Kamis, 02 Februari 2023

137 MANA HUKUM YANG PALING UTAMA

 

137. MANA HUKUM

YANG  PALING UTAMA

___________________________________________________________

 

 

Banyak orang Kristen, baik yang awam maupun yang bicara dari mimbar seperti para pendeta dan pengabar Injil, berkata “ALLAH ITU KASIH, itu adalah Hukum yang tertinggi. Asal kita punya kasih, Hukum Allah yang lain-lain tidak perlu.” Lalu sering-seringnya mereka akan membacakan dari Matius 25:31-46.

Jadi asal orang Kristen sudah memberi makan orang lapar, memberi minum orang haus, memberi pakaian orang telanjang, memberi tumpangan orang yang tidak punya tempat tinggal, melawat orang yang sakit, mengunjungi orang-orang di penjara, berarti mereka semuanya sudah boleh masuk Surga nanti, tanpa mematuhi semua Hukum Allah.

Itu teori mereka. Nanti akan kita lihat apa kata Alkitab.

 

Jadi, dengan teori itu, tidak disinggung lagi tentang beribadah  kepada Tuhan menurut cara yang ditentukan Tuhan, tidak disinggung lagi tentang tidak boleh menyebut nama Tuhan sembarangan, tidak disinggung lagi bahwa kita harus hormat pada orangtua, tidak disinggung lagi bahwa kita tidak boleh berbohong, harus bayar pajak, harus mengembalikan persepuluhan yang milik Allah, tidak boleh makan segala yang dinamakan Tuhan hewan yang najis, tidak melakukan dan tidak mendukung apa yang dilabel Tuhan sebagai perbuatan yang keji seperti homoseksualitas, tidak ambil bagian dalam praktek-praktek mistik, tidak minta nasihat atau penyembuhan dari dukun atau “orang pintar”, dll. Semua itu dosa di mata Tuhan, dan tragisnya masih banyak dilakukan orang-orang yang mengaku Kristen dan yang menganggap mereka sudah diselamatkan dan sudah dilahirkan baru.

 

Banyak orang Kristen, baik yang awam maupun yang berbicara dari mimbar, suka memotong-motong isi Alkitab, dan

ü   hanya mengambil bagian yang mereka senangi,

ü   bagian yang mereka rasa mereka sudah bisa lakukan tanpa kesulitan, tanpa pengorbanan,

ü   bagian yang tidak mengganggu kesibukan mereka yang lain,

ü   bagian yang tidak mengharuskan mereka mengorbankan kepentingan pribadi mereka.

Maka Alkitab bagi sebagian orang Kristen hanya Matius 25:31-36, atau ayat-ayat lain yang mereka copot dari Alkitab. Jadi, walaupun Alkitab itu terdiri atas 66 kitab, tidak semuanya mereka baca, dan tidak semuanya mereka lakukan walaupun itu Perintah/Hukum atau ketetapan dari Tuhan yang sama yang memberikan ayat-ayat Matius 25:31-36. Banyak yang tidak cocok dengan kepentingan mereka, mereka masukkan tong sampah begitu saja tanpa perasaan persalah.

 

 

Konsep ALLAH ITU KASIH, adalah sangat benar, karena ada ayatnya di 1 Yohanes 4:16.  Dan konsep bahwa orang Kristen PERLU MENGASIHI ALLAH itu pun benar. Lalu salahnya di mana?

SALAHNYA ADA PADA DEFINISI KITA MENGENAI KATA “MENGASIHI ALLAH”.

 

Kita sering hanya memakai definisi kita sendiri untuk menjabarkan apa artinya “mengasihi Allah”, yang ternyata TIDAK SAMA DENGAN DEFINISI ALLAH.

Banyak dari kita menjabarkan “mengasihi Allah” hanya dengan mengambil beberapa ayat dari Alkitab, di antaranya ya Matius 25:31-46 di atas tadi.

Tetapi marilah kita melihat APA DEFINISI TUHAN SENDIRI TENTANG KATA “MENGASIHI ALLAH”

 

Yohanes 14:15

Jikalau kamu mengasihi Aku, turuti Perintah-perintah-Ku.

 

Siapa yang berkata ini? Tuhan Yesus sendiri.

