Selasa, 07 Januari 2014

115. IBRANI PASAL 4

115. IBRANI PASAL 4

____________________________________

Ibrani 4:1-11

4:1         Sebab itu, baiklah kita takut, jangan-jangan janji yang ditinggalkan kepada kita tentang masuk ke dalam perhentian-Nya, di antara kamu mungkin ada yang tidak bisa mencapainya.

4:2         Karena kepada kita kabar kesukaan (Injil) diberitakan, sama seperti kepada mereka (= orang Yahudi); tetapi Firman yang disampaikan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak dicampur dengan iman pada mereka yang mendengarnya.

4:3         Karena kita yang sudah percaya, masuk ke perhentian seperti yang Ia katakan, ‘Sebagaimana Aku telah bersumpah dalam murka-Ku, jika mereka sampai masuk ke perhentian-Ku, sekalipun pekerjaan itu sudah selesai sejak fondasi dunia.’ (= sejak dunia akan  dijadikan).

4:4         Sebab Dia sudah berbicara di suatu tempat (di suatu ayat) tentang hari ketujuh demikian: ‘Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya.’

4:5         Dan di tempat  itu (di ayat itu) lagi,Jika mereka akan masuk ke perhentian-Ku.’ =  κατάπαυσις [katapausis]   

4:6         Mengingat karena masih ada beberapa yang harus masuk ke sana,  dan mereka kepada siapa lebih dahulu disampaikan kabar kesukaan itu (orang-orang Yahudi) tidak masuk karena ketidakpercayaan mereka.

4:7         Sekali lagi, Ia membatasi satu hari tertentu, mengatakan melalui Daud, ‘Hari ini’, setelah sekian lamanya; sebagaimana dikatakan,  ‘Hari ini, jika kamu mau mendengar suara-Nya, janganlah mengeraskan hatimu!’

4:8         Karena, andaikata Yosua (= Yesus) telah memberi mereka perhentian, maka Ia tidak akan berkata kemudian tentang suatu hari lain.

4:9         Jadi oleh karena itu, masih tersisa satu perhentian = σαββατισμός [sabbatismos]  bagi umat Allah.

4:10       Karena dia yang telah masuk ke perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari pekerjaannya sendiri, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.

4:11       Karena itu marilah kita bekerja keras untuk masuk ke perhentian itu, jangan sampai siapa pun jatuh mengikuti contoh ketidakpercayaan yang sama.

 

Aku mengutip mulai dari ayat 1 hingga 11, supaya kalian bisa membaca sendiri. Karena terjemahan LAI kurang jelas, ini adalah KJV yang diindonesiakan. Tapi yang akan dibahas di sini hanya ayat 8 hingga 11, karena kalau membahas semuanya terlalu panjang.

 

Teman-teman yang Kristen, boleh jadi kita terkecoh pada waktu kita membaca ayat-ayat yang ditulis oleh Paulus ini. Itu pernah terjadi padaku, karena itu aku tidak ingin teman-teman mengalami kebingungan yang sama yang pernah aku alami.

Alkitab terjemahan bahasa Indonesia memakai kata “Yosua” di ayat 8, tetapi Alkitab terjemahan bahasa Inggris yang lama-lama memakai kata “Jesus”. Jadi Yosua yang dimaksud di ayat 8 adalah Yesus, yang dalam bahasa Ibrani dilafalkan  “Yehoshua” atau “Yosua” dalam bahasa Indonesia.

Jika kita membaca nama Yosua di sini mungkin kita akan mengaitkan ayat-ayat ini dengan zaman Musa, karena Yosua adalah pengganti Musa, dia yang membawa bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian setelah kematian Musa.

Atau ada lagi seorang Yosua yang lain, yaitu imam besar yang mendampingi Zerubabel yang membawa orang-orang Israel kembali ke Yerusalem dari pengasingan Babilon. Juga tokoh dari Perjanjian Lama.

Kalau Yosua-nya kita anggap tokoh Perjanjian Lama, mungkin kita akan menganggap ayat-ayat selanjutnya dalam perikop ini berkaitan dengan Perjanjian Lama, dengan bangsa Israel purba. Jadi “hari perhentian” yang dibicarakan di sini bisa-bisa dianggap berurusan hanya dengan bangsa Israel purba, tidak ada kaitannya dengan kita, umat Perjanjian Baru!

TAPI KITA TERKECOH!

Yosua di sini bukanlah Yosua penerus Musa! Juga bukan imam besar yang membawa orang Israel kembali dari Babilon. Yosua di sini adalah Yesus Kristus!

Maka jika yang di ayat 8 itu bicara tentang Yesus Kristus, maknanya jadi berbeda.

