Sabtu, 07 September 2013

HILANG DI DALAM RUMAH TUHAN

HILANG DI DALAM RUMAH TUHAN

RENUNGAN MALAM MINGGU:

Aku ingin berbagi makna khotbah Sabat siang ini dari Pdt. Kristiyono Sarjono yang sangat bagus. Ayat-ayat yang dibahas adalah dari Lukas 15:11-32, tentang PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG.

Saudara-saudaraku yang Kristen pasti sudah sangat hafal dan mungkin sudah bosan dengan parabel yang terkenal ini, bagaimana seorang anak (yang bungsu) memaksa minta hak warisnya, yang lalu dipakainya habis untuk berfoya-foya dan akhirnya terjerumus begitu dalam hingga makan pun tidak bisa, akhirnya sadar dan pulang ke rumah bapaknya. Tetapi kali ini, marilah kita beralih ke fokus yang berbeda, yaitu tidak pada anak bungsu yang morsal ini melainkan kepada KAKAKNYA, ANAK YANG SULUNG.

Anak yang sulung ini tampaknya adalah anak yang baik:
§  Dia tidak menuntut hak warisnya selama bapaknya masih hidup ~ berarti dia mengikuti tradisi yang berlaku, tidak melanggar tradisi seperti adiknya.
§  Dia bekerja di ladang bapaknya (Luk 15:25) ~ berarti dia dianggap rajin.
§  Dia tidak pernah melanggar perintah bapaknya (Luk 15:29) ~ berarti dia dianggap anak yang penurut, yang menghormati bapaknya.
§  Dia tidak menghamburkan harta bapaknya (Luk 15:29) ~ berarti dia dianggap anak yang bijak.

Tetapi apakah semuanya oke dengan anak yang sulung ini? TERNYATA TIDAK!
Ternyata apa yang ada di hatinya berbeda dengan apa yang ditampilkannya di luar.

Anak sulung ini tidak bekerja dengan gembira, dia merasa seperti budak. Terjemahan ayat 29 dalam bahasa Indonesia memakai kata “melayani”, tetapi tulisan aslinya adalah δουλεύω  [dool-yoo'-o] From G1401; “to be a slave” . Di Alkitab NIV ayat 29 ini terjemahannya adalah:  “But he answered his father, ‘Look! All these years I’ve been SLAVING  for you...”  yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah “selama bertahun-tahun aku sudah bekerja seperti budak untukmu...”  

Ternyata si anak sulung ini tidak ikhlas! Dia tidak merasa bahwa dia ikut memiliki harta bapaknya, yang suatu hari bakal diwarisinya. Menurut hukum Musa, anak sulung berhak mendapat dua bagian (dobel) dari saudara-saudaranya yang lain (Ulangan 21:17). Berarti, dalam kasus bapak yang punya dua anak ini, 2/3 dari hartanya bakal diwarisi si anak sulung, sedangkan yang bungsu hanya mendapat 1/3 saja. Tetapi walaupun si anak sulung ini tahu bahwa dia bakal mewarisi 2/3 harta bapaknya, toh dia merasa dia bekerja seperti seorang budak! Padahal di zaman itu, seorang budak tidak punya hak apa-apa, mau dibunuh oleh tuannya pun, itu hak tuannya! Jadi tidak ada sukacita dalam hati si anak sulung ini dalam melakukan pekerjaan bapaknya!

Jika selama ini dia merasa tidak pernah melanggar perintah bapaknya seperti yang dikatakannya di ayat 29, ternyata itu dilakukannya bukan karena dia menghormati bapaknya. Kita lihat ayat 30: “Tetapi baru saja datang  ANAK BAPA yang telah memboroskan harta kekayaan bapa...”   Terjemahan bahasa Indonesia telah membuat kata-katanya terdengar lebih halus. Tetapi tulisan aslinya adalah σοῦ [sou] Genitive case of G4771; “of thee, thy”  Jadi terjemahan bahasa Indonesia dari kata aslinya adalah “ANAKMU” bukan "anak Bapa"!   Si anak sulung ini tidak menyebut anak yang bungsu itu adiknya, tetapi dia berkata kepada bapaknya, itu “ANAKMU”.  Dengan demikian dia menunjukkan bahwa sesungguhnya dia tidak merasa  punya hubungan keluarga dengan adiknya maupun dengan bapaknya! Jika dia tidak merasa anak bapaknya itu saudaranya, berarti dia juga tidak merasa dia anak dari bapak itu, bukan?
Dan ini sesuai dengan kata-katanya di ayat 29, karena dia merasa dia bekerja seperti budak untuk bapaknya! Dia merasa sebagai budak! Bukan anak yang akan mewarisi harta bapaknya.

Anak yang sulung ini sebenarnya sudah lama merasa bahwa bapaknya tidak menghargai pekerjaannya. Baru sekarang dia keceplosan bicara.
Ayat 29  “... kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.”  Jadi sebetulnya dia ingin juga makan-makan dengan sahabat-sahabatnya, tak beda banyak dari adiknya! Tetapi hasratnya ini dipendam saja, tidak pernah diungkapkan kepada bapaknya. Jadi selama ini, dia pura-pura tidak punya keinginan itu, dan dia merendahkan adiknya yang suka berfoya-foya. Namun sebetulnya di dalam hatinya, dia ingin juga bisa mengundang makan teman-temannya.Ternyata si anak sulung ini adalah orang yang munafik. Dan pada waktu dia marah inilah, kedoknya terbuka.

Si anak sulung ini marah kepada bapaknya karena adiknya yang sudah nyata-nyata berdosa itu masih diterima kembali, dan dipulihkan statusnya menjadi anak bapaknya lagi. Dia tidak perduli bahwa adiknya sudah bertobat dan meminta ampun kepada bapaknya.  

Si anak sulung merasa rugi. Mengapa dia merasa rugi? Karena sebetulnya tersembunyi di dalam hatinya, dia juga ingin bisa seperti adiknya. Seandainya dia tahu bahwa bapaknya akan menerima adiknya lagi dan memulihkan statusnya sebagai anak, mungkin dia pun akan berbuat seperti adiknya! Waduh, kan enak, sudah pernah hidup bebas merdeka, berfoya-foya, menghabiskan semua hartanya, pulang-pulang, eeehh, bukannya diusir tapi justru malah diterima dan dipulihkan statusnya sebagai anak! Kan dobel-dobel enaknya. Sudah pernah hidup bergelimang dosa, ujung-ujungnya masih diterima kembali!
Berarti bagi si anak sulung ini, hidup bergelimang dosa itu mestinya enak, karena dia merasa rugi dia tidak pernah melakukannya! Sebetulnya dia juga ingin!

Jika selama ini si anak sulung ini “setia” bekerja di ladang bapaknya, itu bukan karena dia gemar bekerja di sana, bukan karena dia senang berada di dekat bapaknya, bukan karena dia sadar ladang itu bakal diwarisinya,  tetapi karena dia TAKUT KEHILANGAN STATUSNYA SEBAGAI ANAK!
Ternyata adiknya tidak kehilangan status sebagai anak! Maka ini membuat anak sulung itu merasa sangat marah karena dirugikan!

Seandainya si anak sulung ini memang senang berada di dekat bapaknya, dia tidak akan iri hati pada adiknya. Dia justru akan merasa kasihan pada adiknya, yang pernah kehilangan waktu yang sangat berharga selama dia jauh dari bapaknya. Seandainya si anak sulung ini menganggap setiap hari dia hidup bersama bapaknya itu suatu berkat, suatu kenikmatan, maka dia akan merasa sangat beruntung karena dia tidak pernah kehilangan satu detik pun jauh dari bapaknya seperti adiknya. Seandainya!

Ini merupakan suatu “wake up call” suatu “tempelak” yang sangat bagus bagi kita, orang-orang Kristen yang “setia” berada di dekat Tuhan. Kita semua perlu berintrospeksi, apakah kita memilih berada dekat dengan Tuhan itu karena kita mengasihi Tuhan, karena kita merasa sukacita, aman, damai, berada di dekatNya? Apakah kita tidak melanggar hukum-hukum Tuhan itu karena kita ingin menyenangkan hati Tuhan atau karena kita takut dihukum Tuhan, takut kehilangan status kita sebagai anak Tuhan? Seandainya kita tidak akan kehilangan status kita sebagai anak Tuhan, apakah kita akan mencoba juga hidup melanggar hukum Tuhan?  Apakah kita melayani Tuhan karena kita sadar kita adalah waris kerajaan Allah, atau kita melakukannya karena terpaksa seperti anak sulung itu yang merasa membudak kepada bapaknya?

Si anak yang bungsu memang hilang dalam kesesatan dunia, tetapi si anak sulung malah hilang di dalam rumah bapaknya. Dan ini susah disadari, bahkan oleh ybs sendiri! Ini adalah tipe "hilang" yang lebih berbahaya karena orang yang hilang tidak merasa hilang!  Dosa yang dilakukannya hanya ada di dalam hati, tidak ada orang lain yang tahu, sehingga tidak ada orang lain yang akan mengingatkannya! 
Kita mungkin tidak hilang dalam kesesatan dunia, tetapi apakah kita yakin kita tidak hilang di dalam pelayanan Tuhan? Apakah kita tidak hilang dalam “kesetiaan” kita? Kita perlu introspeksi untuk menjawab pertanyaan ini dengan jujur kepada diri kita sendiri.

Tuhan memberkati.


2013-09-07



Tidak ada komentar:

Posting Komentar