Kalimatnya singkat, jelas, mudah dimengerti, tidak perlu ditafsirkan, tidak perlu diramesi, tidak bisa disalahpahami. Ini namanya bentuk kalimat bersyarat: “Jika begini… maka begitu…” Dengan kata lain, “jika tidak begini… maka juga tidak begitu…”

 

Jikalau kamu mengasihi Aku, turuti Perintah-perintah-Ku.

Itu sama dengan

Jikalau kamu  tidak mengasihi Aku, kamu tidak menuruti Perintah-perintah-Ku.

atau

Jikalau kamu tidak menuruti Perintah-perintah-Ku, kamu tidak mengasihi Aku.

 

Jadi MENURUTI PERINTAH TUHAN itu bukti dari kita mengasihi Tuhan.

Berapa perintah Tuhan yang harus kita turuti? Ya semuanya. Karena semua perintah itu dibuat oleh Tuhan yang sama, jadi memiliki autoritas yang sama, bobot yang sama, validitas yang sama.

 

Apakah melakukan Matius 25:31-46 itu termasuk mengasihi Tuhan? Tentu saja! Karena Yesus berkata, " Jikalau kamu mengasihi Aku, turuti Perintah-perintah-Ku” termasuk Matius 25:31-36. Tapi bukan hanya Matius 25:31-36! Keluaran 20:1-17 juga, Imamat pasal 11 juga, dan ayat-ayat yang lain yang menjelaskan lebih terperinci tentang Hukum Allah, semuanya termasuk.

 

Jadi untuk boleh mengatakan kita mengasihi Allah, ada tiga unsur di sini:

1.   “Kamu” ~ siapa yang ditunjuk Yesus?

Bukan hanya para imam, para pendeta, atau orang lain, tapi “kamu”, yaitu kita semua yang mengikuti Kristus, jadi jelas artinya “KITA YANG MENGAKU MENCINTAI KRISTUS, TANPA KECUALI.

2.   “turuti” ~ jelas ini sebuah perintah, artinya “lakukan itu”,  

bukan melawan, bukan mengganti sendiri, bukan menciptakan sendiri, bukan melanggar, tetapi MEMATUHI”, “TUNDUK KEPADA.

3.   “Perintah-perintahKu” ~ berapa Perintah?

Semuanya, karena ini kata benda jamak, lebih dari satu. Kata benda jamak yang tidak didahului oleh sebuah bilangan (dua, tiga, lima dll.) berarti “semuanya”. Jadi ini bicara tentang SEMUA PERINTAH TUHAN tanpa kecuali.

Kata “Perintah-perintah” ini tulisan aslinya adalah  ἐντολή [entolē] dalam bahasa Greeka, kata yang sama yang dipakai untuk 10 PERINTAH TUHAN = 10 Commandments. Jadi ini bukan sembarang perintah Yesus kepada murid-muridNya untuk “jalan belok kiri” atau “ayo kita naik ke perahu”, tapi ini jelas berbicara mengenai 10 PERINTAH TUHAN tumpuan takhta Allah.

Jadi, Yesus berkata, "JIKALAU KAMU MENGASIHI AKU, TURUTI SEMUA 10 PERINTAHKU.”

 

Semua orang Kristen pasti hafal apa itu 10 Perintah Tuhan, atau disebut 10 Hukum Allah. Kalau lupa, boleh membuka kitab Keluaran 20:1-17.

 

Nah, dari 10 Perintah itu, sebenarnya INTINYA ADA DI PERINTAH YANG PERTAMA.

 

Keluaran 20:2-3

2 AKULAH  TUHAN, Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir, keluar dari tempat perbudakan  3 JANGAN ENGKAU PUNYA ALLAH LAIN DI HADAPANKU.

 

Kita tahu, bahwa 10 Perintah itu bukan hanya ditulis oleh jari Tuhan pada dua tablet batu, tetapi juga diucapkan oleh Tuhan Sendiri dari atas G. Sinai, kepada seluruh bangsa Israel yang berkumpul di bawah, yang mendengar semuanya.

 

Jadi, pertama Tuhan memperkenalkan DiriNya, Siapa Ini yang memberikan perintah. Tuhan berkata "AKULAH TUHAN, ALLAHMU”.