 

Marilah kita buka beberapa Alkitab terjemahan bahasa Inggris:

 

For if Jesus had given them rest, then would He not afterward have spoken of another day. [KJV]

 

For if Jesus had given them rest, He would never have afterwards spoken of another day. [Douay-Rheims 1899 American Edition]

 

For if Jesus had given them rest, then would He not after this have spoken of another day. [1599 Geneva Bible (GNV]

 

For if Jesus had given rest to them, He should never speak of other after this day [after that day]. [Wycliffe Bible (WYC]

 

 

Jadi pada semua alkitab yang diterjemahkan mula-mula di zaman Reformasi Protestan, mereka dengan jelas menulis nama “JESUS” dan bukan “Joshua”. Tetapi pada Alkitab terjemahan yang lebih baru, mereka memakai kata “Joshua”.

Walaupun nama “Yesus” itu sama dengan “Yosua”, tetapi supaya tidak bingung, biarlah kita menggunakan “Yesus” untuk Juruselamat kita, dan “Yosua” untuk penerus Musa dan imam besar zaman Zerubabel.

Karena di ayat 8 ini yang dimaksud adalah Juruselamat kita, maka kita sebut saja “Yesus” dan bukan “Yosua”.

 

Sekarang marilah kita lihat tulisan Greeka aslinya, Ibrani 4:8, yang di sini ditulis “Yosua” itu tulisan aslinya  Ἰησοῦς  yang kalau dilafalkan menjadi Iēsous [ee-ay-sooce'].

Dan keterangannya: 

“of Hebrew origin [H3091]; Jesus (that is, Jehoshua), the name of our Lord and two (three) other Israelites: - Jesus”

 

“Jesus” adalah lafal Inggris.

“Jehoshua” adalah lafal Ibraninya, tulisan Ibraninya demikian יְהוֹשֻׁעַ יְהוֹשׁוּעַ [yehôshûa‛ yehôshûa] sama dengan tulisan Yosua nama penerus Musa. Arti kata “Jehoshua” ialah  “Tuhan itu keselamatan” (The Lord is salvation). Jadi orangtua Yosua penerus Musa, memberi nama anaknya "Yosua" karena itu nama yang artinya bagus.

Jadi, sekarang kita sudah tahu siapa Yosua ini, maka kita bisa memahami Ibrani 4:8-11 itu bicara tentang apa. Mari kita kupas ayat-ayat itu.

 

4:8         Karena, andaikata Yesus telah memberi mereka perhentian, maka Ia tidak akan berkata kemudian tentang suatu hari lain.

 

Kita perhatikan, ada kata “andaikata” di ayat 8. Semua yang di-“andai”-kan, berarti suatu misal yang TIDAK BENAR-BENAR TERJADI, bukan? Apa yang diandaikan adalah kebalikan dari keadaan yang sesungguhnya.

Karena ada “andaikata” maka berarti, sesungguhnya Yesus tidak memberi mereka perhentian, maka kalimat selanjutnya juga harus dibalik artinya.

Supaya lebih jelas, marilah kita tulis ulang kalimat ayat 8 ini, tidak dalam bentuk pengandaian, tetapi dalam bentuk realitanya:

  

“Sebab, andaikata Yesus telah memberi mereka perhentian,

maka Ia tidak akan berkata kemudian tentang suatu hari lain.”

 

Sama artinya dengan:

 

“Karena Yesus tidak memberi mereka perhentian,

maka Ia masih bicara tentang suatu hari [perhentian].”

 

 

Bisa lebih dimengerti kalimatnya, bukan?

 

Jadi, Paulus di sini menulis bahwa:

1.   Yesus tidak memberi mereka  perhentian.

Siapa “mereka” ini? Orang-orang Yahudi, karena kitab Ibrani ini ditulis kepada orang-orang Ibrani (Yahudi), mereka yang tadinya diangkat sebagai umat pilihan Allah. Tetapi karena mereka menolak Yesus Kristus sebagai Mesias, maka  akibatnya mereka tidak masuk perhentian Allah. Itulah mengapa Yesus tidak memberi mereka perhentian, karena mereka sendiri yang menolakNya.

Jadi aslinya ini bicara tentang orang-orang Yahudi yang menolak Kristus.

 

2.   Perhentian apa yang dimaksud?

Kata aslinya di sini adalah kata Greeka κατάπαυσις [katapausis] yang artinya:

beristirahat, berbaring di tempat yang tenang, damai, di tempat Allah, di mana kita tidak usah bergumul lagi dengan Setan, dan dengan dosa.

Kalau begitu apa artinya masuk perhentian Tuhan? Artinya sudah selamat. Sudah menerima pekerjaan penebusan Kristus yang sudah selesai.

 

Jadi mulai ayat 1 hingga 8, Paulus bicara tentang orang-orang Yahudi yang sebagai satu bangsa, telah gagal masuk perhentian Allah karena mereka tidak menerima Yesus Kristus sebagai Mesias, sehingga injil disebarkan kepada bangsa-bangsa non-Yahudi.

