Senin, 23 Juni 2014

134. YESUS YANG MANA YANG KITA IKUTI

134. YESUS YANG MANA YANG KITA IKUTI?

___________________________________________________________

Lho, memangnya ada berapa orang Yesus?

Ternyata banyak!

Dua orang yang  disodorkan Pilatus kepada orang Yahudi untuk dipilih salah seorang yang akan dibebaskan, itu saja ternyata DUA orang Yesus:

ü  Yesus Anak Allah, dan

ü  Yesus Barabbas.

Dan massa memilih Yesus Barabbas! Dari sana saja sudah merupakan perlambang, MASSA SELALU MEMILIH YESUS YANG SALAH. Betul, mereka memilih Yesus, tapi bukan Yesus Anak Allah, melainkan Yesus yang lain.

 

Yesus sendiri telah memberikan peringatan:

Matius 24:24

Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar untuk menyesatkan sekiranya mungkin, bahkan orang-orang pilihan.

 

 

Banyak orang Kristen juga sudah memilih Yesus yang palsu, di antaranya mereka memilih:

1.   Yesus yang makan babi dan daging haram lainnya,

2.   Yesus yang tidak memelihara kekudusan hari ketujuh sebagai hari Sabat,

3.   Yesus yang membuang Perintah dan Hukum Allah,

4.   Yesus yang membenarkan praktek homoseksual,

5.   Yesus yang tidak membayar pajak,

6.   Yesus yang tidak memberikan persepuluhan,

7.   dlsb.

Padahal di seluruh Alkitab, yang kita jumpai adalah:

 

YESUS YANG SAMA SEKALI

TIDAK PERNAH BERBUAT DOSA

 

Ada banyak ayat di dalam Kitab Suci yang menyatakan bahwa Yesus itu tidak pernah berbuat dosa, kita lihat dua saja di:

 

1 Yohanes 3:5

Dan kamu tahu, bahwa Ia dijadikan manusia untuk mengangkat dosa kita, dan di dalam Dia tidak ada dosa.

 

1 Petrus 1:19

melainkan dengan darah Kristus yang mahal,  sebagaimana seekor domba yang tanpa cela dan tanpa cacat.

 

KESIMPULAN:

Karena dosa adalah pelanggaran hukum Tuhan, seperti kata 1 Yohanes 3:4

Siapa yang berbuat dosa, juga melanggar hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran Hukum Allah.

 

Maka, jika Yesus dinyatakan tidak pernah berbuat dosa, tidak bernoda, tidak bercacat, berarti:

 

YESUS TIDAK PERNAH MELANGGAR

SEMUA PERINTAH DAN HUKUM ALLAH

 

 

Dengan demikian, berarti:

 

1.   YESUS TIDAK PERNAH MAKAN DAGING HARAM.

Yesus terlahir sebagai orang Yahudi, bukan? Makan daging haram buat orang Yahudi dosa atau tidak? Dosa sekali! Tuhan telah memberikan daftar panjang di Imamat pasal 11 tentang daging apa yang haram dimakan dan daging apa yang boleh dimakan, dan peraturan ini hingga hari ini masih dipegang teguh oleh orang-orang Yahudi. Jadi, sebagai orang Yahudi, apakah Yesus memegang peraturan ini? Yesus tidak pernah berbuat dosa. Dia adalah Domba Allah yang tidak bercacat cela. Pasti Dia tidak melanggar peraturan Tuhan, berarti, PASTI DIA TIDAK MAKAN DAGING YANG HARAM.

 

2.   YESUS TIDAK PERNAH TIDAK MEMELIHARA KEKUDUSAN HARI KETUJUH SEBAGAI HARI SABAT.

Ada banyak ayat di dalam Kitab Suci yang menyatakan bahwa Yesus mengakui hari Sabat sebagai milik Tuhan, dan memelihara kekudusannya, kita lihat di antaranya:

Lukas 4:16

Dan Ia datang ke Nazaret, tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya Ia masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat, dan berdiri untuk membaca [dari alkitab].

 

Markus 1:21

Dan mereka pergi ke Kapernaum; dan segera pada hari Sabat, Dia [Yesus] masuk ke rumah ibadat dan mengajar.

  

Bukan itu saja, memelihara hari ketujuh sebagai hari Sabat Tuhan, terdaftar sebagai Perintah Nr. 4 di dalam 10 Perintah Tuhan, yang ditulis oleh jari Tuhan pada dua loh batu, sehingga pelanggaran terhadap Perintah Tuhan jelas-jelas adalah dosa! Karena kita sudah tahu bahwa Yesus tidak pernah berbuat dosa, maka berarti JELAS YESUS TIDAK PERNAH MELANGGAR PERINTAH/HUKUM TUHAN, termasuk melanggar kekudusan hari Sabat.

 

3.   YESUS TIDAK PERNAH MEMBUANG HUKUM/PERINTAH TUHAN.  

Mengapa Yesus mati?

Untuk menebus manusia dari hukuman dosa, karena “upah dosa ialah maut” (Roma 6:23).

Dosa itu apa? “… dosa ialah pelanggaran Hukum Allah” (1 Yohanes 3:4).

Seandainya Hukum Allah bisa dihapus, berarti tidak akan ada lagi pelanggaran, bukan? Apa yang mau dilanggar jika tidak ada hukumnya? Karena itu, seandainya Yesus sudah menghapuskan Hukum/Perintah Allah, Dia tidak perlu mati. Karena tanpa ada Hukum Allah, tidak ada manusia yang dianggap berdosa, jadi tidak ada manusia yang perlu ditebus, dan Yesus tidak usah mati.

Kematian Yesus menggantikan manusia membayar upah dosa, JUSTRU MEMBUKTIKAN BAHWA YESUS TIDAK MEMBUANG HUKUM TUHAN, MELAINKAN DIA MENEGUHKANNYA!

Tetapi, ada juga orang Kristen yang berkata, oh, Hukum Allah itu dihapuskan setelah Yesus mati disalib, karena Hukum Allah sudah dipaku di salib. Ini pengawuran! Hukum Allah tidak dipaku di salib, yang dipaku di salib adalah Surat Utang Hukuman Dosa (silakan baca Kolose 2:13-14, juga dibahas di blog ini smarargd84.blogspot.com ~ cari Alkitab Menjawab tentang hari Sabat, pertanyaan nr. 19).

Coba kita pikirkan, seandainya Hukum/Perintah Tuhan sudah dipakukan di salib berarti SETELAH KEMATIAN YESUS TIDAK ADA LAGI DOSA? Karena Hukumnya sudah tidak ada, berarti tidak ada lagi yang dilanggar, berarti tidak ada lagi dosa? Berarti, setelah kematian Yesus, mencuri, membunuh, berdusta, menyembah berhala, dll. semuanya itu sudah bukan dosa lagi karena Hukum yang menentukan semua itu dosa, sudah dihapus. Berarti semua orang Kristen boleh dengan bebas berbuat apa saja, karena sudah tidak ada lagi hukum. Masuk akal? Sedangkan orang yang tidak Kristen saja, tahu bahwa mencuri, berzinah, membunuh, dll. itu tidak boleh dilakukan, bagaimana kok orang Kristen menganggap bahwa Hukum yang membatasi perbuatan-perbuatan itu sudah dihapus?

TIDAK. Yesus tidak pernah membuang atau menghapus Hukum Tuhan.

 

Coba kita baca lagi Matius 5:17-19

17Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan kitab Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sampai lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari Hukum Taurat, sampai semuanya digenapi. 19 Karena itu siapa yang melanggar salah satu perintah Hukum Taurat yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan disebut yang paling hina oleh Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang akan melakukan dan mengajarkan mereka, ia akan disebut besar oleh Kerajaan Sorga.

 

Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat dan kitab para nabi, yaitu seluruh Kitab Perjanjian Lama. Bagian mana yang digenapi oleh Yesus? Bagian upacara kurban. Seluruh tata upacara kurban yang adalah lambang pengurbanan Yesus di salib, itu yang digenapi olehNya, karena Dialah Domba Allah yang sejati. Dan bagian yang sudah digenapi, itulah yang sudah selesai, karena yang tadinya adalah lambang/simbol pengurbanan Yesus, setelah Domba yang asli (Yesus sendiri) mati sebagai kurban dosa di salib, maka selesailah fungsi segala upacara kurban itu sebagai lambang. Dan untuk membuktikan bahwa segala upacara kurban itu sudah selesai fungsinya sebagai lambang/simbol pengurbanan Yesus, tirai Bait Suci di Yerusalem yang memisahkan antara Bilik Suci dan Bilik Mahasuci, robek dari atas ke bawah, pada saat Yesus berkata “Sudah selesai!” dengan demikian Tuhan menyatakan bahwa sejak itu Bait Suci sudah tidak berfungsi lagi sebagai tempat kurban.

Tetapi, apakah Hukum/Perintah Tuhan juga berakhir di salib? Sama sekali tidak! Karena Hukum/Perintah Tuhan BUKANLAH LAMBANG KEMATIAN KRISTUS DI SALIB, jadi Hukum/Perintah Tuhan tidak digenapi di salib, dan dengan sendirinya juga tidak berakhir di salib!

Perhatikan apa kata Yesus di Matius 5:18 Sesungguhnya sampai lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari Hukum Taurat, sampai semuanya digenapi. Apakah langit dan bumi ini sudah lenyap sekarang? Jelas sekali, kan, bahwa sampai sekarang “satu iota atau satu titik pun” tidak ada yang dihapus dari Hukum Taurat!

 

 

Dengan demikian, SEMUA HUKUM/PERATURAN TUHAN yang tertulis di Alkitab, MASIH BERLAKU.

Apa kata Tuhan tentang praktek homoseksual dan semua praktek seksual yang menyimpang? Bisa dibaca sendiri di Imamat pasal 18, dan 20, di 1 Korintus pasal 6, di Roma pasal 1 (juga ada pembahasannya di nr. 129 di blog ini).

Apa kata Alkitab tentang membayar pajak dan persepuluhan? Matius 22:21.

Dan lain-lain, yang semuanya bisa kita temukan di dalam Alkitab.

 

 

JADI YESUS YANG MANA YANG KITA IKUTI?

 

 

Seorang pengikut, atau seorang murid, tentunya harus mempunyai pola berpikir yang sama dengan gurunya atau orang yang diikutinya, bukan?

Murid Confusius, pasti mempunyai pola pikir yang sama dengan Confusius. Pengikut Hitler, pasti mempunyai pola pikir yang sama dengan Hitler. Dengan kata lain, seorang baru bisa disebut pengikut atau murid, apabila cara berpikirnya dan perbuatannya mirip dengan orang yang diikuti/gurunya. Jika bertolak belakang atau berbeda, maka dia pasti bukan pengikut atau muridnya, atau kalaupun dia mengaku sebagai muridnya, itu hanyalah murid palsu, murid abal-abal.

 

Begitu pula kita sebagai pengikut atau murid Yesus! Jika cara berpikir dan perbuatan kita tidak mirip dengan Yesus, maka kita BUKAN pengikut atau murid Yesus! Atau cuma murid-murid palsu, murid abal-abal, murid KTP.

 

Yohanes, salah seorang rasul Yesus yang hidup paling lama, sudah dengan sangat jelas memberikan definisi siapa saja yang layak disebut pengikut/muridNya:

 1 Yohanes 2:6

Dia yang mengatakan bahwa ia tinggal di dalam Dia, ia sendiri wajib hidup sedemikian rupa, yang sama seperti Kristus telah hidup.

 

Jelas sekali bukan? Seorang pengikut/murid “wajib hidup sama seperti” orang yang diikutinya atau gurunya. Kalau tidak, maka jelas dia bukan muridnya, bukan pengikutnya.

Marilah kita inventarisasi. Sudahkah kita hidup sama seperti Yesus, yang katanya kita ikuti?

Di bawah ini ada beberapa poin yang disinggung dalam pembahasan ini, selain ini tentunya masih ada banyak poin yang lain, tapi dalam pembahasan kali ini, poin-poin ini saja yang kita bahas:

 

1.   Yesus yang asli yang ditulis di Alkitab, tidak makan daging haram.

Bagaimana dengan kita? Kalau kita masih makan daging haram, berarti kita bukan pengikut/murid Yesus yang asli. Entah Yesus yang mana yang kita ikuti?

 

2.   Yesus yang asli yang ditulis di Alkitab, memelihara kekudusan hari ketujuh sebagai hari sabat Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Kalau kita tidak memelihara hari ketujuh sebagai hari Sabat Tuhan, maka kita bukan pengikut/murid Yesus yang asli. Kita mengikuti atau bermurid kepada Yesus yang mana?

 

3.   Yesus yang asli yang ditulis di Alkitab, rela mengorbankan nyawaNya untuk mempertahankan Hukum/Perintah Tuhan. Dia tidak pernah berbuat dosa dengan melanggar satu pun Hukum/Perintah Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Jika kita menganggap Hukum/Perintah Tuhan sudah tidak berlaku, maka kita bukanlah pengikut atau murid Yesus yang ditulis  di Alkitab. Entah Yesus yang mana yang kita ikuti?

 

4.   Yesus yang asli yang ditulis di Alkitab mengatakan kita wajib mempraktekkan cuci kaki antar sesama, dan Dia melakukannya sebelum Perjamuan Terakhir bersama murid-muridNya (Yohanes 13:14).

Bagaimana dengan kita? Jika kita tidak pernah melakukannya, berarti kita bukan pengikut atau murid Yesus yang ditulis di Alkitab, karena Yesus yang di Alkitab mengatakan kita “wajib” melakukannya.

 

5.   Yesus yang asli yang ditulis di Alkitab membayar pajak yang benar kepada pemerintah, dan juga memberikan kepada Tuhan apa yang adalah milik Tuhan  (Lukas 20:25).

Bagaimana dengan kita? Jika kita tidak membayar pajak yang seharusnya adalah hak pemerintah, dan juga tidak memberikan kepada Tuhan apa yang adalah milik Tuhan (persepuluhan), maka kita bukan pengikut atau murid Yesus.

 

Masih banyak lagi, kita tinggal mencarinya saja di Alkitab. Kita tinggal bertanya saja kepada diri sendiri “Apakah saya sudah melakukan yang sama seperti yang dilakukan Yesus?”

 

 

APAKAH YESUS YANG KITA IKUTI ADALAH YESUS YANG ADA DI ALKITAB, ATAU ITU YESUS VERSI LAIN?

Apakah kita sudah menciptakan Yesus versi kita sendiri? Yesus yang makan babi, Yesus yang makan udang dan segala daging haram lainnya, Yesus yang pergi ke disko atau berpesta pora, Yesus yang merokok atau suka mabuk, Yesus yang suka bohong, atau Yesus yang masih sibuk bekerja mencari uang dan berjual-beli pada hari Sabat? Versi Yesus ciptaan kita itu sangat metropolitan. Yesus versi kita ada yang homoseksual atau menyetujui dan mendukung  praktek homoseks, ada yang menggunakan narkoba dan suka teler, ada juga yang suka selingkuh kiri selingkuh kanan, yang berzinah. Yesus versi kita juga ada yang suka korupsi, dan menipu, dan tidak jarang yang menelantarkan orangtuanya. Karena itulah yang kita lakukan. Dan APA YANG KITA LAKUKAN MEMBUKTIKAN PENGIKUT ATAU MURID SIAPA KITA INI.

Teman-teman, jika kita belum menjadi pengikut atau murid Yesus yang asli, yang ditulis oleh Alkitab, maka kita bukanlah pengikut atau murid Yesus sama sekali.

 

Pertanyaan penting:

Jika cara hidup kita berbeda dengan cara hidup Yesus,

 

APAKAH YESUS AKAN MENGAKUI KITA

SEBAGAI PENGIKUT ATAU MURIDNYA?

 

Adalah sangat tragis jika kita merasa kita ini pengikut atau murid Yesus, tetapi suatu hari Yesus malah berkata Pada waktu itulah Aku akan menyatakan kepada mereka, ‘Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari Aku, kamu sekalian yang mempraktekkan pelanggaran Hukum!” (Matius 7:23). Malu tidak? Kita dengan PDnya merasa sudah murid Yesus, eh, ternyata Yesus mengatakan, “Sori, Aku tidak pernah mengenal kamu!” Bayangkan, “tidak pernah mengenal” kita. Lha selama bertahun-tahun kita aktif pelayanan, aktif ini-itu, itu kita berbuat untuk siapa? Ternyata sekarang Yesus kenal pun tidak dengan kita. Wuih, malunya! Bukan cuma malu, tapi kalau sampai tidak diakui oleh Yesus, mati kita! Kita tidak selamat!

 

Kita perlu menginventaris hidup kita sendiri. Sudah seberapa miripkah kita dengan Yesus yang asli yang ditulis di Alkitab? Jika belum, sudah waktunya kita berbuat sesuatu. Ada dua pilihan:

Ø    Kita mencari Yesus yang asli di dalam Alkitab,

dan kita putar haluan untuk mengikuti Dia dan menjadi muridNya, dan dengan bantuanNya, kita meniru teladanNya;

Ø    atau kita cari siapa sosok yang selama ini kita ikuti, sosok yang sudah kita tiru dalam hidup kita,

kita cari siapa sosok itu, lalu kita boleh mengikuti sosok itu secara blak-blakan jangan pakai nama “Yesus” lagi, karena yang pasti sosok itu BUKAN YESUS yang asli, yang ditulis di Alkitab.

 

Di dalam dunia ini kita selalu harus memilih antara dua kubu yang bertentangan, yaitu antara yang benar dan yang tidak benar. Apa yang benar itu mutlak, hanya ada satu. Tetapi yang tidak benar, bisa bermacam-macam. Ada yang tidak benar 10%, ada yang tidak benar 50%, ada yang tidak benar 90%, tapi semua itu bukan kebenaran. Yang tidak benarnya cuma 1% pun bukan kebenaran.

Yang BENAR HANYA SATU. Apa pun yang tidak sama dengan yang benar itu, BUKAN KEBENARAN, walaupun ada kemiripannya.

 

Demikianlah, YESUS KRISTUS YANG BENAR HANYA ADA SATU, yaitu yang ditulis di Alkitab. Yang lain-lain adalah versi-versi ciptaan manusia, ciptaan kita sendiri, sesuai keinginan kita, sesuai kepentingan kita. Dan semua versi imitasi ini justru lebih berbahaya daripada yang jelas-jelas tidak sama. Karena yang jelas-jelas tidak sama, tidak akan membuat kita menganggap bahwa itu adalah Yesus Kristus! Tetapi versi-versi yang punya kemiripan entah sedikit entah banyak dengan yang asli, itu yang bisa mengecoh kita.

 

Carilah Yesus di dalam Alkitab dengan tekun, maka kita akan menemukanNya jika kita memang rindu menjadi pengikut atau muridNya.

 

Selamat merenung.

 

 

 

 

 

22 06 14











2 komentar:

  1. Dlm ajara kristen ....bahwa anak manusia yang baru lahirpun mempunyai dosa...berarti yesus punya dosa dong...???kalau yesus tuhan.!!??tuhan mana yang ada dosanya!!hhhh ngaco

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ajaran Kristen mana yang mengatakan anak yang baru lahir sudah punya dosas? Itu BUKAN AJARAN YANG ALKITABIAH. Berdosa ialah melanggar hukum Allah. Anak yang belum mengerti tentang hukum Allah, tidak bisa berbuat dosa karena dia tidak tahu mana yang melanggar dan mana yang tidak. BERARTI KAMU TIDAK TAHU AJARAN KRISTEN klo kamu beranggapan anak yang baru lahir itu punya dosa. Nah, klo kamu mau tahu ajaran Kristen yang alkitabiah, ya belajarlah alkitab. Klo tidak, tidak usah komentar di blog yang membahas tentang ajaran Kristen.

      Hapus