Kata yang diterjemahkan “TUHAN”, dalam tulisan aslinya adalah   יהוה  YHWH (kata ini tidak pernah berani diucapkan oleh bangsa Yahudi pada masa itu, sehingga di abad-abad belakangan orang-orang Kristen menambahkan huruf-huruf hidup kepada huruf-huruf mati itu dan melafalkannya YAHWE atau YEHOVAH. Kata itu sering dipakai Tuhan Yesus di Surga, sebelum Dia lahir dan hidup di dunia.

Kata yang diterjemahkan “ALLAH”, dalam tulisan aslinya adalah  אלהים  ['ĕlôhı̂ym], yang artinya adalah Sosok Tertinggi (dalam bentuk jamak/plural) yang disembah.

Karena itu bilamana kita menjumpai kata "Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak…” (Kejadian 28:13), itu dalam bahasa aslinya adalah

“Akulah YHWH, Yang disembah oleh Abraham…. Yang disembah oleh Ishak…”

Jadi ketika Tuhan memperkenalkan DiriNya, keterangan pertama yang Dia berikan adalah, “Akulah YHWH yang kamu sembah.”

 

Maka setelah Tuhan memperkenalkan identitas Dirinya, Siapa Ini yang berbicara dari atas G. Sinai, Dia menambahkan keterangan pekerjaan besar yang ajaib yang telah dilakukanNya bagi orang Israel. Tuhan mengingatkan orang Israel bahwa Dia-lah yang telah  membawa mereka keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

 

Tetapi karena di ayat 2 ini disebutkan “membawa engkau keluar dari tanah Mesir, keluar dari tempat perbudakan” banyak orang Kristen atau denominasi Kristen yang menganggap 10 Hukum atau 10 Perintah itu khusus hanya untuk bangsa Israel. SALAH. Hukum Allah itu adalah tumpuan/dasar/fondasi takhta Allah.

Mazmur 89:14

Keadilan dan Hukum adalah dasar (tumpuan) takhta-Mu, rahmat dan kebenaran mendahului di depan wajahMu.

 

Jadi Hukum Allah itu berlaku universal, untuk semua makhluk ciptaan. Tetapi karena pada waktu itu Tuhan sedang bicara kepada orang Israel dari G. Sinai, maka Dia memperkenalkan DiriNya sebagai Yang telah membawa mereka keluar dari perbudakan Mesir. Tuhan menyebut hal ini, supaya orang Israel ingat dan sadar bahwa mereka bisa lepas dari perbudakan Mesir bukan karena upaya mereka sendiri, tetapi karena kuat kuasa dan kasih karunia Tuhan, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Tuhan mau umatNya sadar, bahwa tidak ada yang mustahil untuk dilakukan Tuhan bagi umatNya.

Ini merupakan tipologi bagi kita. Tuhan-lah yang telah membawa kita keluar dari perbudakan dosa. Kita sendiri tidak berdaya melepaskan diri dari perhambaan dosa. Hanya kasih karunia Tuhan-lah yang telah membawa kita keluar dari perhambaan dosa.

 

Nah, setelah Tuhan menjelaskan identitasNya, dan alasannya bagaimana manusia bisa diselamatkan olehNya, keluarlah perintahNya yang pertama:

 

JANGAN ENGKAU PUNYA ALLAH LAIN

DI HADAPANKU.”

 

Banyak orang Kristen menganggap ini hanya bicara tentang menyembah berhala, “Oh, Tuhan melarang kita menyembah dewa-dewa”. Itu saja.

Tidak!

Di dalam Perintah yang pertama inilah tercakup semua perintah Tuhan yang lain yang tercantum di Alkitab!

 

 

Prinsipnya hanya satu itu, “JANGAN ENGKAU PUNYA ALLAH LAIN DI HADAPANKU.”

Artinya apa?

Ø    Dalam jumlah,

Tuhan, harus menjadi SATU-SATUNYA ALLAH kita, yaitu satu-satunya yang kita sembah. Automatis berarti kita tidak boleh sujud kepada apa pun yang lain, kecuali Tuhan. Kita tidak boleh sujud kepada manusia, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati; kita tidak boleh sujud kepada patung apa pun; kita tidak boleh sujud kepada malaikat. Satu-satunya yang harus kita sembah dan kepadaNya kita bersujud adalah Tuhan.

Jadi Perintah ini menutup kesempatan kita menyembah/sujud kepada patung atau gambar atau apa pun yang dibuat tangan manusia; juga menutup kesempatan kita menyembah alam (batu, tanah, air, bintang, matahari, dll.); juga menutup kesempatan kita menyembah segala macam roh jahat (karena roh-roh yang baik tidak mengizinkan dirinya disembah).

 

Ø    Dalam urutan,

Tuhan harus menjadi YANG NOMOR SATU DALAM HIDUP KITA,  tidak ada yang lain yang boleh mendahului Tuhan dalam hidup kita. Dengan demikian, bapak kita, ibu kita, saudara kita, pacar kita, pasangan hidup kita, anak-anak kita,  bos kita, karyawan kita, kastamer kita, tetangga kita, dan siapa pun, termasuk diri kita sendiri, semua mendapat nomor di belakang Tuhan. Berarti kalau kita dihadapkan kepada suatu pilihan, kita selalu harus memilih Tuhan di atas segala yang lain-lain, walaupun dengan taruhan nyawa kita sendiri.

Matius 10:37, 39

37 Dia yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan dia yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.

39 Dia yang mencari nyawanya,  akan kehilangan nyawanya, dan dia yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menemukannya.

“mencari nyawanya” artinya mendahulukan keselamatan nyawanya sendiri.

 

Ø    Dalam kedudukan,

Tuhan harus menjadi YANG TERUTAMA DALAM HIDUP KITA. Tidak ada orang lain atau hal lain yang boleh lebih kita utamakan. Dengan demikian, kehendak Tuhan-lah yang menjadi patokan hidup kita. Apa yang dikehendaki Tuhan itu yang harus kita lakukan. Apa yang dilarang oleh Tuhan, itu harus kita tinggalkan.  Dengan kata lain, segala sesuatu yang berbeda atau bertentangan dengan apa yang difirmankan Tuhan, tidak boleh kita ikuti, tidak boleh kita lakukan.

 

Dengan pemahaman ini, maka jika kita HANYA MENYEMBAH DAN SUJUD KEPADA TUHAN, ALLAH YANG TELAH MEMBEBASKAN KITA DARI PERHAMBAAN DOSA, dan TIDAK PUNYA ILAH LAIN DI DALAM HIDUP KITA, maka AUTOMATIS, KITA AKAN MEMATUHI KESEMBILAN PERINTAH YANG LAIN:

 

v   Tidak akan melanggar Perintah Kedua.

Automatis kita tidak akan menyembah dan sujud kepada segala macam patung atau gambar atau simbol apa pun. Menyembah dan sujud kepada yang lain berarti kita sudah berkhianat kepada Tuhan.

 

v   Tidak akan melanggar Perintah Ketiga.

Automatis kita tidak akan sembarangan menyebut nama Tuhan, karena Dia junjungan yang kita sembah, namanya sakral bagi kita, kita hormati dan kita jaga supaya itu tidak sembarangan diucapkan, dibuat bergurau, dan dipinjam untuk hal-hal yang tidak layak.

 

v   Tidak akan melanggar Perintah Keempat.

Automatis kita akan mengingat dan memelihara Sabat hari Ketujuh, hari perhentian yang ditentukan Tuhan, karena itu adalah hari milik Tuhan. Kita tidak akan melanggar kesuciannya dengan melakukan semua urusan kita sendiri pada hari milik Tuhan ini. Kita pasti akan mendahulukan Tuhan di atas segala kepentingan dan keperluan kita sendiri.

 

v   Tidak akan melanggar Perintah Kelima.

Automatis kita akan menghormati orangtua kita, menempatkan kepentingan mereka di atas kepentingan diri kita sendiri, memberikan pendampingan, dan pemeliharaan sesuai yang mereka butuhkan seiring bertambah tuanya mereka. Menyayangi mereka karena merekalah yang telah membawa kita ke dunia ini. Mengapa? Bukan karena orangtua kita baik. Walaupun orangtua kita tidak baik, kita tetap harus menyanyangi mereka karena ini Perintah Tuhan yang kita sembah.

 

v   Tidak akan melanggar Perintah Keenam.

Automatis kita tidak akan membunuh, termasuk kolerasinya membenci orang. Kita akan memperlakukan semua orang ~ termasuk diri kita sendiri ~ sebaik-baiknya, tidak merusaknya baik secara jasmani maupun rohani, menghargai manusia yang telah ditebus oleh Kristus dengan darah yang mahal. Dengan demikian kita akan mematuhi segala peraturan Tuhan tentang makanan dan minuman, menjauhi semua yang dilarang Tuhan, dan mengikuti pola hidup sehat yang diajarkan Tuhan.

 

v   Tidak akan melanggar Perintah Ketujuh.

Automatis kita tidak akan berzinah, tidak selingkuh, tidak mempratekkan seks bebas, termasuk semua kolerasi penyimpangan dan pelanggaran seksual, tidak melakukan maupun mendukung homoseksualitas, tidak melakukan maupun mendukung incest, setia dalam perkawinan, menyayangi pasangan sama seperti menyayangi diri sendiri. Mengapa? Karena ini Perintah Tuhan yang kita sembah.

 

v   Tidak akan melanggar Perintah Kedelapan.

Automatis kita tidak akan mencuri, apa pun dan dari siapa pun, termasuk kita akan setia mengembalikan Persepuluhan kepada Tuhan, kita akan jujur membayar pajak kepada negara, kita akan jujur dalam pekerjaan, tidak menerima suap, tidak mark up harga barang, tidak korupsi. Kita jujur dalam bertransaksi, tidak menjual barang rusak, tidak mengurangi timbangan. Kita akan menghargai waktu, menepati janji tepat waktu, kita tidak akan datang terlambat. Kita juga tidak akan mencuri kesempatan orang lain. Kita akan berbuat adil dalam setiap langkah kita, karena mematuhi Tuhan yang kita sembah.

 

v   Tidak akan melanggar Perintah Kesembilan.

Automatis kita tidak akan berdusta, mengenai apa pun kepada siapa pun. Kita selalu jujur kepada orangtua, guru, saudara, pasangan, anak, majikan, atasan, bawahan, relasi, negara, dan terutama kepada Tuhan. Kita tidak akan menipu untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Kita tidak akan menjerumuskan orang lain dengan ajaran sesat. Kita tidak akan bohong untuk menutupi kebenaran. Ya di atas ya, dan tidak di atas tidak, kata-kata kita harus bisa dipegang. Tidak boleh ditemui dusta dalam hidup kita.

 

v   Tidak akan melanggar Perintah Kesepuluh.

Automatis kita tidak akan bersikap serakah atau mengingini milik orang lain. Kita akan selalu bersyukur kepada Tuhan dengan milik kita sendiri, dengan berkat yang kita terima dari Tuhan. Kita tidak akan iri hati terhadap orang lain. Kita tidak akan mencari akal untuk mengambil porsi orang lain. Kita menghargai milik orang lain. Kita tidak akan merusak milik orang lain malah kita akan ikut menjaga kelestarian milik orang lain.

 

 

 

 

 

 

 

JADI, DENGAN KITA BENAR-BENAR MEMAHAMI DAN MEMATUHI PERINTAH PERTAMA, AUTOMATIS KITA AKAN MEMATUHI SEMBILAN PERINTAH YANG LAIN

DARI 10 PERINTAH INI.

 

 

DAN BUKAN HANYA 9 PERINTAH YANG LAIN INI,

TETAPI JUGA PERINTAH-PERINTAH TUHAN YANG LAIN YANG TERTULIS DI ALKITAB, TERMASUK YANG DITULIS DI MATIUS 25:31-46 DI ATAS,

TERMASUK MENINGGALKAN DAGING

YANG DIHARAMKAN TUHAN,

TERMASUK KESETIAAN MEMBERIKAN PERSEPULUHAN,

DAN MASIH BANYAK LAGI.

 

 

Jadi, dengan punya hubungan yang baik dengan Tuhan, dengan menempatkan Tuhan sebagai yang Pertama dan Terutama dalam hidup kita, sebagai Satu-satunya yang kita sembah, kita akan menjadi manusia yang berbudi luhur, yang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia.

 

Sebaliknya jika kita tidak all-out mematuhi Perintah Pertama, kita pasti kedodoran mematuhi perintah-perintah yang lain.

Jadi kuncinya ada pada Perintah Pertama, seberapa komited kita benar-benar mematuhi Perintah Pertama.

Matius 22:37-38

37 Yesus berkata kepadanya, ‘Engkau harus mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah Perintah yang utama dan yang pertama.

 

Di Lukas 10:27 ditambahkan “dengan segenap kekuatanmu”.

 

Klop, bukan? Jika kita mengasihi Tuhan dengan segenap-segenap milik kita, bagaimana?

 

Yohanes 14:15

Jikalau kamu mengasihi Aku, turuti Perintah-perintah-Ku.

 

 

Maka, jika kita bisa mengasihi Tuhan 

Ø    dengan segenap hati

~ artinya dengan sukarela, dari hati sendiri, bukan terpaksa, bukan karena takut masuk neraka, tetapi karena kita memang mau mengasihi Tuhan.

Ø    dan dengan segenap jiwa

~ artinya dengan pemahaman kerohanian kita, karena sesungguhnya hal-hal Tuhan itu adalah hal-hal rohani yang harus dipahami secara rohani.

Ø    dan dengan segenap akal budi

~ artinya  dengan mental, dengan pikiran sehat kita, dengan logika kita, karena kita tahu bahwa Tuhan itu benar.

Ø    dan dengan segenap kekuatan

~ artinya secara all-out seluruh kemampuan kita.

 

maka otomatis  KITA AKAN MENURUTI SEMUA PERINTAH TUHAN DENGAN SEGENAP HATI, SEGENAP JIWA, SEGENAP AKAL BUDI KITA, DAN SEGENAP KEKUATAN KITA.

 

 

Berarti, jika kita BELUM menuruti segala perintah Tuhan, itu KITA BELUM MENGASIHI TUHAN,   apalagi dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita.

 

1 Yohanes 2:3-4

3 Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti Perintah-perintah-Nya. 4 Dia yang berkata, ‘Aku mengenal Dia’ dan tidak menuruti Perintah-perintahNya, ia seorang pendusta dan kebenaran tidak ada dalamnya.

Pernyataan yang keras kan? Kalau kita tidak menuruti Perintah-perintah Tuhan ~ ini semua Perintah Tuhan karena bentuknya jamak, maka kita ini seorang pendusta, kita cuma omong kosong, kita menipu, kita hipokrit, dan kita tidak punya kebenaran. Dengan kata lain kita adalah sehina-hinanya manusia.

 

Jadi, walaupun kita MERASA kita sudah selamat, perkiraan kita BELUM TENTU BENAR. Bukan kita yang menentukan apakah kita sudah selamat atau tidak, tetapi TUHAN YANG MENENTUKAN. Dan Tuhan Sendiri jelas-jelas berkata, barangsiapa yang tidak menuruti Perintah-perintahNya, dia adalah seorang pendusta, dan ini tidak main-main, lo. Pendusta itu ternyata tidak bisa masuk kerajaan Allah. Silakan baca sendiri:

Wahyu 22:15

Karena di luar (di luar Kota Yerusalem Baru, artinya yang tidak bisa masuk ke Kota Yerusalem Baru) ada anjing-anjing, dan tukang-tukang sihir, orang-orang yang asusila, dan pembunuh-pembunuh, dan penyembah-penyembah berhala, dan setiap orang yang mencintai dan melakukan dusta.

Jadi ini disebutkan beberapa kategori orang-orang yang tidak punya bagian dalam dunia yang baru kelak:

ü   “anjing-anjing” = Paulus menyebut guru-guru palsu, hamba-hamba Tuhan yang jahat sebagai “anjing” ~ Filipi 3:2.

ü   tukang-tukang sihir = semua yang berhubungan dengan roh-roh kegelapan, yang mengerjakan mistik.

ü   orang-orang asusila = pelacur perempuan dan laki-laki, sodomit, mucikari, homoseksual, pelaku incest, yang berzinah dan berselingkuh, yang melakukan seks bebas.

ü   para pembunuh, jasmani dan rohani.

ü   para penyembah berhala.

ü   dan setiap orang yang berdusta dan mencintai dusta. Jadi jangan menganggap dusta itu enteng. Itu menghalangi kita selamat.

 

Untuk direnungkan kita semua.

 

 

 

28 07 14




Tidak ada komentar:

Posting Komentar