Tetapi di ayat 6 (baca saja di atas) dikatakan bahwa masih ada “beberapa” yang akan masuk perhentian itu secara individu, jadi kesempatan untuk masuk perhentian Allah masih terbuka untuk Yahudi individu, bukan sebagai satu bangsa Yahudi, melainkan sebagai seorang manusia.

Dan di ayat 3 (baca di atas) dijelaskan bagaimana orang bisa masuk perhentian, yaitu dengan iman, Karena kita yang sudah percaya, masuk ke perhentian...”. Jadi kita harus tahu, untuk masuk perhentian ( identik dengan keselamatan), itu hanya dengan “percaya” atau “iman” dan itulah yang tidak dimiliki orang-orang Yahudi di zaman Yesus.

 

3.   Ingat ya, kata “perhentian di ayat 8 ini

tulisannya κατάπαυσις [katapausis] yang artinya identik dengan “keselamatan.”

 

 

Kita lanjut ke ayat 9,

 

4:9         Jadi oleh karena itu masih tersisa satu perhentian bagi umat Allah.

 

Ayat 9, dimulai dengan kata “Jadi oleh karena itu” atau artinya “dengan demikian”, yang berarti akibat atau perkembangan dari ayat 8 di atasnya. Jadi oleh karena itu (dengan demikian), masih tersisa satu perhentian.

Tapi KATA “PERHENTIAN” DI SINI BEDA DENGAN KATA “PERHENTIAN” DI AYAT 8. Perhatikan, ini penting supaya kita mendapatkan pengertiannya yang benar. Kata “perhentian” di ayat 9 itu σαββατισμός [sabbatismos], yang artinya perhentian yang berkaitan dengan pemeliharaan Sabat Hari Ketujuh.

 

Di ayat 9 tidak dijelaskan lebih lanjut tentang  σαββατισμός [sabbatismos] karena sudah ada di ayat 4 sebelumnya, yang berkata, “Sebab Dia sudah berbicara di suatu tempat (maksudnya di suatu ayat lain) tentang hari ketujuh demikian: ‘Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya.’...”

Berarti, perhentian Sabat hari ketujuh itu masih ada atau sudah dihapus? MASIH ADA! Paulus jelas menulis “masih tersisa” artinya MASIH ADA! Kalau masih ada, berarti harus dipelihara/dilakukan, kan?     

 

Perhentian σαββατισμός [sabbatismos] itu untuk siapa? Ayat 9 menyebutnya jelas bagi umat Allah". Jadi perhentian itu bukan buat orang yang tidak kenal Allah, bukan buat orang atheis, bukan buat orang Yahudi saja, tetapi jelas disebutkan di sini “bagi umat Allah.”  

Apakah yang dimaksudkan umat Allah itu HANYA ORANG YAHUDI?  Kalau begitu kita ini apa?

TIDAK! Ingat, yang menulis ayat ini adalah Paulus, bukan Musa! Setelah tahun 34AD, “Umat Allah” adalah semua yang menerima Kristus sebagai Juruselamat mau dari darah apa pun, bangsa mana pun, tinggal di belahan dunia mana pun.

Berarti, menurut ayat ini,

  

SEMUA YANG MENGAKU UMAT ALLAH

PUNYA KEWAJIBAN MASUK PERHENTIAN

σαββατισμός [sabbatismos]

YA ATAU TIDAK? YA JELAS YA!

 

Jadi ada dua “perhentian”:

v   Perhentian yang berkaitan dengan keselamatan yaitu κατάπαυσις [katapausis]

v   Perhentian yang berkaitan dengan pemeliharaan Sabat Hari Ketujuh yaitu σαββατισμός [sabbatismos]

Kedua-duanya harus kita masuki.

 

 

Ayat 10,

4:10       Karena dia yang telah masuk ke perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari pekerjaannya sendiri, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.

 

Nah, di sini  kata “perhentian” adalah kata κατάπαυσις [katapausis], bukan kata σαββατισμός [sabbatismos]. Jadi ini tidak bicara tentang perhentian Sabat Hari Ketujuh, tetapi INI BICARA TENTANG BERHENTI DARI UPAYA MENDAPATKAN KESELAMATAN DENGAN USAHA SENDIRI.

Jadi kita yang sudah masuk ke perhentian Allah, kita berhenti dari pekerjaan (usaha) kita sendiri. Ini bicara tentang keselamatan, ini bukan bicara tentang pekerjaan duniawi kita. Jangan sampai ada yang mengira umat Tuhan semua tidak usah bekerja untuk mencari nafkah.

Berhenti dari pekerjaan kita dalam konteks keselamatan itu apa? Itu artinya kita menyadari bahwa KESELAMATAN ITU 100% PEMBERIAN ATAU ANUGERAH DARI ALLAH, bukan hasil perbuatan kita. Kita tidak bisa selamat dengan upaya kita sendiri. Kita jangan berharap bisa mendapatkan keselamatan dengan usaha kita sendiri karena itu berarti kita tidak masuk perhentian Kristus.

 

Bagaimana orang mengusahakan keselamatannya sendiri? Dengan amal, dengan berbuat baik, dengan berziarah ke tempat-tempat yang katanya kudus, dengan berpuasa, dengan berdoa panjang-panjang yang diulang-ulang, dengan segala ritual yang dianggap sakral, dengan menyiksa tubuhnya, dengan berbuat apa saja yang tujuannya untuk mendapatkan angka plus di mata Tuhan.

Orang Kristen harus bisa membedakan

(1) berbuat baik untuk mendapatkan keselamatan dengan

(2) berbuat baik sebagai buah dari keselamatannya.

ü    Yang pertama itu sia-sia,

karena manusia tidak  akan mendapatkan keselamatan melalui perbuatan baiknya sendiri. Keselamatan kita telah diselesaikan oleh Kristus. Kita tidak punya andil atau kontribusi dalamnya. Jadi kita tidak usah bekerja apa-apa untuk mengadakan keselamatan itu. Ayat 3 tadi berkata bahwa kita mendapatkannya dengan percaya, dengan iman.

ü    Yang kedua itu keharusan,

karena itu pertumbuhan dalam proses pengudusan kita. Ini yang namanya buah Roh.

 

 

Ayat 11,

4:11       Karena itu marilah kita bekerja keras untuk masuk perhentian itu, jangan sampai siapa pun jatuh mengikuti contoh ketidakpercayaan yang sama.

 

Sepertinya kontradiksi ya? Di ayat 10 dikatakan kita “harus berhenti dari pekerjaan kita sendiri”, sekarang di ayat 11 dikatakan kita “harus bekerja keras untuk masuk perhentian itu”. Jadi berhenti atau bekerja keras?

 

Nah, ada yang harus kita lakukan. Ingat di ayat 9 dikatakan bahwa “masih tersisa Sabat Hari Ketujuh” yang harus kita pelihara. Memelihara Sabat itu tidak mudah. Bagi yang sekolah dan bekerja, itu bisa menjadi masalah besar. Segala macam tantangan bisa muncul yang menghalangi kita untuk masuk perhentian Tuhan, bisa juga keluarga tidak setuju. Tapi di sini Paulus berkata supaya kita harus bisa melampaui semua rintangan, kita harus bekerja keras untuk datang kepada Sang Juruselamat yang sudah selesai mengerjakan keselamatan itu bagi kita. Kita tidak bisa bekerja apa pun untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Tapi kita harus bekerja keras untuk datang kepada Tuhan Yesus yang sudah selesai mengerjakan keselamatan itu bagi kita. Kalau kita tidak datang, maka kita tidak bisa menerima keselamatan yang sudah diselesaikan Tuhan Yesus.

 

Di sini juga dikatakan jangan sampai siapa pun jatuh mengikuti contoh ketidakpercayaan yang sama.”

Ketidakpercayaan siapa? Ketidakpercayaan orang Yahudi. Mereka tidak percaya bahwa keselamatan itu ada dalam Yesus. Mereka tidak percaya Yesus itulah Mesias. Mereka beranggapan mereka bisa menyelamatkan diri mereka sendiri dengan penurutan Hukum mereka. Mereka legalis. Mereka melakukan semua Hukum supaya layak masuk Surga. Mereka tidak punya iman. Dan ini yang membuat mereka gagal selamat.

Paulus di sini mengingatkan, kita jangan seperti orang Yahudi, yang ketat melakukan Hukum dengan tujuan layak mencapai Surga tapi tidak punya iman. Surga/keselamatan itu anugerah, tidak bisa kita beli dengan amal perbuatan kita.

Hanya Kristus yang bisa menyelamatkan kita. Kita tinggal masuk dalam perhentianNya, menerima keselamatan itu dengan iman. Kita tidak bisa berbuat apa pun untuk menyelamatkan diri sendiri. Tetapi setelah kita diselamatkan, ya jelas kita harus hidup sebagai orang yang sudah selamat, artinya kita tidak lagi berbuat segala macam dosa melanggar Hukum Tuhan.

 

Kitab Ibrani adalah kitab yang sulit. Itu melulu bicara tentang doktrin Pembenaran oleh iman yang adalah doktrin dasar Kekristenan. Apalagi yang menulis itu Paulus. Kalimatnya singkat-singkat, tapi isinya padat. Jadi kita harus mempelajarinya perlahan-lahan dan minta bantuan Tuhan supaya diberi pengertian. Setiap kali kita belajar Alkitab harus didahului dengan doa.

 

 

 

2013-06-22

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar