Dia rela mati bagiku, Dia menjalani hukuman yang seharusnya aku jalani, Dia mengalahkan dosa bagiku supaya aku boleh hidup aman dalam DiriNya.

 

 

Motivasiku ikut Tuhan tidak boleh pamrih, tidak boleh karena aku ingin selamat, dan aku ingin ke Surga dan aku tidak mau ke neraka.

Motivasiku ikut Tuhan haruslah karena aku mengasihi Tuhan karena aku menyadari bahwa Dia sudah mengasihi aku lebih dulu. Jadi motivasiku itu haruslah responsku pada kasihNya. Soal surga, soal selamat itu semua sekunder. Kalau aku selamat, aku ke Surga, tapi aku tidak mengasihi Tuhanku, itu semua tidak ada artinya. Itu mustahil. Tapi kalau aku mengasihi Tuhanku, di mana pun Dia membawaku itu Surga bagiku, dan kalau Dia bersamaku, pasti aku selamat.

Kalau kita mengasihi Tuhan, sudah pasti kita melakukan apa yang menyenangkan hati Tuhan. Sudah pasti kita tidak akan berbuat yang tidak berkenan pada Tuhan. Sudah pasti kita mau patuh pada Perintah-perintah Tuhan. Sudah pasti kita menjauhi segala kejahatan. Tapi kita melakukannya karena kita mengasihi Tuhan, bukan supaya kita selamat atau masuk Surga.

Tidak ada satu pun perbuatan kita yang bisa membawa kita masuk Surga atau menyelamatkan kita. Justru kalau kita berbuat baik dengan tujuan bisa selamat dan masuk Surga, kita akan gagal total.

 

Efesus 2:8-9

Karena oleh kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman, dan itu bukan karena usaha kamu, itu adalah pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan sampai ada orang yang memegahkan dirinya.

 

Tapi perbuatan baik itu lahir karena Kristus hidup di dalam kita. Kalau Kristus ada di hati kita, maka Dialah yang membuat kita berbuat baik, Dia yang membuat kita patuh pada HukumNya, Dia yang membuat kita menjauhi dosa. Jadi pertama, Kristus harus ada di dalam hati kita dulu. Dan untuk itu, kita perlu mengasihi Kristus. Kalau kita tidak mengasihi Kristus, kita tidak akan mengizinkan Dia masuk ke hati kita.

 

Galatia 2:20

“Aku telah disalibkan bersama Kristus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang  dalam daging, aku hidup oleh iman Anak Allah, yang telah mengasihi aku dan menyerahkan Diri-Nya untuk aku.”

 

Akhirnya aku mengerti.

Maka sekarang aku duduk di dokarku di samping Tuhanku. Aku dan Dia, berjalan bersama-sama. Dia mengasihi aku dengan kasih yang tidak bisa diukur, aku belajar mengasihiNya kembali, belajar untuk menyenangkan hatiNya, belajar untuk tidak membuatNya kecewa, belajar untuk tidak membuatNya sedih. Aku percaya penuh, berserah penuh, yakin Dia akan membawaku tiba di tujuan dengan selamat. Aku beristirahat dalam perhentian Tuhanku, sementara Dia yang menjalankan hidupku.

 

 

Amin

 

 

27 05 22

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar